POJOKSATU.id - Mempercayakan anak kepada daycare tentu membuat orang tua berharap si kecil berada di tempat yang aman dan nyaman.

Namun, karena belum semua anak mampu menceritakan pengalaman mereka secara jelas, orang tua perlu lebih peka terhadap perubahan yang terjadi setelah anak mengikuti aktivitas di daycare.

Perubahan tersebut bisa terlihat dari perilaku, emosi, pola tidur, nafsu makan, hingga kondisi fisiknya.

Nah, satu tanda saja belum tentu menunjukkan adanya kekerasan.

Karena itu, orang tua perlu memperhatikan apakah perubahan tersebut muncul berulang kali dan mencari tahu penyebabnya dengan tenang.

Tiba-Tiba Takut Berangkat ke Daycare
Anak yang sebelumnya bersemangat pergi ke daycare kemudian mendadak menolak, menangis, atau menunjukkan ketakutan berlebihan tentu perlu diperhatikan.

Orang tua bisa mencoba mengajak anak berbicara dengan cara yang nyaman dan tidak mengintimidasi.

Berikan kesempatan kepada anak untuk bercerita menggunakan kata-katanya sendiri.

Perubahan tersebut juga perlu dilihat dalam konteks lain.

Bisa saja anak sedang mengalami masalah adaptasi, merasa tidak nyaman, atau menghadapi perubahan lingkungan.

Menangis Saat Bertemu Pengasuh Tertentu
Tanda lain yang patut dicermati adalah ketika anak tiba-tiba menunjukkan ketakutan kuat terhadap pengasuh tertentu.

Misalnya, anak menangis histeris atau berusaha menghindar ketika melihat seseorang yang sebelumnya biasa ditemuinya di daycare.

Kondisi seperti ini tidak boleh langsung dijadikan kesimpulan.

Namun, jika respons tersebut muncul secara berulang dan terlihat sangat berbeda dari kebiasaan anak, orang tua sebaiknya mencari tahu apa yang membuatnya merasa takut.

Pola Tidur dan Makan Berubah
Perubahan tidak selalu terlihat dalam bentuk tangisan atau penolakan. Kebiasaan sehari-hari anak juga dapat memberikan petunjuk.

Anak yang sebelumnya tidur dengan baik, misalnya, menjadi lebih sering terbangun pada malam hari.

Begitu pula dengan nafsu makan yang tiba-tiba berubah tanpa penyebab yang diketahui.

Jika perubahan berlangsung terus-menerus, orang tua dapat mencatat kapan keluhan tersebut mulai muncul dan apakah ada kaitannya dengan aktivitas di daycare.

Anak Mendadak Agresif atau Menutup Diri
Perubahan karakter yang cukup mencolok juga perlu mendapatkan perhatian.

Anak yang biasanya aktif dan mudah berinteraksi bisa saja mendadak menjadi sangat pendiam, menarik diri, atau tidak mau berkomunikasi.

Sebaliknya, ada pula anak yang justru menjadi lebih agresif, mudah marah, dan sulit mengendalikan emosinya.

Perubahan seperti ini tidak otomatis berarti anak mengalami kekerasan.

Namun, perubahan yang muncul tiba-tiba dan menetap sebaiknya tidak diabaikan.

Orang tua dapat membangun suasana aman agar anak merasa tidak takut ketika ingin bercerita.

Perhatikan Luka atau Memar yang Tidak Jelas
Kondisi fisik anak juga menjadi hal yang tidak boleh luput dari perhatian.

Jika ditemukan luka, memar, atau cedera yang penyebabnya tidak dapat dijelaskan secara wajar, orang tua perlu mencari informasi lebih lanjut mengenai apa yang terjadi.

Tanyakan kepada pihak daycare mengenai kejadian tersebut dan perhatikan apakah penjelasan yang diberikan sesuai dengan kondisi anak.

Yang terpenting, hindari langsung menyalahkan atau menekan anak.

Anak membutuhkan rasa aman agar mampu menyampaikan apa yang sebenarnya dialami.

Jangan Terburu-Buru Menarik Kesimpulan
Mengenali tanda-tanda kemungkinan kekerasan bukan berarti setiap perubahan pada anak harus langsung dianggap sebagai bukti kekerasan.

Anak dapat mengalami perubahan perilaku karena banyak hal, termasuk kelelahan, proses adaptasi, konflik dengan teman, perubahan rutinitas, atau persoalan lain yang sedang dihadapinya.

Karena itu, orang tua perlu melihat perubahan secara menyeluruh.

Perhatikan pola yang berulang, ajak anak berbicara dengan pendekatan yang lembut, serta komunikasikan kekhawatiran dengan pihak daycare.

Jika ditemukan tanda yang serius atau anak mengungkapkan pengalaman kekerasan, keselamatan dan kebutuhan anak harus menjadi prioritas.

Orang tua dapat mencari bantuan dari tenaga profesional atau pihak berwenang yang sesuai untuk memastikan anak mendapatkan perlindungan dan pendampingan.***