POJOKSATU.id - Sejarah merupakan bagian penting dari kehidupan kita saat ini. Masa yang dilalui sekarang tidak terlepas dari adanya sejarah.
Sejarah membuat pembaca juga bisa mengetahui kisah pahlawan yang berjuang demi bangsa dan negaranya.
Salah satu karya sastra yang memuat kisah sejarah adalah novel.
Keadaan politik, masyarakat, budaya, dan lingkungan sosial akan digambarkan melalui novel fiksi sehingga pembaca dapat ikut merasakan bagaimana hidup di zaman tersebut.
Baca Juga: 7 Novel Terbaik Tere Liye yang Harus Kamu Baca! Kisah-kisah Menakjubkan dari Penulis Best Seller
Berikut lima belas rekomendasi novel berlatar kisah kelam sejarah Indonesia.
1. Pulang - Leila S. Chudori
Berlatar tahun 1965, novel ini menceritakan mengenai Dimas Suryo, seorang wartawan, yang berhasil selamat dari pembersihan orang-orang 'golongan kiri'.
Walaupun selamat, ia harus rela kehilangan kewarganegaraannya sehingga menjadi "stateless" karena tuduhan yang salah kepada dirinya.
Ia tidak bisa pulang ke Indonesia karena hal tersebut. Dirinya berakhir berpindah-pindah negara dan akhirnya menetap di Prancis.
Kehidupan dirinya di negara Eropa tersebut tidak selalu berjalan mulus. Apalagi, ia sangat merindukan tanah airnya.
Melalui novel ini, pembaca akan diajak mengetahui lika-liku kehidupan Dimas Suryo akibat peristiwa kelam di tahun 1965.
Selain itu, novel ini juga akan bercerita mengenai anak dari Dimas Suryo, Lintang Utara, yang akan menelusuri sejarah keluarga dan tanah air ayahnya di tahun 1998.
Baca Juga: 5 Rekomendasi Novel Motivasi dan Inspiratif Tentang Kehidupan, Mana yang Sudah Dibaca?
2. Gadis Kretek - Ratih Kumala
Kretek atau rokok akan menjadi pembahasan utama dalam novel ini.
Soeraja, pemilik perusahaan Kretek Djagat Raja, meminta anaknya, Lebas, untuk mencari perempuan bernama Jeng Yah saat ia sedang sakit keras.
Lebas bersama dengan kedua kakaknya, Karim dan Tegar, mulai mencari tahu siapa itu Jeng Yah.
Pembaca akan dibawa menjelajahi dunia kretek seiring pencarian ketiga pewaris Kretek Djagat Raya mencari Jeng Yah.
Kisah sejarah Indonesia di zaman penjajahan Jepang hingga peristiwa G30S di tahun 1965 akan menemani pembaca selama membaca Gadis Kretek. Siapakah Jeng Yah yang dicari oleh Soeraja?
Novel ini telah diangkat menjadi serial Netflix dengan judul yang sama. Serial tersebut telah tayang sejak 2 November 2023.
Baca Juga: Menelusuri Pertempuran Surabaya, Inilah Sejarah Singkat Hari Pahlawan 10 November 1945
3. Cantik itu Luka - Eka Kurniawan
Cantik itu Luka menceritakan perempuan bernama Dewi Ayu.
Ia merupakan perempuan keturunan Indonesia-Belanda yang bekerja sebagai pemuas nafsu laki-laki karena suatu keadaan.
Dewi Ayu memiliki tiga anak perempuan yang cantik. Namun, kecantikan ketiga anak tersebut membawa kejadian buruk pada mereka.
Saat Dewi Ayu hamil anak keempat, ia berdoa agar anak tersebut terlahir buruk rupa.
Anak tersebut diberi nama Cantik. Nahas, Dewi Ayu meninggal 12 hari setelah melahirkan tanpa pernah melihat wajah Cantik.
Cantik itu Luka akan bercerita mengenai kehidupan Dewi Ayu dan asal-usul keluarganya dipadu dengan sejarah, fantasi, dan komedi satir.
Baca Juga: Deklarasi Kemerdekaan Palestina Menjadi Tonggak Penting dalam Sejarah Perjuangan Rakyat Palestina
4. Teh dan Pengkhianat - Iksaka Banu
Buku ini berisi 13 cerita pendek yang semuanya berlatar masa kolonial Belanda.
Pembaca akan merasakan perasaan tokoh yang ada, seperti senang, sedih, dan kecewa.
Tidak hanya mengenai sejarah, buku ini juga berisi kisah feminisme, kemanusiaan, hingga fanatisme.
Salah satu cerita yang diceritakan adalah mengenai awal mula kaum bumiputra memakai sepeda di Hindia Belanda.
5. Burung-Burung Manyar - Y.B. Mangunwijaya
Novel ini bercerita mengenai Atik dan Teto, kekasihnya yang merupakan salah satu anggota Koninklijk Nederlandsch-Indische Leger atau KNIL, alias Tentara Kerajaan Hindia-Belanda.
Lika-liku hubungan antara Atik dan Teto akan diceritakan melalui novel ini.
Atik yang berani dan aktif ikut bekerja membantu Sjahrir, revolusioner dan pejuang kemerdekaan Indonesia. Novel ini berlatar tahun 1934-1978.
Baca Juga: Penting dalam Konflik Israel dan Palestina, Ini Sejarah Masjid Al-Aqsa
6. Entrok - Okky Madasari
Entrok mengisahkan kehidupan rakyat kecil selama masa Orde Baru. Tokoh utama dalam novel ini adalah Marni.
