POJOKSATU.id - Anjuran doa hari ke 13 bulan Ramadhan dalam usaha memperbaiki diri di bulan suci ini adalah memohon kepada Allah SWT agar terhindar dari perbuatan keji.
Allah SWT memberikan peringatan serius dalam Al-Quran tentang perbuatan keji, baik secara terang-terangan atau sembunyi-sembunyi. Sebab itu, kita berupaya memohon bimbingan Allah SWT dalam doa hari ke 13 bulan Ramadhan agar membersihkan diri dari perbuatan itu.
Anjuran doa hari ke 13 bulan Ramadhan mengajak kita memahami dosanya perbuatan keji, yang dalam bahasa arab disebut Fahisyah atau jamaknya, Fahsya’ yang secara umum memiliki makna yakni tindakan yang keji yang keluar dari ketentuan yang Allah berikan. Ia keluar dari batasan dan koridor setiap perkara (At-Tabari, 2000, hlm. 218).
Kita patut meminta kepada Allah SWT dalam doa hari ke 13 bulan Ramadhan agar disucikan dari perbuatan tersebut, karena selain dalam hubungan manusia, disebutkan juga ada perbuatan keji kepada Allah, seperti syirik, menyekutukan Allah, dan kepercayaan kepada nenek moyang.
Baca Juga: Ini Dia Tata Cara Shalat Malam dan Witir yang Dilakukan Nabi Muhammad Selama Bulan Suci Ramadhan
Sedangkan perbuatan keji kepada sesama manusia, seperti berzina, kikir, dhalim, menghilangkan kehormatan seseorang, menyebarkan berita palsu, berkata kasar, dan bertindak terhadap sesuatu yang bertentangan dengan nilai-nilai moral serta agama. Hal ini yang harus kita bersihkan dengan memohon pertolongan kepada Allah SWT dalam anjuran doa hari ke 13 Bulan Ramadhan berikut ini.
اَللَّهُمَّ طَهِّرْنِيْ فِيْهِ مِنَ الدَّنَسِ وَ الْأَقْذَارِ وَ صَبِّرْنِيْ فِيْهِ عَلَى كَائِنَاتِ الْأَقْدَارِ وَ وَفِّقْنِيْ فِيْهِ لِلتُّقَى وَ صُحْبَةِ الأَبْرَارِ بِعَوْنِكَ يَا قُرَّةَ عَيْنِ الْمَسَاكِيْنِ
Allâhumma thahhirnî fîhi minaddanasi wal aqdzâr wa sabbirnî fîhi ‘ala kâinâtil aqdâri wawaffiqnî fîhi littuqâ wa suhbatil abrâr bi’aunika yâ qurrata ‘ainil masâkîn
Artinya : Ya Allah! Mohon sucikanlah diri kami di bulan ini dari segala nista dan perbuatan keji. Berilah aku kesabaran atas apa yang telah Engkau tetapkan. Anugerahkan kepada kami ketakwaan dan persahabatan dengan orang-orang yang baik dengan pertolongan-Mu, Wahai cahaya hati orang-orang yang miskin.
Baca Juga: Kisah Ibnu Mas’ud Berhemat dalam Memberikan Nasihat, Panjangkan Shalat Persingkat Khutbah
Secara tidak langsung, tentu kita juga diingatkan agar menghindari perbuatan keji dengan memahami makna shalat yang sesungguhnya, yaitu berdasarkan firman Allah SWT pada QS. Al-Ankabut:45
اتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ وَأَقِمِ الصَّلَاةَ ۖ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ ۗ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ
utlu mâ ûḫiya ilaika minal-kitâbi wa aqimish-shalâh, innash-shalâta tan-hâ ‘anil-faḫsyâ'i wal-mungkar, waladzikrullâhi akbar, wallâhu ya‘lamu mâ tashna‘ûn
Yang artinya "Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan." (QS. Al-Ankabut:45)
Ayat tersebut sangatlah jelas, bahwa orang yang mendirikan shalat akan jauh dari perbuatan keji dan munkar.
Keji dalam arti perbuatan atau kejahatan yang menimbulkan aib besar, sedangkan menurut istilah, keji ialah suatu perbuatan yang melanggar susila.
Adapun kata munkar dapat diartikan sebagai sesuatu yang ditolak, tidak diakui, tidak diperbolehkan karena mengingkarinya, disebabkan bertentangan dengan fitrah dan maslahah.
Al-Quran menekankan kepada Nabi dan kaum muslimin agar terus menerus untuk menyeru kepada perbuatan yang maruf dan mencegah yang munkar. ***




