POJOKSATU.id - Ibadah kurban merupakan salah satu amalan penting dalam Islam yang dilakukan setiap Hari Raya Idul Adha. 

Namun dalam pelaksanaannya, ibadah kurban bukan hanya sebatas menyembelih hewan semata. 

Ada aturan syariat dan adab yang perlu diperhatikan, termasuk dalam cara pembagian daging kurban.

Masih banyak masyarakat yang menganggap pembagian daging kurban hanya soal teknis distribusi. 

Padahal, Islam telah mengatur bagaimana daging kurban dibagikan agar ibadah tersebut benar-benar bernilai pahala dan membawa manfaat sosial yang luas.

Baca Juga: Pengertian, Syarat, Sunnah, dan Ketentuan Menjadi Shohibul Qurban, Sebaiknya Menyembelih Hewan Kurbannya Sendiri

Kesalahan dalam pembagian daging kurban bisa membuat tujuan ibadah menjadi berkurang. Bahkan dalam kondisi tertentu, pembagian yang tidak sesuai syariat dapat menyalahi ketentuan agama.

Karena itu, memahami tata cara pembagian daging kurban menjadi hal penting bagi setiap muslim, terutama shohibul qurban dan panitia penyelenggara kurban.

Makna dan Tujuan Ibadah Kurban dalam Islam

Kurban berasal dari kata “qarraba” yang berarti mendekatkan diri. 

Dalam konteks ibadah, kurban adalah bentuk pendekatan diri kepada Allah SWT dengan menyembelih hewan tertentu pada tanggal 10 hingga 13 Dzulhijjah.

Baca Juga: Naskah Pidato Sambutan Hari Kebangkitan Nasional 2026 Resmi Komdigi untuk Amanat Upacara, Lengkap Link Unduh

Ibadah ini bukan sekadar ritual tahunan, melainkan simbol ketaatan dan pengorbanan seorang hamba kepada Allah SWT.

Allah SWT berfirman dalam QS Al-Hajj ayat 37:

“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya.”

Ayat tersebut menjelaskan bahwa inti dari ibadah kurban bukan terletak pada banyaknya daging atau mahalnya hewan yang disembelih, melainkan ketakwaan dan keikhlasan orang yang melaksanakannya.

Karena itu, cara pembagian daging kurban juga harus dilandasi niat ibadah dan kepedulian sosial, bukan sekadar menggugurkan kewajiban.

Baca Juga: Sukses Besar! Drama Terbaru Park Ji Hoon 'The Legend of Kitchen Soldier' Raih Rating Premiere Tertinggi di tvN

Hikmah Sosial dalam Pembagian Daging Kurban

Selain sebagai bentuk ibadah kepada Allah SWT, kurban juga memiliki nilai sosial yang sangat besar.

Melalui pembagian daging kurban, umat Islam diajarkan untuk berbagi kebahagiaan dengan sesama, terutama kepada masyarakat kurang mampu yang mungkin jarang menikmati daging dalam kehidupan sehari-hari.

Momen Iduladha menjadi pengingat bahwa rezeki yang dimiliki seseorang juga memiliki hak untuk dibagikan kepada orang lain.

Karena itu, pembagian daging kurban harus dilakukan secara adil, amanah, dan mengutamakan mereka yang benar-benar membutuhkan.

Baca Juga: Josepha Alexandra Bakal Dijadikan Duta LCC MPR RI, MPR Minta Maaf ke Publik

Ketentuan Syariat dalam Pembagian Daging Kurban

Dalam Islam, pembagian daging kurban memiliki aturan yang cukup jelas. Para ulama menjelaskan bahwa daging kurban dianjurkan dibagi menjadi tiga bagian.

Sepertiga untuk Shohibul Qurban

Pemilik hewan kurban diperbolehkan mengambil sebagian daging untuk dikonsumsi bersama keluarga.

Hal ini berdasarkan anjuran Rasulullah SAW agar orang yang berkurban ikut merasakan keberkahan dari hewan kurbannya sendiri.

Namun, Islam melarang bagian apa pun dari hewan kurban diperjualbelikan, termasuk kulit, kepala, maupun jeroannya.

Baca Juga: Butuh Layanan Kemendikdasmen? Hubungi Kontak Resmi ULT Berikut Ini!

Panitia penyembelihan juga tidak diperbolehkan menerima upah dari bagian hewan kurban. Upah panitia harus diberikan dari dana lain, bukan dari hasil kurban.

Sepertiga untuk Kerabat dan Tetangga

Bagian kedua dianjurkan diberikan kepada kerabat, tetangga, sahabat, atau orang-orang terdekat sebagai bentuk silaturahmi dan berbagi kebahagiaan Iduladha.

Penerima pada bagian ini tidak harus berasal dari golongan miskin.

Membagikan daging kurban kepada tetangga juga menjadi bentuk mempererat hubungan sosial di tengah masyarakat.

Sepertiga untuk Fakir Miskin

Bagian ketiga diperuntukkan bagi fakir miskin dan masyarakat yang membutuhkan.

Inilah bagian yang paling utama dalam distribusi daging kurban karena tujuan sosial ibadah kurban sangat berkaitan dengan membantu kaum dhuafa.

