POJOKSATU.id – Perkembangan teknologi digital telah mengubah berbagai aspek kehidupan keagamaan, termasuk praktik penunaian zakat fitrah. 

Jika pada masa lalu masyarakat menjelang Idulfitri identik dengan membawa beras ke masjid atau musala, kini kewajiban tersebut dapat ditunaikan melalui aplikasi digital.

Dengan beberapa langkah sederhana melalui gawai, zakat fitrah dapat dibayarkan tanpa kehadiran fisik.

Dalam praktiknya, sejumlah platform digital yang dikelola lembaga resmi telah menyediakan sistem pembayaran zakat yang terstruktur.

Salah satunya adalah NU Online melalui lembaga amil zakat NU Care-LAZISNU.

Baca Juga: Jatuh Tempo Sebelum Zakat Fitrah, Bayar Utang Dulu atau Bayar Zakat? Ini Penjelasan Kemenag

Melalui sistem ini, muzakki tidak lagi dibebani perhitungan teknis terkait takaran dan harga beras di pasaran. Aplikasi telah menyediakan fitur perhitungan otomatis berdasarkan standar harga beras terkini.

Muzakki cukup memilih menu zakat fitrah, memasukkan jumlah jiwa yang dizakati, kemudian sistem akan mengonversinya ke dalam nominal uang yang setara.

Pembayaran selanjutnya dilakukan melalui berbagai kanal nontunai, seperti transfer bank atau dompet digital. Mekanisme ini menawarkan kemudahan, efisiensi waktu, serta transparansi pengelolaan dana.

Apakah Zakat Fitrah Melalui Aplikasi Sah?

Perkembangan ini membuka diskursus baru terkait fiqih zakat. Apakah sistem pembayaran zakat melalui aplikasi hukumnya sah?

Tulisan ini hadir untuk mengurai sistem pembayaran zakat fitrah tersebut secara komprehensif.

Baca Juga: Kronologi BPRS HIK Parahyangan Beli Lahan 5,4 Hektare di Cianjur tapi 2 Tahun tak Dibayar sampai Pemilik Lahan Ngadu ke KDM

Pembayaran zakat melalui aplikasi sejatinya merupakan bentuk mewakilkan zakat. Aplikasi yang dikelola oleh lembaga amil zakat bertindak sebagai wakil yang menerima amanah dari pemberi zakat (muzakki) untuk menyalurkan zakat tersebut kepada yang berhak (mustahik).

Dalam konteks ini, keabsahan zakat bergantung pada terpenuhinya niat pada saat penyerahan zakat kepada wakil.

Niat tersebut dapat dilakukan ketika proses pembayaran berlangsung, baik saat menekan tombol pembayaran maupun ketika dana ditransfer.

Ketentuan ini ditegaskan oleh Syekh Mahfudz Termas dalam Hasyiah at-Tasmasi:

الْحَاصِلُ أَنَّهُ يَجُوزُ تَقْدِيمُ النِّيَّةِ عِنْدَ إقْرَارِ الزَّكَاةِ أَوْ مَعَهُ أَوْ عِنْدَ إعْطَائِهَا الْوَكِيلَ أَوْ عِنْدَ تَفْرِيقِهِ

Al-hashilu annahu yajuzu taqdimun-niyyah ‘inda iqrariz-zakah aw ma’ahu aw ‘inda i’tha’iha al-wakila aw ‘inda tafriqiha.

Baca Juga: Kisi-kisi TKA SMP 2026 Lengkap, Materi Matematika dan Bahasa Indonesia, DOWNLOAD Contoh Soal untuk Latihan

Artinya, “Kesimpulannya niat boleh dilakukan saat menetapkan kewajiban zakat, atau bersamaan dengannya, atau saat menyerahkan zakat kepada wakil, atau memisahnya,” (Syekh Mahfudz Termas, Hasyiah at-Tasmasi, [Jeddah, Darul Minhaj: 2021], jilid V, halaman 31).

Zakat Fitrah Dibayar dengan Uang

Praktik zakat melalui aplikasi secara otomatis menggunakan instrumen uang, bukan beras secara fisik di tangan muzakki.

Meskipun mayoritas ulama Syafi’iyah mewajibkan zakat fitrah dengan makanan pokok, masyarakat tetap boleh membayar dengan uang.

