POJOKSATU.id - Keresahan muncul di masyarakat Indonesia ketika cerita tentang beras plastik mulai menyebar.
Cerita pertama kali muncul dari seorang pedagang nasi dan bubur yang menemukan hal yang aneh saat memasak beras.
Dia mengklaim bahwa beras tersebut memiliki rasa yang berbeda dari beras biasa.
Kabar penemuan beras plastik ini segera menjadi perbincangan hangat karena dikatakan bahwa beras tersebut mengandung polifinir, bahan dasar dalam pembuatan pipa plastik.
Baca Juga: Pj Gubernur Jabar Bey Machmudin Pastikan Cadangan Beras Aman hingga Akhir 2023
Kekhawatiran timbul karena konsumsi beras plastik semacam itu dalam jangka panjang diyakini berpotensi membahayakan kesehatan.
Meskipun begitu, ragu-ragu tetap menghantui banyak orang terkait kebenaran isu beras plastik ini.
Hal ini disebabkan tidak hanya oleh fakta bahwa Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) masih belum dapat mengungkapkan misteri beras plastik ini.
Tetapi Kementerian Kesehatan sedang melakukan penelitian mengenai beras yang diduga mengandung plastik.
Tidak hanya itu, beberapa kejanggalan terkait beras plastik dan video pembuatan beras plastik yang beredar belakangan ini juga menambah keraguan.
Berikut beberapa informasi tentang kejanggalan dan fakta yang terkait dengan isu beras plastik ini.
1. Dalam video berjudul Pembuatan Beras Plastik Asal Cina, tidak terdapat informasi yang menunjukkan bahwa yang diproduksi adalah beras.
Video tersebut sebenarnya menggambarkan proses pembuatan biji plastik melalui teknik ekstrusi.
Mesin yang digunakan dalam proses ini adalah ekstruder.
Plastik dilelehkan, kemudian dimasukkan ke dalam pipa yang dipanaskan dan memiliki pengaduk ulir seperti mata bor.
Dari sana, plastik akan keluar dalam bentuk gulungan dan masuk ke dalam saringan yang panjangnya mirip dengan pembuatan cendol.
Kemudian, tali plastik yang masih panas dan lembek akan dimasukkan ke dalam air.
Setelah mengeras, tali plastik tersebut dipotong menjadi biji atau pelet kecil dengan bantuan chopper agar lebih mudah dimasukkan ke dalam karung.
Tidak ada petunjuk sama sekali dalam video tersebut yang menunjukkan bahwa proses tersebut berkaitan dengan pembuatan beras plastik.
Baca Juga: Sidak Dua Kilang Padi di Deliserdang, Pemprov Sumut Urai Penyebab Naiknya Harga Beras
2. Karakteristik utama dari plastik turunan hidrokarbon
Sifat hidrofobik, yang berarti plastik tersebut tidak bersahabat dengan air.
Ini disebabkan oleh bahan dasarnya yang berasal dari minyak bumi dan struktur kimianya yang bersifat nonpolar.
Oleh karena itu, jika benar-benar ada beras yang terbuat dari plastik, seharusnya beras tersebut tidak akan menjadi lembek saat dimasak.
Karena beras asli menjadi lembek melalui penyerapan air.
Jika plastik direbus, seharusnya plastik tersebut hanya akan menjadi basah atau mungkin berubah warna menjadi kecokelatan, namun tidak akan berubah menjadi bubur.
3. Jika benar ada beras palsu yang terbuat dari plastik, beras tersebut seharusnya tidak tenggelam saat diletakkan di dalam air karena densitasnya lebih rendah dari air.
Seharusnya, beras plastik semacam itu akan mengapung bahkan jika ditekan ke dalam air.
4. Ada juga klaim yang menyatakan bahwa beras plastik dibuat dari kentang atau umbi yang dilapisi dengan plastik.
Namun, ini tampaknya tidak masuk akal.
Hal ini disebabkan kentang memiliki harga yang lebih tinggi dibandingkan beras.
Selain itu, proses memotong kentang menjadi butiran kecil yang dilapisi plastik sangat sulit dilakukan.
Dari segi logika, titik leleh plastik yang umum digunakan seperti PE (polietilen) adalah sekitar 115 derajat Celsius, PP (polipropilen) adalah sekitar 130 derajat Celsius, dan PET (polietilen tereftalat) adalah sekitar 260 derajat Celsius (atau sekitar 100 derajat Celsius untuk PET yang digunakan dalam botol plastik).
Dalam proses pelapisan dengan plastik, plastik harus dilelehkan terlebih dahulu sebelum bisa melapisi umbi atau kentang.
Semua titik leleh plastik tersebut berada di atas 100 derajat Celsius, sehingga seharusnya umbi atau kentang akan hangus sebelum dapat dilapisi dengan plastik.
5. Untuk mengidentifikasi beras asli dan beras plastik, pengujian di laboratorium diperlukan.
Terdapat dua metode yang dapat digunakan untuk menentukan keaslian beras.
Pertama, beras plastik dapat dipotong dan penampangnya diperiksa di bawah mikroskop untuk mendeteksi perbedaan antara umbi dan lapisan plastik.
Kedua, pengujian amilum dengan menggunakan yodium.
Amilum adalah sejenis kanji yang hadir dalam beras asli.
Ketika amilum diteteskan yodium, akan menghasilkan warna ungu.
Namun, jika amilum tidak berubah warna menjadi ungu setelah diteteskan yodium, itu menunjukkan bahwa beras tersebut mungkin bukan beras asli.
Informasi ini disajikan oleh seorang pengguna Facebook bernama Harnaz, yang mengklaim sebagai seorang insinyur dengan pemahaman dalam masalah kimia.
Harnaz juga mendorong kewaspadaan dalam menangani perkembangan isu-isu seperti ini.
Penting untuk mencatat bahwa penyebaran informasi yang tidak benar atau palsu dapat menciptakan kepanikan dan ketidakpercayaan.
Untuk mengatasi isu seperti beras plastik, penting untuk mengandalkan sumber-sumber yang sah dan penelitian ilmiah yang valid.***



