POJOKSATU.id — Keinginan untuk menunaikan ibadah haji tidak lagi didominasi kalangan usia dewasa atau lanjut usia.

Dalam beberapa tahun terakhir, minat generasi muda atau Gen Z untuk mendaftar haji mulai meningkat.

Kesadaran akan panjangnya daftar tunggu keberangkatan membuat banyak anak muda memilih mengamankan antrean sejak dini agar memiliki peluang berangkat lebih cepat di masa depan.

Baca Juga: Daging Kambing Bau Prengus? Coba 9 Cara Ini agar Aroma Hilang dan Masakan Lebih Enak

Tidak sedikit Gen Z yang mulai mempertimbangkan membuka tabungan haji sejak usia muda.

Langkah ini dipilih karena masa tunggu haji reguler di Indonesia dikenal cukup panjang dan bisa mencapai puluhan tahun, tergantung wilayah tempat tinggal serta kuota yang tersedia.

Lantas, apabila Gen Z Indonesia mulai mendaftar haji pada tahun ini, kapan kemungkinan mereka bisa berangkat ke Tanah Suci?

Baca Juga: Cara Menyimpan Beras agar Awet dan Tidak Kutuan, Bisa Tahan Lama tanpa Bau Apek

Mengacu pada rata-rata masa tunggu haji reguler di Indonesia, calon jemaah yang melakukan pendaftaran pada 2026 diperkirakan baru memperoleh jadwal keberangkatan sekitar 26 sampai 27 tahun mendatang.

Dengan kata lain, mereka kemungkinan baru dapat berangkat sekitar tahun 2052 hingga 2053.

Jika dihitung berdasarkan usia, Gen Z yang saat ini berada di rentang umur 18 sampai 25 tahun kemungkinan baru memperoleh giliran berangkat ketika memasuki usia sekitar 40 hingga 50 tahun.

Baca Juga: Antusias Hadiri Milangkala Sanggar Seni Hibar, Warga Cibeber Berharap Kolaborasi dengan AQUA Bisa Berlanju

Meski waktu tunggu tersebut tergolong panjang, banyak masyarakat justru memilih mendaftar lebih awal.

Alasannya sederhana, semakin cepat seseorang mendaftarkan diri, semakin cepat pula memperoleh nomor porsi sebagai tanda antrean keberangkatan haji.

Namun, estimasi tersebut tidak bersifat mutlak.

Lama masa tunggu bisa berbeda di setiap daerah karena dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari domisili pendaftar, kuota haji nasional, hingga kemungkinan adanya tambahan kuota dari pemerintah Arab Saudi untuk Indonesia.

Baca Juga: Starting XI Pemain Top yang Bisa Pindah demi Liga Champions Musim Depan

Bagi Gen Z yang mulai tertarik mendaftar haji sejak sekarang, proses pendaftarannya sebenarnya cukup mudah asalkan seluruh syarat terpenuhi.

Tahap pertama yang perlu dilakukan adalah membuka rekening tabungan haji di Bank Penerima Setoran Biaya Perjalanan Ibadah Haji (BPS-BPIH).

Biasanya, layanan ini tersedia di sejumlah bank syariah yang telah ditunjuk pemerintah.

Saat membuka rekening, calon jemaah perlu menyiapkan dokumen identitas seperti KTP dan dokumen pendukung lain sesuai ketentuan bank.

Baca Juga: PSG vs Arsenal: Prediksi Susunan Pemain dan Duel Taktik Final Liga Champions

Setelah rekening tabungan haji aktif, calon jemaah perlu melakukan setoran awal sebesar sekitar Rp25 juta.

Dana tersebut bukan biaya penuh pelaksanaan ibadah haji, melainkan setoran awal agar nama calon jemaah masuk dalam sistem antrean nasional dan mendapatkan nomor porsi keberangkatan.

Selanjutnya, calon jemaah perlu melengkapi sejumlah dokumen administrasi sebagai persyaratan pendaftaran.

Dokumen yang umumnya diminta meliputi KTP elektronik, Kartu Keluarga (KK), akta lahir atau ijazah, buku nikah bagi yang sudah menikah, serta buku tabungan haji.

Baca Juga: Purbaya Samakan Dirinya Seperti Nabi Yusuf, Kayak Saya Rupanya Menteri Keuangan

Setelah seluruh syarat administrasi terpenuhi dan setoran awal dilakukan, calon jemaah harus mendatangi kantor Kementerian Agama kabupaten atau kota sesuai domisili.

Pada tahap ini, petugas akan melakukan verifikasi data, pengambilan foto, serta proses penerbitan nomor porsi haji.

Nomor porsi tersebut menjadi bagian penting dalam proses pendaftaran karena berfungsi sebagai penanda antrean keberangkatan.

Dari nomor itulah calon jemaah dapat mengetahui estimasi kapan giliran berhaji akan tiba.

Baca Juga: Jokowi Keliling Indonesia, Pengamat Sebut Mau Tunjukkan Basis Massanya Masih Besar

Setelah resmi terdaftar, estimasi tahun keberangkatan dapat dipantau melalui layanan resmi Kementerian Agama.

Meski harus menunggu cukup lama, banyak orang tetap memilih mendaftar sejak muda karena berharap masih berada dalam kondisi fisik yang prima saat waktu keberangkatan tiba.

Selain itu, menyiapkan dana sejak dini juga dianggap lebih ringan dibanding harus mengumpulkan biaya dalam waktu singkat di kemudian hari.***