POJOKSATU.id - ChatGPT salah satu fitur teknologi yang sedang tren di tahun 2023, apakah terancam bangkrut?

ChatGPT adalah model bahasa buatan yang dikembangkan oleh OpenAI.

Model ini berdasarkan arsitektur GPT (Generative Pre-trained Transformer), khususnya GPT-3.5 dalam hal ini.

GPT-3.5 adalah salah satu iterasi terbaru dari serangkaian model GPT yang semakin besar dan canggih.

Baca Juga: Mengenal Transformasi Digital Chat GPT yang Dikhwatirkan Bisa Menyuburkan Berita Hoax

ChatGPT dirancang untuk menghasilkan teks yang terlihat seperti tulisan manusia.

Ia memiliki kemampuan untuk memahami dan menghasilkan teks dalam berbagai bahasa dan gaya, serta dapat memahami konteks dan memberikan respons yang relevan.

Ada beberapa alasan yang menyebabkan ChatGPT diprediksi akan mengalami kebangkrutan.

Salah satunya adalah biaya operasional ChatGPT yang cukup tinggi, hingga ada beberapa perbedaan pandangan di perusahaan.

OpenAI diyakini mengeluarkan sekitar 700.000 dollar AS (sekitar Rp 10,7 miliar) per harinya hanya untuk menjalankan satu layanan, yakni chatbot AI ChatGPT.

Baca Juga: 29 Media AMSI Siap Adopsi Trustworthy News Indicators Jawab Tantangan Teknologi AI

Namun angka tersebut belum termasuk biaya untuk membeli Unit Pengolah Grafis yang digunakan untuk memastikan agar ChatGPT berjalan dengan lancar.

OpenAI juga berusaha menargetkan keuntungan USD 200 juta di tahun 2023 dan cukup ambisius mencapai USD 1 miliar di tahun 2024.

Tapi di saat yang sama, perusahaan terus mengalami kerugian bahkan sudah menggelontorkan pengeluaran mencapai USD 540 juta sejak awal pengembangan chatbot ini.

Perbedaan Pandangan

Adanya perbedaan di dalam perusahaan juga disebut-sebut menjadi alasan lain ChatGPT berada di ambang kebangkrutan.

Saat ini, OpenAI sedang mencari cara untuk memonetisasi model bahasa GPT-3.5 dan GPT-4.

Baca Juga: Mengenal Artificial Intelligence atau AI yang Kini Digadang Sebagai Masa Depan Manusia

Hal ini menandakan bahwa OpenAI secara bisnis ingin mencapai profitabilitas alias membukukan keuntungan.

Namun, hal ini terlihat berbeda dengan Sam Altman. Pria yang merupakan salah satu pendiri dan CEO OpenAI itu disebut tidak memprioritaskan keuntungan.

Dilansir dari kompas.com Sam Altman disebut lebih fokus mencapai superintelligence Artificial general intelligence (AGI), atau sederhananya teknologi AI super yang bisa melampaui pikiran manusia.

Tentunya hal tersebut menjadi sebuah tantangan yang harus segera diselesaikan oleh OpenAI agar tidak berada di ambang kekhawatiran.***