POJOKSATU.ID – Setelah menahan lapar dan dahaga selama kurang lebih 13 jam, momen berbuka puasa seringkali menjadi ajang balas dendam.
Berbagai hidangan mulai dari gorengan, es buah, hingga nasi padang kerap tersaji di meja.
Namun, pakar kesehatan memperingatkan agar masyarakat tidak langsung menyantap makanan berat saat azan berkumandang.
Mengapa kita harus mengerem nafsu makan di awal waktu berbuka?
Ternyata, memasukkan porsi besar secara mendadak bisa memicu fenomena yang sering disebut sebagai "lambung kaget".
Baca Juga: Urutan Berbuka Puasa Sesuai Tuntunan Rasulullah SAW: Meraih Pahala Sekaligus Menjaga Kesehatan Tubuh
Kenapa Lambung Bisa "Kaget"?
Selama berpuasa, sistem pencernaan kita beristirahat dan memproduksi lebih sedikit enzim pencernaan.
Jika tiba-tiba dihantam dengan makanan berlemak, tinggi serat kasar, atau karbohidrat kompleks dalam jumlah besar, lambung akan dipaksa bekerja ekstra keras secara instan.
Beberapa risiko kesehatan yang mengintai antara lain:
Gangguan Pencernaan (Dispepsia): Perut akan terasa begah, kembung, dan penuh karena lambung belum siap mengolah makanan.
Naiknya Asam Lambung (GERD): Tekanan yang terlalu besar pada lambung dapat memicu asam lambung naik ke kerongkongan, menyebabkan rasa panas di dada (heartburn).
Lonjakan Gula Darah: Makan berat secara langsung menyebabkan kadar glukosa melonjak drastis, yang seringkali justru membuat tubuh terasa lemas dan mengantuk setelah makan.
Kram Perut: Otot lambung yang kaku setelah istirahat seharian bisa mengalami kontraksi hebat jika dipaksa mencerna makanan berat.
Sebagai catatan tambahan, sebaiknya hindari konsumsi minuman yang terlalu dingin atau makanan yang terlalu pedas saat perut masih dalam keadaan kosong
Karena suhu ekstrem dan zat kapsaisin dapat memicu iritasi pada dinding lambung yang sensitif.
Pada akhirnya, menjaga pola makan saat berbuka bukan hanya sekadar urusan menahan nafsu makan, melainkan sebuah bentuk apresiasi terhadap tubuh yang telah bekerja keras selama berpuasa.
Dengan cara ini, niat sehat kita dalam menjalankan ibadah puasa tidak akan terganggu oleh masalah kesehatan yang sebenarnya bisa dicegah.***




