POJOKSATU.id - Ketika mendengar kata toge yang ada dibenak kita adalah sayuran dari kecambah yang berbentuk panjang berwarna putih.

Namun toge yang dibahas kali ini adalah makanan khas dari Sumatera Utara yang memiliki rasa manis, yaitu Toge Panyabungan.

Toge Panyabungan menjadi takjil berbuka puasa yang sering ditemui saat Ramadan. Penampilannya mirip es cendol atau es dawet.

Baca Juga: Tolak Genosida di Palestina, Band Indie Indonesia 'Reality Club' Mundur dari Festival SXSW di Amerika Serikat

Dalam semangkuk toge panyabungan terdapat toge yaitu bulir-bulir pendek dari tepung beras ketan berwarna hijau seperti cendol, beras pulut, gula merah, candil, dan lupis.

Toge Penyabungan berasal dari Mandailing Natal (Madina), dan kerap disajikan dengan sebongkah es batu. Sementara di Medan, menu berbuka ini disajikan dalam kondisi hangat.

Supaya makin gurih, sebelum disajikan toge panyabungan disiram terlebih dahulu dengan kuah santan dan air gula aren.

Berikut cara membuat toge Panyabungan:

Baca Juga: Kader IMA Madina Minta Polres Tuntaskan Kasus PETI Kotanopan

Bahan-bahan:
1. Lupis ketan putih secukupnya
2. Tape ketan putih secukupnya
3. Bubur pulut hitam tanpa gula dan santan secukupnya
4. Bubur candil tanpa santan secukupnya
5. Cendol tepung beras secukupnya

Bahan kuah:
1. Santan kekentalan sedang secukupnya
2. Garam secukupnya
3. 1 lembar daun pandan

Baca Juga: Cuaca Ekstrem Melanda Jakarta 14-18 Maret, BMKG : Waspada Hujan Lebat dan Kilat Kencang

Bahan gula merah
1. Gula aren secukupnya
2. 1 lembar daun pandan
3. Garam secukupnya
4. Air secukupnya

Cara membuatnya:
1. Kuah: campur semua bahan jadi satu kemudian masak sampai mendidih dengan api kecil.

2. Gula merah: campur semua bahan jadi satu kemudian masak sampai mendidih dan agak kental, dengan menggunakan api kecil.

Baca Juga: 7 Rekomendasi Foundation Terbaik, Apa Saja?

3. Penyajian: susun semua bahan di mangkok sedang, kemudian siram kuah santan dan terakhir gula merah.

4. Es toge Panyabungan siap untuk disantap.

Toge panyabungan telah terkenal di Mandailing Natal sejak tahun 1940. Meskipun sudah cukup lama, eksistensi toge panyabungan tetap hidup hingga sekarang.

Baca Juga: Gelar Mudik Bareng 2024, Pemko Medan Siapkan Kuota 6.000 Pemudik ke 12 Rute Kota

Bahkan pada 2017 lalu, toge panyabungan ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda dari Sumatera Utara oleh Kemendikbud. ***