POJOKSATU.id - Pernah merasa tidak punya minat melakukan apa pun, bahkan untuk aktivitas yang biasanya menyenangkan?
Kondisi seperti ini bisa membuat seseorang bertanya-tanya, apakah dirinya sedang mengalami stres, depresi, atau sebenarnya hanya sedang malas.
Dalam sebuah diskusi kesehatan, seorang penanya mengungkapkan dirinya tidak memiliki minat untuk melakukan sesuatu sama sekali.
Kondisi seperti itu memang tidak otomatis berarti seseorang mengalami gangguan kejiwaan.
Baca Juga: Hercules Bantah Terlibat Kerusuhan Usai Demo 27 Agustus, Sebaliknya Imbau Tak Ikut Demonstrasi
Suasana hati dan stamina manusia dapat berubah-ubah.
Ada masa ketika seseorang begitu bersemangat menjalani aktivitas, tetapi ada pula waktu ketika tubuh dan pikiran terasa berat untuk melakukan berbagai hal.
Rasa enggan beraktivitas dapat muncul karena beberapa hal yang relatif wajar, seperti kebosanan, kelelahan, perubahan hormonal, maupun respons terhadap tekanan atau stres.
Jadi, jangan buru-buru memberikan label pada diri sendiri hanya karena sedang kehilangan semangat.
Baca Juga: Sering Ngorok Saat Tidur? Coba 3 Cara Sederhana Ini untuk Bantu Redakan Dengkuran
Kapan Rasa Malas Perlu Diwaspadai?
Hal yang lebih penting justru melihat seberapa besar kondisi tersebut mengganggu kehidupan sehari-hari.
Jika rasa malas dan kehilangan minat sudah sangat kuat sampai membuat seseorang kesulitan menjalankan aktivitas, mengurus diri sendiri, atau berinteraksi secara normal dengan orang di sekitarnya, kondisi tersebut sebaiknya tidak diabaikan.
Perubahan suasana hati yang disertai kesedihan berkepanjangan, sering menangis tanpa sebab yang jelas, menyalahkan diri sendiri maupun orang lain, atau munculnya kecenderungan melakukan tindakan yang membahayakan diri sendiri atau orang lain juga perlu mendapat perhatian serius.
Baca Juga: Area yang terkena dapat membengkak, terasa sakit, tampak merah, serta hangat ketika disentuh.
Dalam kondisi tertentu, kehilangan minat dan motivasi dapat berkaitan dengan gangguan kesehatan mental.
Beberapa kondisi yang disebut dalam penjelasan dokter antara lain depresi, gangguan bipolar, gangguan siklotimik, gangguan stres pascatrauma, gangguan skizoafektif, hingga gangguan delusi.
Namun, seseorang tidak sebaiknya menyimpulkan sendiri bahwa dirinya mengalami salah satu gangguan tersebut hanya berdasarkan rasa malas atau kehilangan minat.
Pemeriksaan langsung oleh dokter atau dokter spesialis kejiwaan diperlukan untuk mengetahui penyebab, jenis, dan tingkat keparahan kondisi yang dialami.
Jangan Memaksa Diri Terus-Menerus
Ketika semangat sedang turun, memberikan ruang bagi tubuh dan pikiran untuk beristirahat juga penting.
Seseorang dapat mencoba menghibur diri secukupnya dan tidak terus-menerus memforsir tenaga maupun pikiran.
Waktu luang bisa dimanfaatkan untuk melakukan hobi, berlibur, bercengkerama dengan orang yang disayangi, atau sekadar mendapatkan istirahat yang cukup.
Pikiran yang terus dipenuhi kecemasan, ketakutan, stres, maupun kebiasaan menyalahkan diri sendiri juga sebaiknya dikurangi.
Baca Juga: Galaxy Z8 Series Makin Pintar, AI Samsung Bisa Bantu Ubah Rencana Jadi Aksi
Saat rasa malas terasa berlebihan, perlahan kembali membangun semangat dan menggali potensi diri dapat menjadi bagian dari upaya memperbaiki keadaan.
Lingkungan pergaulan juga memiliki peran.
Berada di sekitar orang-orang yang mendukung perkembangan diri dapat membantu seseorang melewati masa sulit dengan lebih baik.
Sebaliknya, kebiasaan terlalu banyak melamun, berkhayal, menyendiri, atau terus meratapi masa lalu sebaiknya tidak dibiarkan menjadi pola yang menetap.
Menjaga pola hidup sehat dan seimbang juga penting.
Baca Juga: WhatsApp Perkuat Keamanan Akun, Password 2FA Kini Lebih Sulit Ditebak
Hindari alkohol, obat terlarang, dan rokok, serta berikan tubuh kesempatan untuk beristirahat secara cukup.
Tidak Perlu Malu Mencari Bantuan
Merasa kehilangan minat terhadap berbagai aktivitas bukan berarti seseorang otomatis mengalami depresi.
Begitu pula sebaliknya, jangan menganggap remeh perubahan yang sudah berlangsung hingga mengganggu kehidupan sehari-hari.
Ada kalanya tubuh memang membutuhkan istirahat. Ada pula saat ketika seseorang membutuhkan dukungan dan pertolongan profesional.
Baca Juga: Mahfud MD Ungkap Sisi Lain RUU Perampasan Aset: Bisa Bikin Investor Asing Lebih Percaya
Karena itu, mengenali perubahan diri menjadi langkah yang penting.
Jika kondisi semakin berat atau muncul dorongan untuk membahayakan diri sendiri maupun orang lain, mencari bantuan profesional secepatnya adalah pilihan yang lebih aman.***




