POJOKSATU.id – Ramadan di Kota Medan selalu identik dengan berburu takjil. Namun, ada satu menu yang tak pernah absen dan menjadi ikon kebersamaan di Masjid Raya Al Mashun Medan, yakni bubur sup.

Setiap hari, sekitar 1.000 porsi dibagikan gratis kepada jamaah dan warga yang berbuka puasa di masjid bersejarah tersebut.

Menariknya, bubur sup yang kini dikenal luas ternyata merupakan bentuk adaptasi dari tradisi lama, yakni bubur pedas khas Melayu yang sudah ada sejak era Kesultanan Deli.

Baca Juga: Jelang Salat Tarawih, Pohon Beringin Raksasa Tumbang Timpa Masjid Miftakhul Huda di Trenggalek

Jejak Tradisi Melayu yang Berubah
Menurut Hamdan, pengurus sekaligus juru masak Masjid Raya Al Mashun, pada masa lampau menu berbuka yang disajikan adalah bubur pedas.

Hidangan tersebut dikenal sebagai kuliner tradisional Melayu dengan racikan rempah yang kuat dan proses memasak yang panjang.

“Sebenarnya, zaman Kesultanan dulu itu masaknya bubur pedas. Itu memang masakan tradisi Melayu. Tapi belakangan kami ubah jadi bubur sup karena mencari rempah untuk bubur pedas cukup sulit,” ujar Hamdan, dikutip Pojoksatu, Kamis (19/2/2026).

Baca Juga: Prabowo Hadiri KTT Dewan Perdamaian Gaza Bentukan Trump, Lanjut Teken Kesepakatan Tarif Dagang AS

Ia menjelaskan, beberapa bumbu khas bubur pedas tidak lagi mudah ditemukan di pasaran.

Untuk mendapatkannya, panitia harus mencarinya hingga ke kampung-kampung yang masih meracik bumbu secara tradisional. Prosesnya pun memakan waktu lama.

Kondisi inilah yang membuat pengurus masjid berinovasi tanpa meninggalkan semangat kebersamaan. Bubur sup dipilih sebagai alternatif yang lebih mudah dibuat, namun tetap kaya rasa dan mengenyangkan.

Baca Juga: Ramadan 2026 Dimulai, Hampir 13 Ribu Warga Sumut dan Aceh Masih Bertahan di Tenda Pengungsian

Dimasak dengan Kuali Tembaga dan Kayu Bakar
Meski menu mengalami perubahan, cara memasaknya tetap mempertahankan sentuhan tradisional. Bubur sup dimasak dalam kuali tembaga besar yang dipanaskan menggunakan kayu bakar.

Aroma asap kayu yang membumbung sejak sore hari menjadi penanda waktu berbuka segera tiba. Warga yang datang tak hanya ingin menikmati hidangan, tetapi juga merasakan suasana hangat kebersamaan.

Secara tampilan, bubur sup terlihat seperti bubur nasi biasa. Namun ketika disantap, cita rasa gurih dari rempah pilihan langsung terasa. Isinya pun lengkap, mulai dari potongan daging sapi, udang, kentang, wortel, hingga kacang tanah.

Baca Juga: TPG TERANCAM MUNDUR KE MARET? Ini Dampaknya Jika SKTP Terbit di Atas 20 Februari dan Cara Menghindarinya

Resep Bubur Sup yang Kaya Rempah
Bagi anda yang ingin mencoba membuat bubur sup pedas khas Melayu Deli dari Medan, berikut bahan-bahannya:

- Beras 3 genggam
- Daging sapi 100 gram
- Udang basah 5 ekor
- Kacang tanah tanpa kulit ari 50 gram
- Wortel ukuran sedang 1 buah
- Kentang ukuran sedang 1 buah
- Udang kering 1 sdm
- Kayu manis 1-2 cm

Baca Juga: 17 Film Sedih Rekomendasi TikTok yang Bikin Nangis Berkali-kali, Siap-Siap Baper!

- Cengkeh 3 butir
- Pala bubuk ¼ sdt
- Merica bubuk ½ sdt
- Bawang merah 2 butir
- Bawang putih 1 butir
- Jahe 1 cm
- Serai 1 batang
- Lengkuas 2 cm
- 1500 cc
- Santan 50 cc dicampur dengan air panas 150 cc
- Daun bawang
- Daun seledri
- Bawang goreng

Baca Juga: 5 Cara Menggapai Lailatul Qadar, Malam Lebih Baik dari Seribu Bulan

Cara Membuat:
Masak beras dengan air ukuran 1500 cc, setelah mendidih masukkan daging sapi dan udang yang sudah dipotong-potong serta kacang tanah.

Masukkan irisan bawang putih, bawang merah, jahe, udang kering yang sudah dihaluskan, lengkuas, serai, ketumbar, merica, kayu manis, cengkeh, pala, dan garam.

Selanjutnya tunggu hingga beras menjadi bubur, kemudian masukkan santan, kentang, serta wortel yang sudah dipotong menjadi kotak-kotak.

Baca Juga: Menkeu Purbaya Tolak Naikkan Pajak Penghasilan Karyawan, Ekonomi Indonesia Belum Kuat

Aduk hingga sayur matang dan bubur terlihat mengental. Tambahkan garam secukupnya. Taburkan irisan daun bawang, seledri, dan bawang goreng, serta anyang pakis  di atas bubur

Lebih dari Sekadar Takjil
Jika ditarik ke konteks yang lebih luas, bubur sup di Masjid Raya Medan bukan sekadar menu berbuka puasa. Ia menjadi simbol adaptasi tradisi di tengah keterbatasan bahan dan perubahan zaman.

Baca Juga: Tiga Huruf

Tradisi boleh berubah bentuk, tetapi nilai kebersamaan dan semangat berbagi tetap terjaga.

Setiap mangkuk bubur yang dibagikan mengandung cerita panjang tentang sejarah, budaya, dan solidaritas warga Medan selama Ramadan.

Hingga kini, antrean jamaah menjelang azan magrib menjadi pemandangan yang akrab.

Baca Juga: Pensiunan PNS Tak Punya Mobile Banking? Kini Cek THR 2026 Bisa Lewat TOOS Taspen, Aplikasi Taspen Mobile, atau SMS Banking! Begini Panduannya

Di sana, tak ada sekat antara kaya dan sederhana. Semua duduk bersama, menikmati bubur hangat yang menjadi bagian dari warisan kuliner kota ini. ***