POJOKSATU.id — Fenomena fatherless, atau ketidakhadiran peran ayah dalam pengasuhan baik secara fisik maupun psikologis, kini semakin menjadi perhatian.

Kondisi ini kerap muncul akibat perceraian, konflik rumah tangga, hingga kematian, dan berdampak serius terhadap perkembangan anak.

Menurut penelitian Yupi Anesti dan Mirna Nur Alia Abdullah yang dimuat dalam WISSEN: Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora (2024), fatherless bukan sekadar kehilangan sosok ayah, melainkan juga hilangnya pendampingan, teladan, serta rasa aman yang seharusnya diberikan.

Baca Juga: Masih Ingat Apa Itu Abolisi? Kasus Tom Lembong Bikin Kita Nostalgia Masa-masa Pelajaran PKN

Apa Itu Fatherless
Istilah fatherless mengacu pada kondisi ketika seorang anak tumbuh tanpa keterlibatan ayah, baik secara fisik maupun emosional.

Ketidakhadiran ayah tidak hanya berarti tidak tinggal serumah, tetapi juga dapat terjadi ketika ayah hadir secara fisik namun tidak aktif dalam pengasuhan.

Kehilangan figur ini membuat anak tidak merasakan keteladanan, bimbingan, serta kehangatan emosional yang seharusnya mereka dapatkan.

Baca Juga: Trump Ngetroll Tarif, Mata Uang Asia Tumbang Berjamaah

Anak yang mengalami fatherless seringkali merasa kehilangan arah dan kesulitan membangun kepercayaan diri.

Kondisi ini bisa berpengaruh pada bagaimana mereka menjalin relasi sosial, mengekspresikan emosi, bahkan menentukan cita-cita di masa depan.

Penyebab yang Sering Terjadi
Salah satu penyebab utama fatherless adalah perceraian.
Data Badan Pusat Statistik (2024) mencatat ada lebih dari 300 ribu kasus perceraian di Indonesia dalam setahun terakhir, angka yang menunjukkan besarnya potensi anak tumbuh tanpa figur ayah.

Baca Juga: 15 Contoh Kegiatan Motorik Kasar dan Halus Anak TK Usia 4–5 Tahun yang Seru dan Edukatif

Tidak hanya perceraian, kematian ayah, konflik rumah tangga yang membuat ayah menjauh, hingga pola kerja ayah yang terlalu sibuk juga dapat menimbulkan kondisi ini.

Selain faktor individual, sistem sosial yang masih kental dengan budaya patriarki juga menjadi pemicu.

Peran ayah sering dianggap hanya sebatas pencari nafkah, sementara pengasuhan anak sepenuhnya dibebankan pada ibu.
Akibatnya, keterlibatan emosional ayah menjadi sangat minim.

Baca Juga: 15 Contoh Kegiatan Motorik Kasar dan Halus Anak TK Usia 4–5 Tahun yang Seru dan Edukatif

Dampak bagi Anak
Ketidakhadiran ayah berdampak luas pada tumbuh kembang anak.

Mereka berisiko mengalami krisis identitas, kesepian, serta tekanan psikologis yang bisa memengaruhi prestasi akademik dan perilaku sosial.

Beberapa studi menunjukkan anak fatherless cenderung memiliki tingkat stres lebih tinggi dan rentan melakukan perilaku menyimpang sebagai bentuk pelarian.

Selain itu, anak yang tumbuh tanpa sosok ayah sering mengalami hambatan dalam mengembangkan keterampilan komunikasi.

Baca Juga: Capaian Pembelajaran PAUD 2025 Kini Berubah, Apa Tujuan dan Manfaatnya? Simak Penjelasan Ini!

Mereka bisa merasa minder, sulit percaya pada orang lain, bahkan kesulitan membangun hubungan yang sehat ketika dewasa.

Dampak bagi Keluarga
Fenomena fatherless tidak hanya dirasakan oleh anak, tetapi juga keluarga secara keseluruhan.

Ketidakhadiran ayah kerap menimbulkan ketidakseimbangan peran dalam rumah tangga.

Beban pengasuhan dan finansial yang bertumpu pada ibu bisa memicu kelelahan, konflik, dan bahkan memperburuk keharmonisan keluarga.

Baca Juga: Kronologi Oknum Kepsek SMA di Morotai Dilaporkan ke Polisi Diduga Gegara Lecehkan Siswa

Dalam perspektif teori struktural fungsional, keluarga adalah sistem yang saling bergantung satu sama lain.

Jika salah satu unsur, yakni ayah, tidak menjalankan perannya, maka keseimbangan dalam keluarga terganggu.

Akibatnya, kualitas komunikasi antaranggota keluarga menurun dan ikatan emosional menjadi renggang.

Baca Juga: Paragon Scholarship Program 2025, Beasiswa untuk Mahasiswa Aktif dan Berjiwa Pemimpin

Pentingnya Keterlibatan Ayah
Ayah sejatinya memiliki peran sebagai fasilitator, mediator, sekaligus motivator dalam kehidupan anak.

Sebagai fasilitator, ayah memberi dukungan berupa kebutuhan fisik dan fasilitas yang layak.

Sebagai mediator, ayah berfungsi sebagai penengah dan pembimbing saat anak menghadapi masalah.

Sebagai motivator, ayah memberi dorongan semangat agar anak berani mengejar mimpi.

Baca Juga: BIKIN BANGGA, UI Tempati Posisi Puncak Kampus Terbaik di Indonesia Versi Webometrics 2025, Simak 30 PTN Terfavorit di Sini

Kehadiran ayah yang aktif tidak hanya memperkuat ikatan emosional, tetapi juga membantu anak belajar tentang tanggung jawab, disiplin, dan kepercayaan diri.

Baca dan kirim komentar untuk artikel lainnya melalui apps kami:

Versi Android
Versi iOS
Channel Whatsapp
Fanpage Edugov

Karena itu, kesadaran akan pentingnya keterlibatan ayah perlu terus ditumbuhkan, baik di dalam keluarga maupun dalam lingkungan sosial yang lebih luas.***