POJOKSATU.ID - Membangunkan anak untuk sahur sering kali menjadi tantangan terbesar bagi orang tua selama bulan Ramadan.
Suasana dini hari yang dingin dikombinasikan dengan fase tidur lelap anak sering kali menjadi resep sempurna bagi munculnya rengekan atau bahkan tantrum.
Namun, kunci utama untuk menghindari "perang urat syaraf" di meja makan sebenarnya terletak pada persiapan matang sejak malam sebelumnya.
Orang tua perlu memastikan bahwa anak mendapatkan jam tidur yang cukup dengan membiasakan mereka tidur lebih awal setelah salat Tarawih.
Baca Juga: SUPER HEMAT! Ide Olahan Telur Anti Bosan untuk Menu Sahur Puasa Ramadhan Anak Kos!
Tanpa istirahat yang memadai, sistem saraf anak akan lebih sensitif dan mudah marah saat dibangunkan, sehingga menjaga jadwal tidur adalah fondasi utama yang tidak boleh ditawar.
Langkah berikutnya adalah mengubah cara kita melakukan kontak pertama saat membangunkan mereka.
Alih-alih menggunakan suara keras atau menyalakan lampu kamar secara mendadak yang dapat memberikan efek kejut negatif pada otak, gunakanlah pendekatan sensorik yang lembut.
Mulailah dengan mengusap punggung atau memijat lembut kaki anak sambil membisikkan kata-kata kasih sayang.
Baca Juga: Menu Sahur Tinggi Serat untuk Mencegah Sembelit Selama Puasa Ramadhan
Aroma masakan favorit yang sengaja "dihadirkan" ke area kamar juga bisa menjadi stimulan alami yang membangunkan indra penciuman mereka sebelum kesadaran mereka pulih sepenuhnya.
Memberikan waktu transisi sekitar 10 hingga 15 menit bagi anak untuk sekadar mengumpulkan nyawa atau melakukan stretching di tempat tidur jauh lebih efektif daripada memaksa mereka langsung berdiri dan menuju meja makan.
Selama proses makan sahur berlangsung, penting bagi orang tua untuk menjaga lisan dari kalimat-kalimat ancaman atau sindiran.
Fokuslah pada memberikan apresiasi karena mereka telah berhasil bangun, dan gunakan komunikasi positif mengenai manfaat puasa dengan bahasa yang sederhana.
Jika anak terlihat sangat mengantuk, bantu mereka dengan membasuh wajah menggunakan air suhu ruang untuk memberikan kesegaran instan tanpa rasa kaget yang berlebihan.
Dengan menciptakan atmosfer sahur yang hangat, tenang, dan penuh dukungan, anak tidak hanya akan lebih mudah dibangunkan.
Tetapi mereka juga akan mengenang momen sahur sebagai bagian yang indah dari ibadah mereka, bukan sebuah beban yang menakutkan.***




