POJOKSATU.id — Gadget kini sudah jadi bagian dari keseharian anak-anak.

Mulai dari ponsel, tablet, hingga televisi, hampir setiap aktivitas selalu bersinggungan dengan layar. Apalagi sejak pandemi, banyak kegiatan belajar dan hiburan yang berpindah ke dunia digital.

Namun, para ahli mengingatkan, terlalu lama menatap layar atau yang dikenal dengan istilah screen time ternyata bisa berdampak serius bagi kesehatan dan perkembangan anak.

Jika dibiarkan tanpa pengawasan, risiko jangka pendek maupun panjang bisa muncul sejak usia dini.

Baca Juga: Kontribusi Rp150 Triliun, Mengapa Pekerja Ekonomi Gig Masih Minim Perlindungan?

Gangguan Perkembangan Akibat Screen Time Berlebihan
Menurut dr. Farid, anak usia di bawah lima tahun adalah kelompok yang paling rentan.

Waktu layar yang terlalu lama membuat anak kekurangan aktivitas fisik, sehingga berisiko mengalami keterlambatan perkembangan motorik kasar maupun halus.

Bukan hanya itu, screen time berlebihan juga sering dikaitkan dengan keterlambatan bicara dan bahasa.

Anak cenderung pasif, sulit memproses informasi, dan kurang terlatih dalam berpikir logis maupun kreatif.

Baca Juga: Ribuan Warga Ikuti Mancing Gratis Hari Jadi Karawang ke-392

Kondisi ini semakin berbahaya jika anak mengakses konten yang tidak sesuai dengan usianya.

Tak kalah penting, masalah perilaku juga kerap muncul. Anak bisa menjadi hiperaktif, mudah tantrum, sulit fokus, bahkan agresif. Dalam beberapa kasus, kebiasaan ini berujung pada perilaku antisosial.

Masalah Tidur hingga Risiko Obesitas
Penggunaan gadget menjelang tidur juga menjadi pemicu utama gangguan tidur pada anak.

Baca Juga: 7 Motor Listrik Bodi Kekar Bergaya Moge, Pilihan Premium Ramaikan Jalanan Indonesia, Fitur Modern Harga Bersahabat

Otak mereka yang terus distimulasi oleh layar sulit beristirahat, sehingga memengaruhi hormon pertumbuhan dan konsentrasi di siang hari.

Selain itu, obesitas pun bisa mengintai. Anak yang betah duduk berjam-jam di depan layar biasanya jarang melakukan aktivitas fisik.

Lebih parahnya lagi, mereka cenderung mengonsumsi makanan ringan tinggi gula dan lemak sambil bermain gadget. Kombinasi ini tentu berbahaya bagi kesehatan jangka panjang.

Baca Juga: Uji Coba Portal Bansos Digital, Gus Ipul Pastikan Penyaluran Lebih Transparan

Ancaman Cahaya Biru dari Layar Digital
Salah satu bahaya yang sering diabaikan adalah paparan cahaya biru. Menurut dr. Farid, cahaya biru dari layar gadget bisa menghambat produksi melatonin, hormon yang berfungsi mengatur pola tidur.

“Efek cahaya biru lebih berisiko bagi anak dibanding orang dewasa, karena sistem saraf mereka masih dalam tahap perkembangan,” jelasnya.

Akibatnya, anak yang terlalu lama bermain gadget bisa mengalami susah tidur, mudah rewel, atau justru lebih aktif di malam hari. Kondisi ini tentu berdampak buruk pada perkembangan fisik dan emosional.

Baca Juga: Cara Edit Foto Jadi Miniatur Pakai AI, Bisa Motor hingga Foto Bareng Pasangan

Peran Orang Tua Sangat Penting
Para ahli sepakat, orang tua memegang peranan besar dalam membentuk kebiasaan sehat anak terhadap teknologi.

Tanpa aturan dan pendampingan yang jelas, anak bisa dengan mudah mengembangkan ketergantungan pada gadget.

Beberapa langkah pencegahan yang bisa dilakukan orang tua antara lain:
- Membatasi screen time sesuai usia anak.

- Membuat aturan keluarga terkait penggunaan gadget.

Baca Juga: Ditembak Pembunuh Bayaran di Peru, Pegawai Kemlu Zetro Purba Berasal dari Humbang Hasundutan

- Menjadi teladan dengan menggunakan gadget secara bijak.

- Mengajak anak aktif beraktivitas di luar rumah, seperti berolahraga atau bermain bersama teman.

- Memilih konten edukatif yang sesuai usia.

- Membiasakan anak untuk tidak menggunakan gadget setidaknya satu jam sebelum tidur.

Baca Juga: Kemensos Berikan Bantuan untuk Keluarga Ojol Korban Unjuk Rasa Termasuk Keluarga Affan Kurniawan

Dengan langkah sederhana tersebut, orang tua dapat membantu anak tumbuh sehat, cerdas, dan seimbang meski hidup di era digital.

Bijak Hadapi Era Digital
Paparan layar memang tidak bisa dihindari sepenuhnya di masa sekarang. Namun, dengan pengaturan waktu yang tepat, pemilihan konten yang sesuai, serta keterlibatan aktif orang tua, screen time bisa tetap bermanfaat tanpa mengorbankan tumbuh kembang anak.

Baca Juga: Airlangga Hartarto Ingatkan Pengusaha, Jangan Lakukan PHK! Utamakan Lapangan Kerja

Anak tetap membutuhkan interaksi sosial, aktivitas fisik, dan kreativitas di luar layar.

Maka dari itu, keseimbangan antara dunia digital dan dunia nyata sangatlah penting demi masa depan mereka yang lebih sehat dan cerah.***