POJOKSATU.id - Quiet Luxury atau old money kembali menjadi sorotan di dunia fashion 2025, tapi apakah gaya ini benar-benar sebuah fakta abadi atau hanya FOMO sesaat?
Quiet Luxury dalam istilah fashion, merujuk pada kemewahan yang ditunjukkan secara tenang dan elegan.
Tren ini menghindari logo besar atau branding mencolok, dan malah menekankan kualitas bahan, detail jahitan, serta potongan yang timeless.
Quiet luxury lebih dari sekadar gaya pakaian, ini adalah cara berpakaian yang menonjolkan keahlian (craftsmanship) dan kemewahan halus.
Baca Juga: Alvaro Kiano Dihabisi Ayah Tirinya, Ditemukan di Tenjo Bogor, Selama Ini Berkelit Diperiksa Polisi
Gaya ini diinterpretasikan sebagai effortless elegance yang minimalis, sederhana, namun tetap sangat berkelas.
Apa yang Membuat Quiet Luxury Kembali Populer di 2025
Di tahun 2025, quiet luxury bukan hanya sekadar tren fashion, tetapi juga cerminan gaya hidup yang makin diminati.
Peralihan ke tren ini didorong oleh keinginan konsumen modern untuk belanja lebih bijaksana , yakni mencari barang yang tahan lama dan memiliki nilai estetika abadi.
Baca Juga: Outfit Kerja Era Hybrid: Nyaman di Rumah, Rapi di Kantor, dan Tetap Instagramable
Di Indonesia, pengaruh gaya hidup quiet luxury semakin terasa, karena masyarakat semakin menghargai kesederhanaan namun tetap elegan.
Quiet luxury di 2025 merefleksikan keinginan akan keanggunan yang tenang dan berkelas.
Ciri Khas Quiet Luxury
Beberapa karakteristik utama quiet luxury membuatnya berbeda dari tren glamor atau logomania, antara lain:
Baca Juga: Lembang Terancam Polusi Cahaya, Bosscha Dorong Regulasi Penataan Penerangan
1. Bahan Berkualitas Tinggi
Gaya ini sangat mengutamakan bahan premium seperti wol, sutra, kasmir, dan kulit. Bahan-bahan ini tidak hanya terasa mewah, tetapi juga tahan lama.
2. Desain Minim dan Timeless
Potongan pakaian cenderung sederhana, tanpa detail berlebihan, tetapi tetap elegan. Warna-warna netral seperti beige, abu-abu, hitam, krem, dan navy menjadi palet utama.
3. Detail Halus dan Craftsmanship
Diam-diam, kualitas jahitan dan konstruksi barang menjadi poin penting. Desain mewah hadir melalui detail kecil yang terasa, bukan sekadar menjadi pajangan logo.
Baca Juga: Gaya Minimalis Lagi Naik Daun, Ini 7 Trik Tampil dengan Clean Outfits Tanpa Terlihat Kosong!
4. Sustainability dan Investasi Jangka Panjang
Karena barangnya awet dan desainnya timeless, quiet luxury sering dikaitkan dengan gaya hidup berkelanjutan. Pendekatan ini juga menarik bagi generasi muda yang lebih sadar akan dampak konsumsi.
Quiet Luxury di Indonesia, Tren Lokal dan Adaptasi
Di Indonesia, tren quiet luxury mulai banyak diadopsi oleh desainer lokal dan kalangan old money.
Rumah mode lokal sudah merespons gelombang ini dengan koleksi yang menonjolkan elegansi tanpa pamer logo.
Gaya ini semakin populer di kalangan mereka yang ingin tampil mewah tanpa kesan berlebihan.
Baca Juga: Digerebek Tengah Malam, 250 Ton Beras Ilegal Masuk dari Thailand Diamankan dari Gudang MSG di Sabang
Gaya ini di Indonesia pun menjadi simbol status yang tidak perlu diumumkan secara lantang bahwa fashion quiet luxury lebih diapresiasi.
Kritik dan Risiko, Apakah Ini Hanya FOMO?
Meski populer, tren quiet luxury tidak luput dari kritik. Beberapa pihak mempertanyakan apakah ini benar-benar kemewahan atau sekadar FOMO (fear of missing out).
Tren ini bisa mulai menurun dan digantikan tren maksimalis.
Salah satu kritik utama adalah bahwa harga tinggi untuk item tanpa logo bisa membuat gaya ini terasa eksklusif secara finansial.
Baca Juga: Tragis! Mortir Diduga Aktif Meledak Saat Dipotong, Pemulung Tewas Seketika Di Babelan Bekasi
Selain itu, tren ini bisa disalahartikan oleh produsen sebagai alasan menaikkan harga tanpa menambah nilai kualitas nyata.
Bagi sebagian orang, mengadopsi quiet luxury bisa terasa tidak inklusif karena tidak semua konsumen mampu membeli bahan premium tersebut.
Strategi Mengadopsi Quiet Luxury Tanpa Over Spend
Tidak perlu dompet jumbo untuk menjalani gaya quiet luxury, penggemar luxury fashion perlu tips berikut untuk menjaga budget tetap aman, antara lain:
Baca Juga: Batalyon Ternak
1. Investasi pada beberapa item kunci, pilih satu atau dua potong berkualitas tinggi (misalnya blazer wool atau rok linen) yang bisa dipakai lama.
2. Belanja second hand, mencari barang desainer bekas bisa menjadi cara pintar agar mendapat bahan mewah dengan harga lebih terjangkau.
3. Pilih merek lokal, banyak label lokal di Indonesia mulai membuat koleksi elegan berkualitas di bawah prinsip quiet luxury.
Baca Juga: 250 Ton Beras Ilegal Nyelonong Masuk RI! Izin Belum Keluar, Barang Udah Mendarat, Kok Bisa Lolos?
4. Fokus pada warna netral, warna soft netral lebih mudah dipadupadankan, sehingga cukup membeli beberapa potong tapi bisa untuk banyak kombinasi.
5. Rawat dengan baik, merawat pakaian dengan benar agar awet: cuci sesuai instruksi, simpan di tempat sejuk, dan jangan pakai berulang tanpa istirahat.
Quiet Luxury di 2025 bukan sekadar tren fashion, yakni mencerminkan filosofi kemewahan yang lembut, elegan, dan sadar kualitas.
Baca Juga: Lagi Gerinda Besi Ternyata Mortir, Eh Meledak! Pemulung di Bekasi Tewas Kena Mortir Aktif
Gaya ini memberikan alternatif mewah tanpa perlu pamer logo, dengan fokus pada craftsmanship, bahan premium, dan desain yang tahan waktu.
Di Indonesia, tren ini semakin terasa di kalangan yang menghargai keanggunan tersembunyi dan nilai jangka panjang.
Namun, penting untuk tetap realistis bahwa quiet luxury bisa jadi investasi, tetapi bukan panggilan untuk konsumsi berlebihan.
Baca Juga: Pemuda yang Ngaku Pakai Mobil BB Polsek Minta Maaf Telah Cemarkan Nama Baik Polri
Bagi mereka yang tertarik, mengadopsi gaya ini dengan bijak dan cerdas bisa menjadi cara elegan untuk menyeimbangkan estetika dan nilai.***




