POJOKSATU.id – Bulan Ramadan selalu menghadirkan cerita khas di setiap daerah.
Di Kota Medan, Sumatera Utara (Sumut), salah satu panganan tradisional yang ramai diburu saat waktu berbuka puasa adalah bika bakar khas Minang.
Makanan ini tidak mudah ditemukan di pusat keramaian kota. Penjualnya hanya bisa dijumpai di kawasan Jalan Amaliun, Medan.
Baca Juga: Dianggap Penadah, Bareskrim Angkut Semua Emas dari Toko Semar Nganjuk Terkait TPPU Tambang Ilegal
Meski lokasinya tidak berada di jalan utama, pembelinya justru datang silih berganti setiap sore menjelang azan Magrib.
Bika bakar merupakan makanan khas Minang yang terbuat dari bahan sederhana, yakni tepung beras, parutan kelapa, dan gula. Namun, proses pembuatannya yang unik membuat cita rasanya berbeda.
Dipanggang dengan Cara Tradisional
Proses pembuatan bika bakar terbilang sederhana, tetapi tidak biasa. Tepung beras dicampur dengan parutan kelapa dan gula hingga merata.
Baca Juga: 33.975 Guru Berpotensi Ikuti PPG Tahap 1 2026, Tambahan Tunjangan Resmi Diatur
Setelah adonan siap, campuran tersebut dimasukkan ke dalam cetakan yang telah dialasi daun pisang.
Yang menarik, proses pemanggangan tidak menggunakan oven modern. Adonan dipanggang menggunakan baskom sebagai penutup, sementara bagian bawahnya dibakar dengan arang dan sabut kelapa.
Cara tradisional ini menghasilkan aroma khas yang sulit ditiru oleh metode pemanggangan biasa. Setelah berubah warna menjadi kecokelatan, bika diangkat dan siap dijual kepada pembeli.
Baca Juga: Sah! Prabowo Trump Teken Kesepakatan Tarif Dagang, 1.819 Produk Indonesia Kena Tarif 0 Persen
Laris Saat Ramadhan
Panganan ringan asal Sumatera Barat ini dijual dengan harga terjangkau, yakni Rp2.000 per buah. Meski murah, rasanya tetap autentik dan mengenyangkan untuk menu berbuka puasa.
Penjual mengaku selama bulan Ramadhan terjadi peningkatan penjualan dibanding hari biasa. Dalam sehari, ia mampu menghabiskan hingga 10 kilogram adonan.
“Kalau hari biasa tidak seramai ini. Di bulan puasa banyak yang beli untuk berbuka,” ujar penjual.
Baca Juga: Pemerintah Bongkar Ulang Daftar Penerima BPJS Gratis, Jutaan Orang Terancam Dicoret!
Ramainya pembeli menunjukkan bahwa jajanan tradisional masih memiliki tempat di hati masyarakat. Selain harga yang ramah di kantong, rasa legit dan aroma bakaran menjadi daya tarik tersendiri.
Di tengah maraknya makanan modern, bika bakar Amaliun tetap bertahan dengan cara tradisionalnya. Justru kesederhanaan itulah yang membuatnya istimewa di bulan penuh berkah. ***




