POJOKSATU.id — Istilah brainrot belakangan ini semakin sering muncul di media sosial, khususnya di kalangan anak muda.
Istilah ini umumnya dipakai untuk menggambarkan kondisi ketika seseorang mengalami kesulitan untuk fokus, mudah terdistraksi, serta cenderung terlalu banyak mengonsumsi hiburan digital secara berlebihan.
Walaupun pada awalnya hanya dikenal sebagai bahasa gaul di internet, brainrot sebenarnya merujuk pada keadaan ketika otak terus-menerus menerima banjir informasi dan hiburan instan, sehingga kemampuan untuk berkonsentrasi, berpikir secara mendalam, dan memahami informasi secara utuh menjadi menurun.
Baca Juga: Juli 2026 Dibuka, Ini Dokumen dan Syarat Daftar MagangHub Kemnaker Batch 4
Orang yang mengalami kondisi ini biasanya kesulitan membaca teks panjang, cepat merasa bosan saat belajar, memiliki dorongan kuat untuk terus membuka media sosial, serta mudah teralihkan oleh notifikasi atau konten-konten singkat yang muncul di layar.
Kondisi tersebut umumnya dipicu oleh kebiasaan mengonsumsi video pendek secara berlebihan, scrolling media sosial tanpa henti, kurangnya waktu tidur, serta minimnya aktivitas yang dapat melatih kemampuan berpikir kritis dan fokus.
Untuk menjaga kesehatan otak agar tetap optimal dan terhindar dari brainrot, terdapat beberapa kebiasaan yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Baca Juga: HUT Jakarta ke-499, Transportasi Umum hingga Masuk Ancol dan Ragunan Gratis Selama Dua Hari
Salah satunya adalah membatasi waktu penggunaan media sosial.
Terlalu lama mengakses konten singkat dapat membuat otak terbiasa dengan rangsangan instan sehingga kemampuan untuk memproses informasi yang lebih kompleks menjadi berkurang.
Oleh karena itu, penting untuk menetapkan batas waktu penggunaan dan menyediakan jeda dari layar secara rutin.
Baca Juga: Deretan Kartu Sakti Warga Jakarta, Ada yang Bikin Naik MRT Transjakarta Cuma Maksimal Rp10 Ribu
Selain itu, membiasakan diri membaca buku atau artikel yang lebih panjang juga dapat membantu melatih fokus, meningkatkan daya ingat, dan memperdalam pemahaman terhadap suatu informasi.
Aktivitas membaca dapat dimulai dari materi yang ringan, lalu secara bertahap ditingkatkan ke bacaan yang lebih menantang.
Tidur yang cukup dan berkualitas juga menjadi faktor penting dalam menjaga fungsi otak.
Kurang tidur dapat berdampak pada menurunnya konsentrasi, daya ingat, dan kemampuan berpikir.
Baca Juga: 40.902 Guru Lolos Seleksi Administrasi PPG 2026, Simak Jadwal Penting dan Sebaran Kelulusannya
Umumnya, orang dewasa membutuhkan waktu tidur sekitar tujuh hingga sembilan jam setiap malam agar otak dapat beristirahat dan memulihkan diri secara optimal.
Selain itu, olahraga secara rutin juga berperan dalam menjaga kesehatan otak karena dapat membantu melancarkan aliran darah ke sistem saraf.
Tidak perlu aktivitas berat, karena kegiatan sederhana seperti berjalan kaki, bersepeda, atau melakukan peregangan sudah cukup memberikan manfaat.
Baca Juga: Ditimpa Bencana, Pusat Malah Tahan Rp280 M TKD Mandailing Natal, Bupati Minta Perhatian Mendagri
Kebiasaan multitasking juga sebaiknya dikurangi karena sering berpindah fokus dalam waktu singkat dapat menurunkan efektivitas kerja otak.
Lebih baik menyelesaikan satu tugas terlebih dahulu sebelum beralih ke pekerjaan lainnya agar konsentrasi tetap terjaga.
Melatih otak melalui aktivitas yang menantang juga sangat dianjurkan.
Kegiatan seperti bermain teka-teki, permainan strategi, belajar bahasa baru, atau mengasah keterampilan baru dapat membantu menjaga ketajaman otak sekaligus memperkuat koneksi saraf.
Baca Juga: 2.843 Lowongan Kerja Padat Karya Dibuka Pemprov DKI Jakarta, Gaji Setara UMP Rp5,7 Juta per Bulan
Interaksi sosial yang sehat juga tidak kalah penting.
Berkomunikasi dan berdiskusi dengan orang lain dapat membantu menjaga fungsi kognitif, mengurangi stres, serta melatih kemampuan berpikir dan memahami sudut pandang yang berbeda.
Di sisi lain, asupan nutrisi juga berperan besar dalam menjaga kesehatan otak.
Makanan yang mengandung omega-3, protein, vitamin, dan antioksidan seperti ikan, telur, sayuran hijau, buah-buahan, dan kacang-kacangan sangat dianjurkan untuk dikonsumsi secara seimbang.
Sebaliknya, konsumsi makanan ultra-proses dan minuman tinggi gula sebaiknya dibatasi karena dapat berdampak kurang baik bagi fungsi otak dalam jangka panjang.
Baca Juga: OTT Lima ASN BPK Naik Tahap Penyidikan, KPK Segera Umumkan Para Tersangka
Pada dasarnya, brainrot bukanlah istilah medis resmi, melainkan gambaran dari dampak pola konsumsi digital yang kurang sehat terhadap kemampuan fokus dan konsentrasi seseorang.
Dengan mengatur penggunaan teknologi secara bijak, menjaga pola tidur yang baik, rutin berolahraga, serta melatih kemampuan berpikir melalui aktivitas yang positif, kesehatan otak dapat tetap terjaga sehingga produktivitas dan kemampuan berpikir sehari-hari tetap optimal.***