Hal ini merujuk pada keputusan Bahtsul Masa-il LBM-PBNU di Jakarta, 18 Mei 2020 tentang pembayaran zakat fitrah dengan uang.

Dalam keputusan tersebut dijelaskan bahwa masyarakat diperbolehkan membayar zakat fitrah dengan uang sesuai harga beras 2,7 kilogram atau 3,5 liter atau 2,5 kilogram sesuai kualitas beras yang layak dikonsumsi oleh masyarakat setempat.

Dalam hal ini masyarakat juga dapat mengikuti pendapat ulama dalam mazhab Maliki yang memperbolehkan pembayaran zakat fitrah dengan uang.

Baca Juga: Besaran Zakat Fitrah 2026 Resmi Ditetapkan, Kapan Batas Waktu Pembayarannya? Wajib Disimak Sebelum Bayar Zakat

Di dalam mazhab Maliki, timbangan sha’nya memiliki bobot yang sama dengan mazhab Syafi’i.

Pendapat tersebut merujuk kepada penjelasan Syekh Ibnu Qasim dalam kitab al-Taj wa al-Iklil li Mukhtashar Khalil berikut:

وَمِنَ الْمُدَوَّنَةِ قَالَ مَالِكٌ: لَا يُجْزِئُهُ أَنْ يَدْفَعَ فِي الْفِطْرَةِ ثَمَنًا، وَرَوَى عِيسَى عَنِ ابْنِ الْقَاسِمِ: فَإِنْ فَعَلَهُ أَجْزَأَهُ

Wa minal-Mudawwanah qala Malik: la yujzi’uhu an yadfa’a fil-fithrati tsamanan. Wa rawa ‘Isa ‘an Ibni al-Qasim: fa in fa’alahu ajza’ahu.

Artinya, “Di dalam kitab al-Mudawwanah, Imam Malik berkata: ‘Tidaklah cukup bagi seseorang yang membayar zakat fitrahnya dengan bentuk uang’. Syekh Isa meriwayatkan dari Imam Ibnu Qasim yang berkata: ‘Jika seseorang membayar zakat fitrah dengan uang, maka hal itu sudah dianggap cukup (sah).’” (Muhammad bin Yusuf al-‘Abdari, al-Taj wa al-Iklil li Mukhtashar, [Beirut, Darul Fikr: 1398], jilid II, halaman 366).

Baca Juga: Kisi-kisi TKA Bahasa Indonesia SD 2026: Materi yang Diujikan, Keterampilan Membaca, dan Cara Ikut Simulasi

Kebolehan untuk berpindah (taqlid) ke pendapat mazhab lain dalam hal zakat dengan uang ini juga dijelaskan oleh Sayyid ‘Alawi bin Sayyid Ahmad as-Saqqaf:

قَاعِدَةٌ: لَا يَجُوزُ فِي مَذْهَبِ الْإِمَامِ الشَّافِعِيِّ رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى إِخْرَاجُ الْعَرَضِ عَنِ الْقِيمَةِ، فَمَنْ أَرَادَ إِخْرَاجَهَا عَنْهَا فَلَهُ تَقْلِيدُ غَيْرِهِ مِمَّنْ يَرَى الْجَوَازَ كَمَا أَفْتَى ابْنُ حَجَرٍ وَغَيْرُهُ بِجَوَازِ التَّقْلِيدِ فِي ذَلِكَ

Qa’idatun: la yajuzu fi madzhabil Imam asy-Syafi’i rahimahullah ta’ala ikhraju al-‘aradhi ‘anil-qimah. Faman arada ikhrajaha ‘anha falahu taqlidu ghairihi mimman yara al-jawaz kama afta Ibnu Hajar wa ghairuhu bi jawazi at-taqlid fi dzalik.

Artinya: “Di dalam mazhab Imam As-Syafi’i RA tidak diperbolehkan membayar zakat dengan barang lain atas nama harga barter (dari benda yang ditentukan dalam teknik pembayaran zakat). 

Siapa saja yang ingin menunaikan zakat dengan cara yang tidak dibenarkan dalam pandangan mazhab Syafi’i RA ini dipersilakan untuk bertaqlīd kepada ulama dari mazhab lain yang membolehkannya sebagaimana yang difatwakan oleh Syekh Ibnu Hajar dan imam lainnya tentang kebolehan bertaqlīd dalam persoalan tersebut.” (Tarsyih al-Mustafidin, halaman 154).

