POJOKSATU.id - Bunga bangkai adalah salah satu kekayaan hayati yang dimiliki oleh Indonesia. Ini adalah tanaman asli Indonesia yang memiliki ciri aroma busuk yang khas.

Namun, seringkali bunga bangkai disamakan dengan Rafflesia arnoldi, yang juga dikenal sebagai padma raksasa. Padahal, keduanya adalah spesies yang berbeda secara signifikan.

Perbandingan antara bunga bangkai dan Rafflesia arnoldi sering kali terjadi karena keduanya memiliki karakteristik umum, yaitu mengeluarkan aroma busuk dan memiliki ukuran yang besar.

Namun, penting untuk diingat bahwa meskipun keduanya memiliki ciri-ciri tersebut, mereka tetap merupakan spesies yang berbeda dengan karakteristik dan morfologi yang unik.

Baca Juga: Dikira Ubi, Bunga Bangkai Muncul di Pekarangan Rumah Warga, Disebut Bukan Bunga Langka, Peneliti Ungkap Rahasia Bau yang Ditimbulkan

Morfologi bunga bangkai memiliki nama ilmiah Amorphophallus titanium dan merupakan flora endemik Sumatera.

Bunga bangkai termasuk dalam keluarga Araceae dan dikenal karena bunganya yang besar dan tidak biasa, serta daunnya yang berkarakteristik.

Keunikan morfologi ini membuatnya menjadi salah satu tanaman yang menarik minat banyak orang, baik dari kalangan ilmuwan maupun masyarakat umum.

Asal bunga bangkai ini adalah di hutan hujan Sumatera Barat, Indonesia.

Tanaman ini berasal dari kingdom Plantae dan genus Amorphophallus, termasuk dalam keluarga Araceae atau talas-talasan. Pada umumnya, satu umbi bunga bangkai hanya menghasilkan satu tunas.

Baca Juga: 5 Mahasiswa UGM Pernah Ciptakan Plastik dari Biji Durian, Penelitian Masih Berlanjut

Ukuran dan bentuk bunga bangkai bervariasi tergantung jenisnya. Ketika dewasa, umbinya memiliki diameter sekitar 80 cm dan bisa mencapai berat hingga 100 kg.

Di habitat aslinya, ada juga jenis bunga bangkai raksasa yang dapat mencapai tinggi hingga 5 meter.

Amorphophallus titanium, yang juga dikenal sebagai bunga bangkai, merupakan salah satu spesies terbesar dalam genus Amorphophallus dan merupakan tanaman raksasa yang tumbuh di hutan hujan Pulau Sumatera.

Dr. Odoardo Beccari, seorang peneliti Italia, menemukan bunga bangkai ini pada tahun 1878 di sekitar air terjun Lembah Anai, Sumatera Barat.

Baca Juga: Bukan Sekadar Hoaks, 5 Fakta Ilmiah Membongkar Misteri Beras Plastik

Royal Botanic Garden Edinburgh juga melaporkan, sejak penemuan oleh Beccari, tanaman berbau busuk ini telah menimbulkan rasa ingin tahu di kalangan banyak ahli.

Penemuan ini menarik perhatian peneliti dari berbagai negara, bukan hanya di Indonesia. Bunga bangkai endemik Sumatera ini menjadi objek penelitian di rumah kaca karena keunikan bentuk, ukuran, dan aroma bunganya.

Upaya untuk melestarikan bunga bangkai dilakukan di luar habitatnya, salah satunya oleh para peneliti di Pusat Konservasi Kebun Raya Bogor, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

Jenis bunga bangkai raksasa inilah yang termasuk dalam jenis Amorphophallus gigas yang menurut situs resmi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Amorphophallus titanium (Becc.) Becc. atau bunga bangkai ini termasuk dalam kategori tumbuhan langka.

Baca Juga: Menelusuri Sejarah dan Fakta Menarik Kebun Raya Bogor, Simak Selengkapnya!

Masuknya bunga bangkai endemik Indonesia dalam daftar bunga langka itu berdasarkan pada klasifikasi dari International Union for Conservation of Nature (IUCN) dan keberadaannya dilindungi dengan Peraturan Pemerintah Nomor 7 tahun 1999.

Perjalanan sejarah bunga bangkai dan upaya untuk melestarikan tanaman unik ini terus berlanjut.

Hal ini penting mengingat bahwa tanaman endemik Sumatera, Indonesia ini terdaftar sebagai spesies terancam punah dalam Daftar Merah Tanaman Terancam Punah oleh International Union for Conservation of Nature (IUCN).***