POJOKSATU.id - Puasa Ramadan adalah salah satu ibadah wajib bagi umat Islam. Meski begitu, tidak semua orang dapat melaksanakannya, karena alasan tertentu.

Allah SWT Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang memberikan keringanan bagi hamba-Nya yang memang tidak mampu menjalankan puasa.

Keringanan ini bukan berarti kewajiban hilang begitu saja, melainkan ada aturan pengganti seperti qadha atau fidyah.

Berikut delapan golongan yang diperbolehkan tidak berpuasa Ramadan beserta dalilnya.

Baca Juga: Musafir di Bulan Ramadan, Lebih Utama Puasa atau Berbuka? Ini Penjelasannya

1. Orang yang Sakit Menahun dan Tidak Diharapkan Sembuh

Seorang muslim yang mengalami sakit parah dan tidak diharapkan kesembuhannya mendapat keringanan untuk tidak berpuasa.

Contohnya penderita stroke berat, gangguan pencernaan kronis, hingga pasien yang harus rutin menjalani cuci darah.

Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 184:

“Ayyaman ma’dudat, faman kana minkum maridhan au ‘ala safarin fa‘iddatun min ayyamin ukhar. Wa ‘alalladzina yuthiqunahu fidyatun tha‘amu miskin. Faman tathawwa‘a khairan fahuwa khairun lah. Wa an tashumu khairul lakum in kuntum ta‘lamun.”

Artinya: (yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barangsiapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka wajiblah baginya berpuasa sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain.

Baca Juga: 98.036 Guru Kemenag Ikuti Uji Pengetahuan PPG Angkatan 4, Tahap Penentu Sertifikasi dan Tunjangan Profesi, Ini Besaran TPG yang Bakal Diterima

Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, yaitu memberi makan seorang miskin.

Barangsiapa dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.

Jika sakitnya masih ada harapan sembuh, maka wajib mengganti puasa di hari lain. Namun jika tidak ada harapan sembuh, cukup membayar fidyah.

2. Orang yang Bekerja Keras

Umat Islam yang bekerja berat dan berisiko fatal jika tetap berpuasa mendapat keringanan untuk berbuka. Namun, puasanya tetap wajib diganti di lain waktu.

Syekh Wahbah al-Zuhaili dalam Al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu mengutip pendapat Abu Bakar al-Ajiri:

“Qala Abu Bakr al-Ajiri: man shana‘atuhu syaqqah, fa in khafa bish-shaumi talafan afthara wa qadha in dharrahu tarku ash-shan‘ah. Fa in lam yadhurruhu tarkuha atsima bil-fithr. Wa in lam yantafi at-tadharrur bitarkihā fala itsma ‘alaihi bil-fithr lil-‘udzr. Wa qarrara jumhurul fuqaha annahu yajibu ‘ala shahib al-‘amal asy-syaqqi kal-hashshad wal-khabbaz wal-haddad wa ‘ummal al-manajim an yatasahhara wa yanwi ash-shaum. Fa in hashala lahu ‘athasyun syadid au ju‘un syadid yakhafu minhu adh-dharar jaza lahu al-fithr wa ‘alaihi al-qadha. Fa in tahaqqaqa adh-dharar wajaba al-fithr.”

Baca Juga: Jangan Rem Mendadak! Ini Cara Aman Lewati Lubang Jalan agar Motor Tak Rusak

Artinya, pekerja berat yang benar-benar terancam keselamatannya boleh berbuka dan wajib mengganti puasanya.

3. Musafir

Musafir atau orang yang bepergian jauh juga mendapat keringanan. Syaratnya, perjalanan mencapai sekitar 48 mil atau kurang lebih 80 kilometer.

Hal ini ditegaskan dalam Surah Al-Baqarah ayat 185:

“Syahru Ramadhanal ladzi unzila fihil Qur’an hudan linnasi wa bayyinatin minal huda wal furqan. Faman syahida minkumusy syahra falyashumhu. Wa man kana maridhan au ‘ala safarin fa‘iddatun min ayyamin ukhar. Yuridu Allahu bikumul yusra wa la yuridu bikumul ‘usra wa litukmilul ‘iddata wa litukabbirullaha ‘ala ma hadakum wa la‘allakum tasykurun.”

