POJOKSATU.id - Melatih kesabaran di bulan Ramadan sangat penting. Manusia diuji keimanan dan ketakwaannya, termasuk ketika harus menahan haus dan lapar yang bisa memengaruhi kestabilan emosi.

Sejalan dengan sabda Rasulullah, “Puasa adalah setengah dari kesabaran.” (HR. Tirmidzi). Artinya, puasa bukan hanya soal menahan makan dan minum, tetapi juga mengendalikan diri dari amarah.

Lalu, bagaimana jika seseorang marah saat berpuasa? Apakah itu membatalkan puasanya?

Baca Juga: Aktivasi Rekening BSU dan Insentif Guru Diperpanjang hingga 30 Juni 2026, Cek Lagi Kriteria, Syarat Khusus dan Mekanismenya

Apakah Marah Membatalkan Puasa?

Puasa batal dapat dikategorikan dalam dua jenis.

- Pertama, batal secara hukum seperti makan dan minum dengan sengaja.

- Kedua, tidak batal puasanya, tetapi pahala puasanya yang berkurang atau bahkan hilang.

Pahala puasa bisa berkurang karena iri, dengki, berdusta, ghibah, fitnah, dan marah.

Dalam kondisi ini, puasanya tetap sah, tetapi ia tidak mendapatkan apa-apa selain lapar dan dahaga.

Ustaz Hilman Fauzi menjelaskan bahwa emosi dan marah tidak membatalkan puasa.

Baca Juga: Orang Tua Wajib Tahu, Jadwal Libur Awal Puasa Ramadan 2026 SD-SMA, Lakukan dan Maksimalkan Ini

Namun, marah dapat mengurangi pahala puasa di sisi Allah. Nilai ibadah puasa pun bisa berkurang.

Orang yang marah saat berpuasa dianjurkan tetap melanjutkan puasanya hingga waktu berbuka.

Hukum yang sama juga berlaku bagi orang yang memicu kemarahan orang lain. Membuat orang kesal atau membangkitkan amarah juga dapat mengurangi kesempurnaan puasa.

Islam adalah agama yang cinta damai. Karena itu, marah dan emosi termasuk perbuatan yang tidak disenangi Allah SWT.

Rasulullah SAW bersabda:

“Laisasy syadiidu bish shura’ah, innamas syadiidul ladzi yamliku nafsahu ‘indal ghadab.”

Artinya: "Yang namanya kuat bukanlah dengan pandai bergelut. Yang disebut kuat adalah yang dapat menguasai dirinya ketika marah." (HR. Bukhari no. 6114 dan Muslim no. 2609).

Baca Juga: Strategi Wajib Belajar 13 Tahun Digeber, Kemendikdasmen Sasar 191 Ribu Anak Tidak Sekolah pada 2026

Mengurangi Esensi Puasa

Tentang pahala puasa, Rasulullah SAW juga mengingatkan:

“Rubba shaaimin hazhzuhu min shiyaamihil juu’u wal ‘athasy.”

Artinya: "Berapa banyak orang berpuasa yang tidak mendapatkan apa-apa kecuali lapar dan dahaga saja." (HR. Ibnu Majah no.1690, dinilai hasan shahih).

Hadis ini menjadi peringatan agar umat Islam tidak hanya fokus pada menahan lapar dan haus, tetapi juga menjaga lisan, hati, dan sikap.

Baca Juga: Mengapa Ziarah Kubur Sebelum Ramadhan Banyak Dilakukan? Ini Alasannya dan Dalil Anjurannya

Cara Menahan Amarah Menurut Ulama

Imam Al Ghazali, sebagaimana dikutip Syekh Jamaluddin Al Qasimi, memberikan panduan praktis dalam meredam amarah.

“Wa amma al-‘amalu fa an taquula bilisaanika: A’uudzu billaahi minasy syaithaanir rajiim. Wa in kunta qaaiman fajlis, wa in kunta jaalisan fadhthaji’. Wa yustahabbu an yatawadhdha’a bil maa’il baarid, fa innal ghadaba minan naar, wan naaru laa yuthfi’uhaa illal maa’.”

Artinya: “Adapun (mengatasi amarah dengan) amal, katakanlah dengan lisanmu: A’uudzu billaahi minasy syaithaanir rajiim (aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk).

Jika engkau berdiri, duduklah. Jika duduk, berbaringlah. Disunnahkan berwudhu dengan air dingin, karena marah berasal dari api dan api tidak dapat dipadamkan kecuali dengan air.”

Baca Juga: Menkeu Sebut THR ASN 2026 Diupayakan Cair Awal Ramadhan, Masih Menunggu PP

Jadi, apakah marah membatalkan puasa? Jawabannya tidak.

Namun, amarah bisa menggerus pahala yang seharusnya menjadi bekal di akhirat. Ramadan adalah latihan pengendalian diri. Jika mampu menahan marah, itulah kekuatan sejati yang diajarkan Islam. ***