POJOKSATU.ID - Di tengah dunia yang serba pamer, muncul generasi yang justru memilih diam.

Bagi Generasi Z, kemewahan tak lagi soal tas bermerek besar atau logo yang mencolok di dada.

Mereka memilih tampil elegan tanpa perlu memberi tahu dunia berapa harganya.

Baca Juga: Pelantikan PPPK Paruh Waktu di Purbalingga Tertunda hingga Desember 2025

Inilah yang disebut “quiet luxury” tren yang diam-diam menantang budaya show off di media sosial.

Gaya yang sederhana, tapi mahal dalam rasa. Lembut dalam tampilan, tapi kuat dalam pesan.


Dari Media Sosial ke Lemari Pakaian

Selama bertahun-tahun, simbol kemewahan identik dengan logomania.

Baca Juga: Lulusan PPG 2025 Auto Senang! TPG Bulanan Siap Sambut Guru Baru, Tak Perlu Cemas Nunggu SKTP 3 Bulan

Semakin besar logo di pakaian, semakin tinggi gengsinya.

Namun kini, arah angin berbalik.

Generasi Z, yang lahir di tengah banjir konten visual, mulai lelah dengan pamer tanpa makna.

Baca Juga: Proyek Hilirisasi Rp600 Triliun Digencarkan Bahlil Pastikan 18 Proyek Siap Jalan 2026, Siap Kah Indonesia?

Mereka lebih memilih mengenakan sweater wol premium, jam tangan elegan tanpa logo, atau sepatu kulit handmade yang bertahan bertahun-tahun.

Bagi mereka, kualitas dan keaslian punya nilai lebih tinggi daripada sekadar pengakuan dari likes dan komentar.


Quiet Luxury

Tren ini menempatkan less is more sebagai filosofi utama.

Bahan berkualitas tinggi, warna netral seperti beige, abu-abu, hitam, atau putih, serta potongan klasik yang tak lekang waktu menjadi cirinya.

Tidak perlu berteriak untuk terlihat mewah.

Baca Juga: Kebakaran Rumah Hakim PN Medan Picu Sorotan, Seberapa Aman Penegak Hukum Kita?

Cukup biarkan tekstur, potongan, dan kenyamanan berbicara.


Kenapa Generasi Z Jatuh Hati pada Gaya Ini?

Ada tiga alasan besar di balik tren ini


1. Reaksi terhadap budaya pamer

Setelah bertahun-tahun hidup di dunia digital yang menilai dari penampilan, Generasi Z mencari makna baru di balik apa yang mereka pakai


2. Kesadaran lingkungan

Mereka mulai peduli dengan isu fast fashion dan limbah tekstil. Dengan membeli sedikit tapi berkualitas, mereka ikut menekan jejak karbon


3. Identitas diri

Gaya ini memberi ruang untuk menampilkan kepribadian bukan sekadar status. Barang yang dipilih menceritakan karakter, bukan saldo rekening.


Bukan Sekadar Tren, tapi Nilai Hidup

Quiet luxury kini berkembang menjadi simbol kedewasaan.

Baca Juga: Kebakaran Rumah Hakim PN Medan Picu Sorotan, Seberapa Aman Penegak Hukum Kita?

Ia menandai pergeseran dari gaya hidup konsumtif menuju apresiasi terhadap keaslian dan keberlanjutan.

Banyak anak muda mulai berinvestasi pada wardrobe kapsul lemari kecil berisi beberapa item terbaik yang bisa dipadupadankan.

Mereka rela menabung lebih lama untuk membeli satu barang yang tahan lama daripada lima barang yang cepat rusak.

Fenomena ini bahkan merambah ke dunia interior, kuliner, hingga perjalanan.

Baca Juga: Stop Hujat Pemimpin Ucap Prabowo Tegas Ingatkan Bangsa Hormati yang Pernah Berjasa

Kopi single origin, restoran kecil dengan bahan lokal premium, hingga liburan slow travel adalah bentuk lain dari gaya hidup “mewah tanpa pamer”.


Gaya Mewah yang Rendah Hati

Quiet luxury bukan soal berhemat, tapi tentang menghargai nilai.

Tentang mengenakan sesuatu karena kita suka bukan karena ingin dilihat orang lain.

Dan mungkin di sanalah letak kemewahan sejati.

Baca Juga: Stop Hujat Pemimpin Ucap Prabowo Tegas Ingatkan Bangsa Hormati yang Pernah Berjasa

Ketika kita bisa tampil tenang, percaya diri, tanpa perlu pembuktian.

Generasi Z telah mendefinisikan ulang arti kemewahan.

Bagi mereka, brand besar bukan lagi ukuran status, melainkan rasa cukup dan keaslian diri.

Quiet luxury bukan tren sesaat, tapi cerminan arah gaya hidup masa depan lebih sadar, lebih sederhana, tapi tetap elegan.***