POJOKSATU.id - Beredar di sebaran TikTok dan Whatsapp bahwa ada wabah dari nyamuk Wolbachia.

Nyamuk tersebut diklaim dikendalikan oleh sistem digital dan digunakan untuk mengurangi kepadatan penduduk.

Berdasarkan sebaran tersebut, mulai 1 Desember 2023, seluruh Indonesia akan divaksin untuk mengurangi kepadatan penduduk. Vaksin ini menyebabkan kelumpuhan kaki, kelumpuhan otak, dan pembesaran kepala pada bayi (hydrosepalus).

Masyarakat diharapkan menolak vaksin tersebut setelah WHO (World Health Organization) membuang 240 juta nyamuk di Bali.

Baca Juga: HOAKS! Inovasi Wolbachia Untuk Pengendalian Wabah DBD dan Misi Bill Gates Sebagai Bapak LGBT Sedunia, Cek Faktanya!

Sebaran tersebut juga menyatakan bahwa Amerika Serikat menginginkan bangsa Indonesia punah.

Apakah kabar tersebut benar? Yuk simak faktanya!

Dilansir dari Kominfo dan kompas.com, Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kementerian Kesehatan, Siti Nadia Tarmizi, mengungkapkan bahwa nyamuk Wolbachia tidak memiliki chip.

Wolbachia merupakan bakteri simbiotik yang secara alami ada pada hampir 70 persen spesies serangga di dunia, termasuk nyamuk.

Bahkan, Kementerian Kesehatan menggunakan teknologi Wolbachia untuk menurunkan penyebaran Demam Berdarah Dengue (DBD).

Teknologi ini dapat membunuh virus Dengue sehingga tidak masuk ke tubuh manusia.

Baca Juga: Usulan Bill Gates untuk Pekerjaan 3 Hari dalam Seminggu dengan Kontribusi AI, Ini Penjelasannya!

Bisa disimpulkan bahwa Wolbachia tidak berbahaya bagi manusia.

Selain itu, belum ditemukan kasus kelumpuhan kaki, kelumpuhan otak, dan pembesaran kepala pada bayi (hydrosepalus) akibat pemberian vaksin.

Permasalahan kepadatan penduduk juga bukan diselesaikan dengan pemberian program vaksin, tetapi melalu program KB (Keluarga Berencana).

Oleh karena itu, kabar yang beredar di TikTok dan WhatsApp mengenai nyamuk Wolbachia dengan sistem digital untuk mengurangi kepadatan penduduk adalah tidak benar.***