POJOKSATU.ID - Cuaca ekstrem yang terjadi di berbagai wilayah Indonesia selama Ramadan menjadi tantangan tersendiri bagi umat Muslim yang menjalankan ibadah puasa.

Suhu panas terik pada siang hari, disertai perubahan cuaca mendadak seperti hujan deras dan angin kencang, membuat kondisi tubuh lebih mudah lelah dan rentan mengalami gangguan kesehatan.

Saat berpuasa, tubuh tidak mendapatkan asupan makanan dan minuman selama kurang lebih 12 hingga 14 jam.

Dalam kondisi normal, kebutuhan cairan orang dewasa sekitar 2 liter atau setara 8 gelas per hari.

Baca Juga: Pertamina Regional JBB Investigasi Dugaan Masalah Pertalite di Bekasi, SPBU Buka Posko Pengaduan

Ketika suhu udara meningkat, tubuh mengeluarkan lebih banyak cairan melalui keringat, sehingga risiko dehidrasi pun semakin tinggi.

Risiko Dehidrasi Saat Puasa di Cuaca Panas

Dehidrasi menjadi salah satu risiko utama saat menjalankan puasa di tengah cuaca panas ekstrem.

Tanda-tanda dehidrasi ringan antara lain rasa haus berlebihan, bibir dan kulit kering, tubuh lemas, hingga sakit kepala. Kondisi ini bisa mengganggu konsentrasi dan produktivitas harian.

Jika tidak segera diatasi, dehidrasi dapat berkembang menjadi lebih serius dengan gejala seperti pusing berat, jantung berdebar, bahkan pingsan.

Baca Juga: THR Guru 2026 Sudah Dianggarkan Rp55 Triliun, Tapi Belum Ada Pengumuman Resmi, Ini Bedanya 'Anggaran Siap' dan 'Peraturan Terbit'

Oleh karena itu, menjaga keseimbangan cairan tubuh menjadi hal yang sangat penting selama Ramadan.

Pentingnya Memperbanyak Minum Air Putih

Memperbanyak konsumsi air putih saat sahur dan berbuka adalah langkah sederhana namun efektif untuk mencegah dehidrasi.

Pola minum 2-4-2 dapat diterapkan agar kebutuhan cairan tetap terpenuhi.

Dua gelas saat berbuka, empat gelas di malam hari, dan dua gelas saat sahur bisa membantu menjaga hidrasi tubuh secara optimal.

Air putih lebih dianjurkan dibandingkan minuman manis berlebihan atau berkafein.

Minuman berkafein seperti kopi dan teh bersifat diuretik yang dapat memicu peningkatan frekuensi buang air kecil, sehingga tubuh lebih cepat kehilangan cairan.

Konsumsi Buah dan Makanan Berkuah

Selain air putih, asupan cairan juga bisa diperoleh dari buah-buahan yang kaya kandungan air seperti semangka, melon, jeruk, dan timun.

Baca Juga: Geram! Guru Semprot Dapur MBG Diduga Sajikan Makanan Tak Layak: Itu Duit Rakyat, Jangan Main-main

Mengonsumsi buah saat berbuka dapat membantu menggantikan cairan tubuh yang hilang selama seharian berpuasa.

Makanan berkuah seperti sup atau sayur bening saat sahur juga bisa menjadi pilihan tepat.

Kandungan cairannya membantu tubuh tetap terhidrasi lebih lama saat menjalani puasa di tengah cuaca panas.

Batasi Aktivitas Berat di Siang Hari

Cuaca panas ekstrem membuat tubuh bekerja lebih keras untuk menjaga suhu tetap stabil.

Oleh karena itu, sebaiknya kurangi aktivitas fisik berat di luar ruangan pada siang hari.

Jika terpaksa beraktivitas di luar, gunakan pakaian yang longgar, menyerap keringat, dan hindari paparan sinar matahari langsung terlalu lama.

Baca Juga: Gaji Guru PPPK Paruh Waktu Terancam! Dompu Kekurangan Rp6,4 Miliar, Dana BOS Tak Bisa Dipakai Bayar ASN

Mengatur pola istirahat yang cukup juga membantu tubuh tetap bugar selama Ramadan.

Jaga Kesehatan Agar Ibadah Tetap Lancar

Ramadan adalah momen untuk meningkatkan kualitas ibadah.

Jangan sampai kondisi tubuh yang lemas akibat kurang cairan justru mengganggu kekhusyukan berpuasa.

Dengan disiplin memenuhi kebutuhan air putih, mengonsumsi makanan bergizi seimbang, serta mengatur aktivitas harian, puasa tetap bisa dijalankan dengan lancar meski cuaca sedang tidak bersahabat.

Biasakan minum cukup air saat sahur dan berbuka, jangan menunggu rasa haus berlebihan.

Dengan tubuh yang terhidrasi dengan baik, ibadah pun dapat dijalani dengan lebih nyaman dan optimal.***