POJOKSATU.id — Black mold atau jamur hitam bukan sekadar masalah estetika pada rumah.
Jamur ini diketahui dapat menimbulkan dampak serius bagi kesehatan, terutama jika tumbuh dan menyebar di lingkungan hunian tanpa penanganan yang tepat.
Black mold umumnya merujuk pada jenis jamur Stachybotrys chartarum, yang tumbuh di area lembap, basah, dan minim sirkulasi udara.
Baca Juga: Hari ke-4 Pencarian Korban Pesawat ATR 42-500, 16 Warga Pencari Madu di Gunung Bulusaraung Dilibatkan
Jamur ini kerap muncul di dinding bocor, plafon, kamar mandi, area bekas banjir, hingga sistem pendingin udara yang jarang dibersihkan.
Yang membuat black mold berbahaya adalah kemampuannya menghasilkan mycotoxin, zat beracun yang dapat mengganggu berbagai sistem dalam tubuh manusia.
Paparan black mold paling sering terjadi melalui udara. Spora jamur yang beterbangan dapat terhirup tanpa disadari, terutama di ruangan tertutup.
Baca Juga: Puasa Tetap Jalan, Program Tak Boleh Berhenti, MBG Tetap Dibagikan Saat Ramadan dengan Skema Bawa Pulang
Selain itu, kontak langsung dengan permukaan berjamur atau tangan yang terkontaminasi juga dapat menjadi jalur masuk zat berbahaya ke dalam tubuh.
Salah satu dampak paling umum dari paparan black mold adalah gangguan pernapasan.
Gejala yang sering muncul meliputi batuk berkepanjangan, hidung tersumbat, sesak napas, tenggorokan perih, hingga napas berbunyi.
Baca Juga: Tertibkan Honorer Non-ASN, Pemkab Siak Bentuk 8 Tim Khusus untuk Verifikasi Data
Pada penderita asma atau penyakit paru, kondisi ini dapat memperparah gejala yang sudah ada.
Black mold juga dikenal sebagai pemicu reaksi alergi.
Beberapa orang mengalami bersin terus-menerus, mata gatal dan berair, ruam kulit, hingga peradangan sinus.
Menariknya, reaksi alergi ini bisa muncul meski seseorang sebelumnya tidak memiliki riwayat alergi.
Baca Juga: JHT Puluhan Juta Tertahan! PPPK Paruh Waktu Medan Curhat ke Presiden Prabowo
Dalam paparan jangka panjang, mycotoxin yang dihasilkan black mold dapat menyebabkan gangguan sistem saraf.
Keluhan seperti sakit kepala berat, pusing, kelelahan ekstrem, sulit konsentrasi, hingga gangguan daya ingat kerap dilaporkan pada individu yang tinggal di lingkungan terkontaminasi jamur.
Kelompok rentan seperti bayi, anak-anak, lansia, ibu hamil, serta orang dengan daya tahan tubuh lemah memiliki risiko lebih tinggi mengalami infeksi serius, termasuk infeksi paru-paru dan radang sinus kronis.
Baca Juga: Catat! KIP Kuliah 2026 Segera Dibuka, Calon Mahasiswa Wajib Tahu
Tak hanya itu, kontak langsung dengan black mold juga dapat menimbulkan masalah kulit, seperti iritasi, gatal, dermatitis, hingga luka yang sulit sembuh jika paparan terjadi berulang.
Beberapa tanda rumah terpapar black mold antara lain munculnya bau apek menyengat, bercak hitam di dinding atau plafon, cat yang mengelupas akibat lembap, serta penghuni rumah yang sering mengalami gangguan kesehatan tanpa sebab yang jelas.
Untuk mencegah risiko, penting menjaga rumah tetap kering dan memiliki ventilasi baik.
Baca Juga: Universitas Faletehan Perkuat Kiprah Global di Bidang Sains dan Teknologi Kesehatan
Kebocoran air harus segera diperbaiki, kelembapan ruangan dijaga di bawah 60 persen, dan area berjamur dibersihkan dengan perlindungan yang memadai.
Jika jamur sudah menyebar luas, penanganan oleh tenaga profesional sangat disarankan.
Mengabaikan black mold bukan hanya merusak bangunan, tetapi juga dapat berdampak jangka panjang pada kesehatan penghuni rumah.***