Baca Juga: Bikin Pangling! Lama Tak Terlihat, 'Anu Hitam Putih' Muncul di CNN Indonesia Sebagai Kepala RND Transmedia

Para ulama menekankan bahwa fakir miskin harus menjadi prioritas utama agar manfaat kurban benar-benar dirasakan secara luas.

Syaikh Wahbah Zuhaili dalam kitab Fiqh al-Islami wa Adillatuhu menjelaskan bahwa pembagian sepertiga tidak harus kaku. 

Yang terpenting adalah fakir miskin mendapatkan bagian yang cukup dan layak.

Siapa Saja yang Berhak Menerima Daging Kurban?

Dalam praktiknya, penerima daging kurban tidak terbatas hanya fakir miskin saja.

Beberapa golongan yang dianjurkan menerima daging kurban antara lain:

  • Fakir miskin

  • Anak yatim

  • Janda

  • Lansia

  • Tetangga sekitar

  • Kerabat

  • Musafir

  • Orang yang membutuhkan

Baca Juga: Ganja dan Sabu Marak di Mandailing Natal, Kapolda Sumut Siap Pecat Aparat Polisi yang Terlibat

Bahkan sebagian ulama membolehkan pemberian daging kurban kepada nonmuslim sebagai bentuk hubungan sosial dan kemanusiaan, selama bukan kurban nazar dan tidak dalam konteks memusuhi Islam.

Adab dalam Membagikan Daging Kurban

Selain aturan syariat, Islam juga mengajarkan adab dan etika dalam membagikan daging kurban.

Ikhlas karena Allah SWT

Segala bentuk ibadah harus dilakukan dengan niat tulus karena Allah SWT.

Karena itu, pembagian daging kurban sebaiknya tidak dijadikan ajang pencitraan atau mencari pujian dari manusia.

Baca Juga: Komitmen DEMA PTKIN Dukung Program Sekolah Rakyat Melalui Pengabdian Kolaborasi Dengan Kemensos

Tidak Menyakiti Perasaan Penerima

Islam mengajarkan agar pemberian dilakukan dengan cara yang baik dan menghormati penerima.

Hindari ucapan atau tindakan yang membuat orang lain merasa rendah atau malu saat menerima daging kurban.

Tidak Mengungkit Pemberian

Allah SWT melarang manusia merusak pahala sedekah dengan mengungkit pemberian.

Karena itu, membagikan daging kurban sambil pamer atau terus membicarakan pemberian tersebut dapat mengurangi nilai ibadah.

Baca Juga: Kemensos Gandeng DEMA PTKIN Perkuat Program Sekolah Rakyat Lewat KKN

Membagikan Daging yang Layak Konsumsi

Daging kurban harus dibagikan dalam kondisi segar, bersih, dan layak makan.

Panitia juga perlu menjaga kebersihan selama proses pemotongan, pengemasan, hingga distribusi.

Mendahulukan yang Paling Membutuhkan

Dalam distribusi daging kurban, fakir miskin, janda, lansia, dan masyarakat kurang mampu harus menjadi prioritas utama.

Hal ini sesuai dengan semangat kurban sebagai bentuk kepedulian sosial.

Baca Juga: Para Menteri Dampingi Presiden Resmikan Operasional 1.061 KDKMP atau Koperasi Desa!

Praktik Baik Pembagian Daging Kurban di Masyarakat

Di Indonesia, pembagian daging kurban umumnya dilakukan melalui panitia masjid atau lingkungan warga.

Ada sejumlah praktik baik yang kini mulai banyak diterapkan.

Menggunakan Kupon Distribusi

Penggunaan kupon membantu mengurangi antrean panjang dan membuat pembagian lebih tertib.

Cara ini juga membantu memastikan distribusi tepat sasaran.

Pengantaran ke Rumah Warga

Beberapa panitia memilih mengantar langsung daging kurban ke rumah penerima, terutama untuk lansia atau penyandang disabilitas.

Praktik ini dianggap lebih manusiawi dan memudahkan masyarakat.

Baca Juga: Guru ASN Wajib Tahu, Permendikdasmen Nomor 10 Tahun 2026 Atur TPG Bulanan dan Penghentiannya

Pendataan Penerima

Pendataan dilakukan sebelum Iduladha agar tidak terjadi penerima ganda atau pembagian yang tidak merata.

Mengurangi Penggunaan Plastik

Kini mulai banyak panitia menggunakan wadah ramah lingkungan sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan.

Edukasi tentang Syariat Kurban

Selain membagikan daging, panitia juga sering memberikan edukasi tentang tata cara kurban sesuai syariat melalui khutbah, kajian, atau selebaran.

Baca Juga: SE Mendikdasmen Terbit, Bagaimana Nasib Guru Honorer, Naik Status atau Dirumahkan?

Jangan Sampai Salah dalam Pembagian Daging Kurban

Ibadah kurban tidak berhenti ketika hewan selesai disembelih. Cara pembagian daging kurban juga menjadi bagian penting yang menentukan kesempurnaan ibadah tersebut.

Karena itu, umat Islam perlu memahami aturan syariat sekaligus menjaga adab selama proses distribusi berlangsung.

Dengan pembagian sesuai tuntunan Rasulullah SAW, kurban tidak hanya menjadi ibadah personal, tetapi juga menghadirkan kebahagiaan, kepedulian sosial, dan keberkahan bagi banyak orang. ***