Baca Juga: Ini Doa Malam Lailatul Qadar yang Dianjurkan Nabi Muhammad SAW, Lengkap dengan Arti dan Amalan yang Bisa Dilakukan

Penyaluran Zakat Bisa ke Daerah Lain

Karakteristik lain dari zakat melalui aplikasi adalah penyalurannya yang sering kali di luar daerah muzakki.

Misalnya, muzakki berada di Jakarta, namun zakatnya disalurkan ke daerah di pelosok atau tempat tertentu yang lebih membutuhkan.

Dalam fiqih klasik, terdapat perbedaan pendapat mengenai memindahkan zakat dari tempat muzakki berada (naqlu zakat).

Meskipun pendapat yang kuat (adzhar) dalam mazhab Syafi’i cenderung melarang pemindahan zakat selama masih ada mustahik di daerah tersebut, namun terdapat pendapat kedua yang membolehkannya.

Baca Juga: Tak Disangka, Rismon Sianipar yang Biasanya Garang Ajukan Restorative Justice Kasus Ijazah Jokowi

Pendapat ini sering diambil oleh lembaga zakat nasional agar distribusi keadilan sosial dapat merata ke daerah-daerah yang jauh lebih membutuhkan.

Syekh Ahmad Salamah al-Qulyubi menjelaskan hal ini sebagai berikut:

وَالْأَظْهَرُ مَنْعُ نَقْلِ الزَّكَاةِ مِنْ بَلَدِ الْوُجُوبِ مَعَ وُجُودِ الْمُسْتَحِقِّينَ فِيهِ إِلَى بَلَدٍ آخَرَ فِيهِ الْمُسْتَحِقُّونَ ... وَلَوْ عُدِمَ الْأَصْنَافُ فِي الْبَلَدِ وَوَجَبَ النَّقْلُ إِلَى أَقْرَبِ الْبِلَادِ إِلَيْهِ ... وَالثَّانِي يَجُوزُ النَّقْلُ وَتُجْزِئُ وَاخْتَارَهُ جَمَاعَةٌ مِنْ أَصْحَابِ الشَّافِعِيِّ كَابْنِ الصَّلَاحِ وَابْنِ الْفَرْكَاحِ وَغَيْرِهِمْ

Wal-azhharu man’u naqli az-zakah min baladil-wujub ma’a wujudi al-mustahiqqin fihi ila baladin akhar fihi al-mustahiqqun... walau ‘udimal-ashnaf fil-balad wa wajaba an-naqlu ila aqrabil-bilad ilaihi... wat-tsani yajuzu an-naqlu wa tujzi’u wakhtarahu jama’ah min ashabi asy-Syafi’i ka Ibni Shalah wa Ibni al-Farkah wa ghairihim.

Artinya, “Menurut qoul adzhar tidak boleh memindah zakat dari tempat diwajibkannya mengeluarkan zakat ketika masih ada orang-orang yang berhak menerima zakat, dipindah ke daerah lain yang juga ada orang-orang yang berhak menerimanya. 

Baca Juga: Bupati Rejang Lebong Minta Fee 15 Persen Dinas PUPR, Tandai Rekanan Pemenang dengan Kode Huruf

Jika di suatu daerah tidak ditemukan golongan penerima zakat, maka wajib memindahkan zakat ke daerah terdekat. Sedangkan menurut pendapat yang kedua boleh memindah zakat dan sudah dianggap mencukupi karena berdasarkan kemutlakan firman Allah. 

Pendapat kedua ini telah dipilih oleh segolongan ulama dari ashab imam Syafi’i, seperti Ibnu Shalah, Ibnu Al-Farkah dan ulama yang lainnya.” (Hasyiah al-Qulyubi, jilid III, halaman 204).

Dengan demikian, pembayaran zakat fitrah melalui aplikasi yang dikelola lembaga resmi hukumnya sah secara syariat.

Praktik zakat fitrah melalui aplikasi dapat dipahami sebagai bentuk adaptasi fiqih yang tetap berpijak pada prinsip-prinsip syariat tanpa mengabaikan kebutuhan zaman. Waallahu a’lam. ***