Marni sangat menginginkan entrok atau bra yang dianggap sebagai pakaian orang berada di masa itu.
Keinginan Marni terkabul setelah ia bekerja keras dan hidup berkecukupan. Marni akhirnya juga berkeluarga hingga mempunyai anak.
Rahayu, anak Marni, merupakan perempuan yang berpendidikan dan percaya akan adanya Tuhan.
Sedangkan, Marni tak mengenal Tuhan, masih percaya terhadap leluhur.
Di tengah perbedaan tersebut, mereka menyadari bahwa mereka memiliki satu kesamaan, yaitu mereka merupakan korban penguasa pada masa itu.
Baca Juga: Kisah Menyentuh, Sejarah Semangka Menjadi Simbol Ketahanan Palestina
7. Amba - Laksmi Pamuntjak
Cerita novel ini diawali oleh kisah romansa antara Amba dan Bhisma pasca peristiwa G30S tahun 1965. Amba dan Bhisma terpaksa berpisah karena situasi politik.
Melalui novel ini, pembaca juga akan mengetahui gambaran pengasingan tahanan politik di Pulau Buru.
Kesedihan dan kesengsaraan akibat sejarah kelam Indonesia akan ditampilkan dibarengi kisah kasih di zaman tersebut.
8. Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk - Ahmad Tohari
Trilogi novel ini terdiri dari Ronggeng Dukuh Paruk, Lintang Kemukus Dini Hari, dan Jantera Bianglala.
Srintil merupakan ronggeng baru di Dukuh Paruk. Srintil yang cantik dan menggoda dilecehkan karena menjadi objek seksualitas.
Srintil juga dicap menjadi bagian dari peristiwa G30S 1965. Akibat hal tersebut, Srintil menjadi sadar bahwa ia harus memperbaiki namanya yang telah rusak.
Ronggeng Dukuh Paruk telah diadaptasi menjadi film dengan judul yang sama dan dirilis tahun 2011.
Baca Juga: Isi Sumpah Pemuda dan Maknanya, Ikrar Pemersatu Bangsa Indonesia
9. Laut Bercerita - Leila S. Chudori
Laut Bercerita membagi ceritanya ke dua cerita dengan dua sudut pandang.
Bagian pertama menceritakan mengenai Biru Laut, seorang aktivis yang sangat aktif bersuara di rentang tahun 1991-1998.
Bagian kedua menceritakan mengenai Asmara Jati, sosok saudara yang kehilangan anggota keluarga akibat peristiwa politik di masa lampau. Bagian kedua diceritakan dalam rentang tahun 2000-2007.
10. Segala yang Diisap Langit - Pinto Anugerah
Latar waktu pada novel ini adalah tahun 1800-an. Rabiah berusaha memutus mitos mengenai putusnya garis keturunan pada keturunan ketujuh pada keluarga Minangkabau.
Ternyata, ia harus berhadapan dengan kakaknya sendiri, yaitu Magek.
Magek akan berusaha menghancurkan Rubiah setelah ia bergabung dengan Kaum Padri dari utara.
Baca Juga: Sosok Johanna Tumbuan Masdani, Pembaca Naskah Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928
11. Tetralogi Buru - Pramoedya Ananta Toer
Tetralogi Buru terdiri dari Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca.
Tokoh utama dalam tetralogi ini adalah Minke.
Melalui empat novel tersebut, pembaca akan dibawa dalam perjuangan Minke melawan Belanda. Selain itu, pembaca juga akan hanyut dalam kisah cinta dan tradisi dalam masa tersebut.
12. Sang Keris - Panji Sukma
Sudut pandang yang dipakai dalam novel ini adalah sudut pandang kedua dari sebuah keris bernama Kanjeng Kyai Karonsih.
Keris tersebut mengalami perpindahan kepemilikan sejak masa kerajaan hingga abad ke-21 atau masa kini.
Dengan perpindahan kepemilikan tersebut, ada banyak tokoh yang diceritakan melalui saksi bisu sebuah keris. Tokoh yang berbeda akan membawa pembaca dengan kisah yang berbeda pula.
Baca Juga: Rumah Sie Kong Lian, Tempat Lahirnya Sumpah Pemuda yang Kini Jadi Museum
13. Orang-Orang Proyek - Ahmad Tohari
Orang-Orang Proyek menceritakan Kabul, seorang insinyur yang bekerja sebagai pelaksana proyek dalam pembangunan jembatan saat Orde Baru.
Ternyata, pembangunan jembatan diiringi dengan terjadinya korupsi yang besar di masa itu.
Hal tersebut membuat Kabul resah karena mutu jembatan akan kurang karena biaya yang kurang juga akibat korupsi.
Pembaca akan mengetahui buruknya oknum yang mengambil biaya untuk kepentingan umum.
Baca Juga: Sejarah Lagu Indonesia Raya, Pertama Kali Diputar Pada Kongres Pemuda II
14. Tanah Surga Merah - Arafat Nur
Novel ini menceritakan mengenai Murad, mantan tentara Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan Partai Merah di Nangroe Aceh Darussalam (NAD).
Ketika ia pulang setelah melarikan diri selama 5 tahun, ia menemukan banyak hal-hal berbeda dan sulit ia terima.
Murad yang menerima banyak tuduhan dari banyak orang harus menyamar agar tidak ketahuan.
15. Max Havelaar - Multatuli
Penolakan Multatuli atau Eduard Douwes Dekker dengan penjajahan Belanda akan menjadi kisah utama dalam buku ini.
Buku tersebut menjadi kritik terhadap penindasan akibat kolonialisme.***



