POJOKSATU.id - Es Cendol adalah salah satu minuman tradisional yang eksistensinya tak pernah tergeser zaman.

Saat Ramadan tiba, ia hampir selalu menjadi “bintang” di meja berbuka kaum muslimin.

Di tengah kemunculan es campur sultan, sop buah, hingga es kuwut kekinian, cendol tetap punya tempat istimewa di hati warga Bandung.

Minuman khas tanah Pasundan ini berbahan dasar tepung sagu, gula aren, santan kelapa, dan daun suji.

Perpaduan rasa manis legit dan gurih santan yang kental menjadikannya favorit lintas generasi.

Di Kota Kembang, ada beberapa nama yang sudah melegenda.

Baca Juga: Viral Momen Kocak Seorang Anak Polos yang Beragama Kristen Berangkat Tarawih Bersama Teman Muslimnya!

Cendol Elizabeth, Legenda Sejak 1970-an
Jika sore hari menjelang buka puasa melintas di kawasan Jalan Oto Iskandar Dinata (Otista), suasana kerap tersendat.

Di pinggir jalan, roda gerobak dan jongko berderet, para pedagang asongan berseru menawarkan satu nama yang sudah akrab di telinga warga: Es Cendol Elizabeth.

Kisahnya bermula pada 1972. Haji Rohman yang masih remaja harus menjadi tulang punggung keluarga setelah sang ayah pergi entah ke mana.

Ia mengikuti jejak pamannya berjualan cendol di Bandung, berpindah-pindah lokasi hingga akhirnya menemukan tempat tetap di sekitar Otista.

Di sana, ia bertemu Eli, pemilik Toko Elizabeth. Eli kerap menitipkan tas dagangannya kepada Rohman.

Baca Juga: Menu Nasi Cikur untuk Buka Puasa, Harum Kencur Bikin Nafsu Makan Bangkit

Pelanggan yang membeli tas sering meminta bonus cendol. Dari situlah nama “Elizabeth” melekat pada cendol jualannya.

Tanpa strategi branding rumit, nama itu justru melesat dan dikenal luas.

Perjalanan bisnisnya tak selalu mulus. Banyak pedagang lain memakai nama Elizabeth tanpa izin.

Namun Haji Rohman memilih bijak. Baginya, rezeki sudah ada yang mengatur.

Prinsip itu membuat usaha cendolnya bertahan puluhan tahun, bahkan berkembang hingga memiliki empat cabang di Bandung di antaranya Jalan Inhoftank dan Otista serta cabang di Tasikmalaya dan Majalaya.

Cendol Gentong Alkateri, Putih dan Disimpan di Gentong
Berbeda lagi dengan Es Cendol Gentong Alkateri yang berada di Jalan Alkateri.

Baca Juga: Aksi Pria Angkut Kardus Setinggi Gunung Pakai Motor Matic, Netizen Sebut Ini Mah Pick Up juga Kalah!

Ciri khasnya terletak pada warna cendol yang putih dan cara penyimpanannya di dalam gentong.

Asep Nurdin telah berjualan sejak 1994. Setiap hari, hingga 200 gelas bisa ludes terjual.

Keunggulan lainnya ada pada gula aren asli yang tetap dipertahankan sebagai pemanis.

Cendol yang sudah bercampur santan dan es batu dimasukkan ke dalam gentong yang dilapisi plastik.

Menurut Asep, gentong membuat es lebih tahan dingin karena es batu tak cepat mencair.

Gerobaknya mudah ditemukan, berdampingan dengan Lotek Alkateri yang juga legendaris.

Baca Juga: pdate Terbaru: Status Aplikasi EMIS-GTK dan Cara Pencairan TPG

Cendol Katapang, Raja Saat Ramadan
Jika bergeser ke Kabupaten Bandung, ada Es Cendol Katapang yang selalu diserbu saat Ramadan.

Lokasinya di Jalan Raya Kopo-Katapang KM 12,5, dekat lampu merah Katapang.

Setiap bulan puasa, produksinya meningkat berkali lipat. Bahkan menggunakan mobil bak untuk mengangkut persediaan.

Antrean mengular, pembeli lebih banyak memilih dibungkus dalam paket kecil, sedang, hingga besar.

Jangan datang terlalu sore, sebab sebelum magrib sering kali sudah habis.

Cita rasanya dikenal gurih dengan santan kental. Bahkan tanpa gula dan santan pun, cendolnya tetap nikmat.

Menariknya, sang pemilik, Pa Ahmad, mengakui usahanya terinspirasi dari kesuksesan Cendol Elizabeth Tegallega.

Baca Juga: Perbaikan Rekening Tunjangan TPG untuk Penerima Baru Khusus ASN Dilakukan Disini!

Tak Sekadar Minuman, tapi Identitas
Es cendol bukan sekadar pelepas dahaga. Ia adalah bagian dari identitas kuliner Sunda yang bertahan di tengah gempuran minuman modern.

Dari Otista, Alkateri, hingga Katapang, setiap gerobak membawa cerita perjuangan, kejujuran, dan ketekunan.

Di saat Ramadan, ketika azan magrib berkumandang dan gelas pertama diteguk, ada rasa manis yang lebih dari sekadar gula aren.

Ada nostalgia, ada tradisi, dan ada jejak sejarah kota yang terus hidup dalam segelas cendol sederhana.***