POJOKSATU.id - Di zaman yang serba cepat ini, sosial media telah menjadi elemen krusial dalam kehidupan kita. Baik individu maupun perusahaan besar, semua memanfaatkan sosial media untuk berbagai tujuan, termasuk promosi, branding, membangun opini, dan menyebarkan agenda tertentu. Dalam hitungan detik, apa pun bisa dibagikan dan menjangkau siapa saja di mana saja.

Bukan hanya individu yang mengambil manfaatnya, bahkan perusahaan besar, UMKM, dan lembaga pemerintahan pun sangat bergantung pada sosial media untuk mendukung kegiatan mereka.

Dengan biaya yang lebih rendah dan jangkauan yang luas, sosial media terlihat seperti solusi ideal untuk kebutuhan komunikasi saat ini.

Namun, muncul satu pertanyaan penting apakah media tradisional seperti televisi, radio, dan situs berita online masih memiliki relevansi. Sebelum sosial media menjadi populer, media tradisional memegang posisi dominan.

Baca Juga : Jejak Digital Gubernur KDM Berbincang dengan Anaknya Maula Akbar Terkait Pesta Rakyat Garut

Perusahaan-perusahaan besar bersedia mengeluarkan ratusan juta rupiah untuk iklan di televisi dan radio. Media cetak serta media online menjadi sumber utama informasi, melalui proses yang panjang dengan standar kualitas yang tinggi.

Kini, banyak orang beralih ke sosial media. Dengan menjadi viral di TikTok atau Instagram, sebuah informasi dapat langsung menyebar dengan cepat.

Generasi muda-terutama Gen Z-cenderung lebih suka mengonsumsi berita lewat feed Instagram atau menonton video pendek di TikTok, alih-alih enggan mengunjungi situs berita untuk membaca artikel yang panjang.

Fenomena ini menarik perhatian banyak pengamat komunikasi. Fiqih Akhdiyatu Salam, penulis Edukasi Multi-Isu Berbasis Komunikasi yang lebih dikenal dengan nama Ucil, memberikan pandangannya.

Ia percaya bahwa perkembangan ini harus ditanggapi dengan bijaksana, baik dari sudut pandang teknologi maupun etika dan tanggung jawab sosial.

“Baik media sosial maupun media tradisional harus tetap mematuhi etika jurnalistik. Mereka perlu membangun kepercayaan publik dan mengutamakan kepentingan bersama,” jelas Fiqih Akhdiyatu Salam, yang akrab dipanggil Ucil.

Baca Juga : ITS Buka Beasiswa Pascasarjana 2025, Ini Syarat dan Jadwal Seleksinya

Ia berpendapat bahwa hal ini sangat penting karena terlihat bahwa generasi muda lebih cenderung percaya akan informasi yang beredar di sosial media tanpa melakukan verifikasi.

“Apakah tidak ada kekhawatiran jika generasi muda lebih percaya berita dari sosial media ketimbang media tradisional di masa depan? ” tanyanya.

Ini adalah pertanyaan reflektif yang perlu kita renungkan bersama.

Fiqih Ucil, menambahkan, sehebat apa pun sosial media, mereka tidak memiliki proses kurasi seperti yang dimiliki media tradisional.

Tanpa adanya editor yang memilih berita yang layak tayang dan berita yang perlu ditinjau lagi, tidak ada redaksi yang mempertimbangkan dampak dari suatu informasi sebelum disebarkan. Akibatnya, informasi yang beredar seringkali hanya mempresentasikan satu perspektif, dan terkadang sangat terpengaruh oleh framing tertentu atau opini sepihak.

Di sini, media tradisional masih memiliki peran yang penting. Portal berita, televisi, dan radio beroperasi dengan standar verifikasi, pengecekan fakta, dan penyuntingan yang ketat.

Berita yang dipublikasikan mengalami proses panjang untuk memastikan keseimbangan, memberikan ruang untuk beragam sudut pandang, dan tetap berpegang pada prinsip akurasi.

“Media sosial tidak dapat sepenuhnya menggantikan media tradisional,” tegas Ucil.

“Karena media tradisional beroperasi dengan prinsip jurnalistik yang jelas, sedangkan media sosial sering kali hanya mengutamakan kecepatan dan perspektif tertentu," tambah Ucil.

Pandangan Ucil ini mengingatkan kita bahwa bukan tentang memilih salah satu, melainkan tentang bagaimana memanfaatkan keduanya secara bijak. Sosial media bisa menjadi sumber informasi tercepat, tetapi untuk mendapatkan gambaran yang lengkap dan dapat dipercaya, kita tetap perlu bergantung pada media tradisional.

Di zaman sekarang yang penuh dengan informasi, sebagai pembaca, kita juga memiliki tanggung jawab: memeriksa kebenaran, mencari sumber lain, dan tidak langsung percaya pada apa yang kita lihat di layar.

Karena pada akhirnya, informasi yang akurat adalah dasar untuk membuat keputusan dan memegang pandangan yang tepat.

Oleh karena itu, media dengan standar etika tetap diperlukan-baik hari ini, besok, maupun di masa depan.***