POJOKSATU.id — Jepang dikenal sebagai negara maju dengan teknologi canggih, budaya disiplin tinggi, serta sistem pendidikan dan pekerjaan yang kompetitif.
Namun, di balik kehidupan modern tersebut, terdapat sebuah fenomena sosial yang cukup mengkhawatirkan, yakni hikikomori.
Istilah hikikomori merujuk pada kondisi ketika seseorang memilih menarik diri dari kehidupan sosial dan mengurung diri di rumah dalam waktu sangat lama.
Baca Juga: TMMD 128 Kodim Cilegon Gandeng BNN Edukasi Bahaya Narkoba ke Pelajar SMPN 6 Cilegon
Bahkan, sebagian orang yang mengalami kondisi ini dapat mengisolasi diri selama berbulan-bulan hingga bertahun-tahun tanpa banyak berinteraksi dengan dunia luar.
Secara bahasa, hikikomori berasal dari bahasa Jepang, yaitu hiki yang berarti menarik dan komori yang berarti mengurung diri.
Dalam konteks sosial, istilah ini digunakan untuk menggambarkan individu yang menjauh dari lingkungan sekitar, tidak bersekolah, tidak bekerja, dan membatasi komunikasi dengan orang lain.
Baca Juga: Sinopsis Film Children of Heaven 2026, Adaptasi Film Iran yang Kini Berlatar Indonesia
Sebagian besar pengidap hikikomori menghabiskan waktu di kamar dengan bermain game, menonton film, membaca, atau menggunakan internet.
Mereka cenderung menghindari kontak sosial, bahkan dengan teman dekat atau kerabat.
Fenomena ini banyak dikaitkan dengan berbagai faktor. Salah satunya adalah tekanan akademik dan dunia kerja yang cukup tinggi di Jepang.
Baca Juga: 'Scoopy Your Mode, Your Ride' Hadirkan City Rolling Unik dan Nuansa Retro Fashionable di Bandung
Tuntutan untuk berprestasi sejak usia muda membuat sebagian orang merasa kewalahan hingga memilih menarik diri dari lingkungan sosial.
Selain itu, pengalaman buruk seperti perundungan atau bullying di sekolah, kecemasan sosial, trauma, hingga tekanan keluarga juga dianggap menjadi penyebab munculnya hikikomori.
Dalam beberapa kasus, rasa takut gagal atau malu terhadap penilaian sosial membuat seseorang memilih hidup tertutup.
Meski sering dianggap sama, hikikomori berbeda dengan kepribadian introvert.
Seseorang dengan kepribadian introvert tetap dapat menjalani aktivitas sehari-hari, bekerja, belajar, dan bersosialisasi, meskipun lebih menyukai lingkungan tenang.
Sebaliknya, hikikomori lebih mengarah pada kondisi penarikan diri sosial yang ekstrem hingga mengganggu kehidupan normal.
Fenomena hikikomori kini menjadi perhatian serius di Jepang.
Pemerintah setempat bahkan telah melakukan berbagai pendekatan untuk membantu para pengidap kembali bersosialisasi, termasuk menyediakan layanan konseling dan pendampingan sosial.
Tidak hanya terjadi di Jepang, pola hidup serupa juga mulai ditemukan di sejumlah negara lain seiring meningkatnya tekanan sosial dan perkembangan dunia digital yang membuat interaksi daring semakin dominan.***