Allah menghendaki kemudahan, bukan kesulitan. Namun puasanya tetap harus diganti di hari lain.

Baca Juga: Dari PETI ke Pertanian, Wahyudin Ubah Wajah Kalongliud Jadi Desa Lumbung Harapan

4. Orang Tua Renta yang Tidak Sanggup Berpuasa

Orang lanjut usia yang sudah tidak kuat berpuasa diperbolehkan tidak menjalankannya. Namun wajib membayar fidyah, yaitu memberi makan seorang miskin untuk setiap hari yang ditinggalkan.

5. Perempuan Haid dan Nifas

Perempuan yang sedang haid atau nifas tidak diperbolehkan berpuasa. Setelah suci, ia wajib mengganti puasanya.

Dalam hadis riwayat Muslim nomor 335, Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata:

“Kana yushibuna dzalika fa nu’maru biqadhaish shaum wa la nu’maru biqadhaish shalah.”

Artinya: Kami dulu mengalami haid. Kami diperintahkan untuk mengqadha puasa dan tidak diperintahkan untuk mengqadha shalat.

Baca Juga: Usai Gunakan Jet Pribadi untuk Tugas, Menag Nasaruddin Umar Datangi KPK dan Laporkan Dugaan Gratifikasi

6. Orang Gila

Orang yang kehilangan akal atau kewarasannya tidak termasuk dalam kewajiban puasa.

Dalam hadis riwayat Abu Daud dan Ahmad disebutkan:

“Rufi‘al qalamu ‘an tsalats: ‘anin na’im hatta yastaiqizh, wa ‘anil majnun hatta yufiq, wa ‘anish shabiy hatta yablugh.”

Artinya: Hukum tidak berlaku atas tiga orang: orang tidur hingga bangun, orang gila hingga waras, dan anak kecil hingga baligh.

7. Ibu Hamil dan Menyusui

Ibu hamil dan menyusui boleh tidak berpuasa jika khawatir membahayakan dirinya atau bayi yang dikandung maupun disusui.

Baca Juga: Buka Puasa Pakai Gorengan Setiap Hari, Aman atau Berisiko? Ini Penjelasan Pakar Gizi

Dalam hadis disebutkan:

“Innallaha wadha‘a ‘anil musafiri syathra ash-shalati wash-shauma ‘anil musafir wa ‘anil murdhi‘i wal hubla.”

Artinya: Allah telah menggugurkan separuh shalat bagi musafir serta menggugurkan kewajiban puasa bagi musafir, wanita menyusui, dan wanita hamil.

8. Anak Kecil

Anak kecil yang belum baligh tidak diwajibkan berpuasa. Kewajiban puasa berlaku setelah mencapai usia baligh.

Hadisnya sama seperti yang telah disebutkan sebelumnya tentang tiga golongan yang tidak dikenai hukum.

Meski Allah SWT memberikan keringanan, kewajiban puasa tidak lantas hilang.

Baca Juga: Beasiswa Astra 2026 Dibuka! Kuliah Gratis 100 Persen di AstraTech, Dapat Uang Saku dan Asrama

Mujazin mengingatkan, “Perintah untuk puasanya wajib. Kalau tidak bisa (mengerjakan puasa) harus diganti di hari lain. Perintahnya tidak lantas hilang.”

Ia juga menegaskan, “Bagi yang memang tidak bisa (berpuasa), Allah tidak memaksa. Tapi kalau ada kesempatan ya diganti (puasanya).”

Keringanan dalam Islam menunjukkan betapa agama ini penuh kasih dan kemudahan.

Namun di balik kemudahan itu, tetap ada tanggung jawab yang harus ditunaikan. Ramadan bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan tentang ketaatan dan kejujuran pada diri sendiri. ***