POJOKSATU.id - Musim kemarau semakin terasa di banyak wilayah Indonesia.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan kondisi kering masih mendominasi hingga awal September 2026, meski hujan lokal tetap berpeluang turun di sejumlah daerah.
Sekitar 80 persen wilayah Indonesia saat ini telah memasuki musim kemarau.
Puncak musim kemarau sebagian besar terjadi pada Agustus, sehingga beberapa wilayah, terutama Indonesia bagian selatan, perlu mewaspadai dampak kekeringan.
Baca Juga: KIP Kuliah 2026 UIN SGD Bandung Dibuka, Catat Jadwal dan 16 Syaratnya
Kondisi tersebut juga beriringan dengan ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
BMKG mencatat sedikitnya 15 kejadian karhutla pada 25–27 Agustus 2026 yang tersebar di delapan provinsi.
Wilayah yang dilaporkan mengalami karhutla antara lain Aceh, Jawa Barat, Jawa Tengah, Kepulauan Bangka Belitung, Kalimantan Timur, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, dan Papua Barat Daya.
Titik Panas Naik di Sejumlah Wilayah
Perhatian juga tertuju pada peningkatan titik panas.
Berdasarkan pemantauan citra satelit Himawari-9 pada 25 Agustus, sejumlah wilayah Kalimantan mengalami kenaikan hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi.
Baca Juga: Di Tengah Banjir Nepal, Ada yang Ambil Anting Jenazah, Ada Warga Pilih Kembalikan Emas
Di Kalimantan Barat, jumlah titik panas meningkat dari 92 menjadi 140 titik.
Kalimantan Tengah naik cukup tajam dari 113 menjadi 352 titik, sedangkan Kalimantan Timur bertambah dari 30 menjadi 63 titik.
Sebaliknya, beberapa daerah justru mengalami penurunan.
Riau tercatat turun dari sembilan menjadi nol titik, Jambi dari 15 menjadi satu titik, Sumatera Selatan dari 298 menjadi 63 titik, dan Kalimantan Selatan dari 89 menjadi 60 titik.
Asap juga terpantau di sejumlah wilayah, mulai dari Sumatera hingga Kalimantan, Maluku, dan Papua.
Pola angin bahkan berpotensi membawa asap menuju wilayah di sekitarnya.
Baca Juga: Kontribusi Danantara ke Negara Naik, Purbaya Berharap Penerimaan Pemerintah Makin Gemuk
Suhu Panas Bisa Tembus 36 Derajat Celsius
Bukan hanya kekeringan dan karhutla yang perlu diperhatikan.
Suhu udara maksimum juga meningkat ketika tutupan awan minim.
Pada 23–26 Agustus 2026, suhu maksimum lebih dari 36 derajat Celsius tercatat di sejumlah wilayah, termasuk Kalimantan Timur, Kalimantan Barat, Lampung, Aceh, dan Medan.
Cuaca panas seperti ini dapat membuat aktivitas masyarakat menjadi kurang nyaman.
Kebutuhan air juga meningkat, sementara risiko dehidrasi dan kelelahan dapat bertambah, terutama bagi mereka yang beraktivitas di luar ruangan pada siang hari.
Hujan Lebat Belum Sepenuhnya Pergi
Meski kemarau mendominasi, bukan berarti seluruh Indonesia akan kering tanpa hujan.
Pada 24–26 Agustus, hujan lebat hingga sangat lebat masih terjadi di sejumlah wilayah Sumatera.
Curah hujan harian tercatat mencapai 110 milimeter di Sumatera Utara, 90 milimeter di Sumatera Barat, 63 milimeter di Kepulauan Riau, dan 56 milimeter di Jambi.
Baca Juga: Hasil Pemilihan Ketua Umum PBNU 2026 di Jombang Bisa Dianulir Jika Terbukti Sah Politik Uang
Kondisi tersebut dipengaruhi dinamika atmosfer regional serta faktor lokal, termasuk aktivitas Gelombang Kelvin, daerah belokan dan pertemuan angin, suhu muka laut yang relatif hangat, pemanasan permukaan, hingga kondisi topografi.
Prakiraan Cuaca 27–29 Agustus 2026
Memasuki periode 27–29 Agustus, sebagian besar wilayah Indonesia diprakirakan mengalami hujan ringan hingga sedang.
Beberapa daerah perlu mewaspadai peningkatan hujan sedang, yakni Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Jambi, Lampung, Kalimantan Barat, Kalimantan Utara, Papua Barat, Papua Tengah, Papua Pegunungan, Papua, dan Papua Selatan.
Untuk hujan lebat hingga sangat lebat, status siaga diprakirakan terjadi di Papua Pegunungan.
Sementara itu, potensi angin kencang perlu diwaspadai di Kepulauan Bangka Belitung, Lampung, Banten, Jawa Barat, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara, Maluku, Maluku Utara, Nusa Tenggara Timur, serta Papua Selatan.
Baca Juga: Siapa Ketua Umum PBNU Terpilih dari Muktamar 2026 di Jombang, Hasilnya Hari Ini, Ini Kata Gus Ipul
Prakiraan 30 Agustus–2 September
Pada periode berikutnya, cuaca secara umum diperkirakan bervariasi dari cerah berawan hingga hujan sedang.
Peningkatan hujan sedang masih berpotensi terjadi di Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Jambi, Kalimantan Utara, Papua Tengah, Papua Pegunungan, Papua, dan Papua Selatan.
Sumatera Barat perlu mendapat perhatian karena masuk kategori siaga untuk hujan lebat hingga sangat lebat.
Potensi angin kencang juga masih terbuka di Aceh, Lampung, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, NTB, Kalimantan Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara, Maluku Utara, dan Papua Selatan.
Kemarau Makin Dominan, Masyarakat Diminta Waspada
BMKG menyebut kondisi kering masih berpotensi bertahan karena pengaruh El Niño kategori sangat kuat dan Indian Ocean Dipole (IOD) positif.
Baca Juga: Siapa Ketua Umum PBNU Terpilih dari Muktamar 2026 di Jombang, Hasilnya Hari Ini, Ini Kata Gus Ipul
Kedua kondisi tersebut cenderung menekan aktivitas konvektif sehingga mendukung berlanjutnya cuaca kering di sejumlah wilayah.
Namun, dinamika atmosfer seperti Madden-Julian Oscillation (MJO), Gelombang Rossby Ekuator, serta daerah konvergensi dan konfluensi masih dapat memicu pertumbuhan awan hujan secara lokal.
Artinya, masyarakat tetap perlu melihat prakiraan cuaca harian.
Kemarau bukan berarti hujan sama sekali tidak mungkin terjadi.
BMKG juga mengingatkan masyarakat untuk menghemat air dan tidak melakukan pembakaran sampah maupun membuka lahan dengan cara membakar, terutama di kawasan yang mudah terbakar.
Saat cuaca panas, masyarakat disarankan mencukupi kebutuhan cairan dan menggunakan pelindung atau tabir surya ketika beraktivitas di luar ruangan.
Jika hujan deras disertai petir dan angin kencang datang, hindari berteduh di bawah pohon, papan reklame, atau bangunan yang kondisinya tidak kokoh.***




