POJOKSATU.id - Bulan Ramadan adalah momen istimewa bagi umat Islam di seluruh dunia. Selama satu bulan penuh, umat Muslim menjalankan ibadah puasa sebagai bentuk ketaatan kepada Allah SWT.

Dalam Alquran, kewajiban berpuasa ditegaskan dalam Surat Al-Baqarah ayat 183:

"Ya ayyuhalladzina amanu kutiba ‘alaikumush shiyamu kama kutiba ‘alalladzina min qablikum la’allakum tattaqun."

Artinya: "Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa." (QS. Al-Baqarah: 183)

Puasa Ramadan bukan hanya menahan lapar dan haus. Ibadah ini juga tentang menjaga diri dari dosa, terutama perbuatan yang bisa membatalkan atau bahkan menghapus pahala puasa.

Allah Maha Pengampun, Asal Serius Bertaubat

Ulama kharismatik KH Yahya Zainul Ma’arif alias Buya Yahya menegaskan bahwa Allah Maha Pengampun. 

Dosa-dosa besar seperti zina, judi, hingga mabuk tidak perlu membuat seseorang putus asa dari rahmat Allah.

Menurutnya, sebanyak apa pun dosa seseorang, sangat mudah bagi Allah untuk mengampuni, asalkan benar-benar bertaubat.

“Kalau dia serius bertaubat menuju kepada Allah, orang bertaubat dari dosa seperti yang tidak berdosa. Catatannya adalah serius dalam bertaubat, menyesal dulu,” kata Buya Yahya, dikutip dari YouTube Al Bahjah TV, Senin, 23 Februari 2026.

Baca Juga: Mengejutkan, Tak Perpanjang Kontrak Eksklusif, Taemin Resmi Hengkang dari Agensi BPM

Ia menambahkan, taubat yang benar harus diawali penyesalan yang mendalam.

“Jadi penyesalan harus dihadirkan dalam hatinya kemudian dirasakan oleh anggota tubuhnya. Sehingga betul-betul (taubat) dia. 

Kalau ingin melakukan kejahatan tersebut menjadi ketakutan dia,” imbuhnya.

Buya Yahya juga mengingatkan, dosa yang pernah dilakukan tidak perlu diceritakan kepada manusia, termasuk keluarga atau pasangan. Cukup mengadu kepada Allah.

“Setelah Anda menyesal dan Anda menjaga agar tidak bercerita kepada siapapun dari bangsa manusia, kerjaan Anda hanya mengadu kepada Allah. Maka ketahuilah Allah Maha Pengampun,” katanya.

“Kalau Allah sudah mengampuni gak akan tampak dosa itu. Tidak (ada dosa) di alam barzah, tidak (ada dosa) di Padang Mahsyar, tidak (ada dosa) di akhirat nantinya. 

Karena sudah diampuni, dihapus oleh Allah,” tambahnya.

Baca Juga: Indonesia Bidik Kedaulatan Teknologi, Prabowo Siapkan 15 Ribu Insinyur Ahli Desain Chip

Jangan Sampai Puasa Hanya Lapar dan Dahaga

Puasa Ramadan adalah momentum melatih pengendalian diri. Namun Rasulullah SAW telah mengingatkan bahwa banyak orang berpuasa tetapi tidak mendapatkan esensinya.

Dalam hadis riwayat An-Nasa'i disebutkan:

Kam min sha’imin laisa lahu min shiyamihi illal ju’u wal ‘athasy.

Artinya: "Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan sesuatu dari puasanya kecuali rasa lapar dan dahaga" (HR An-Nasa'i).

Secara fiqih, puasa mungkin sah karena syarat dan rukunnya terpenuhi. Namun agar bernilai di sisi Allah, puasa harus steril dari perbuatan tercela.

Baca Juga: Masjid Mungsolkanas, Saksi Sunyi Cihampelas Sejak 1869 yang Lebih Tua dari Masjid Cipaganti

Dalam hadis yang diriwayatkan dari Anas RA, Rasulullah SAW menyebut lima perbuatan yang dapat menghapus pahala puasa:

Khamsun yuftirnash sha’im: al-ghibah, wan-namimah, wal-kadzib, wan-nazhru bisy-syahwah, wal-yaminul kadzibah.

Artinya: "Lima hal yang bisa membatalkan pahala orang berpuasa: membicarakan orang lain, mengadu domba, berbohong, melihat dengan syahwat, dan sumpah palsu" (HR Ad-Dailami).

5 Larangan Saat Puasa Ramadhan

Agar puasa tetap sah dan berpahala, berikut lima larangan yang harus dijauhi:

  1. Berhubungan Suami Istri di Siang Hari
    Dalam QS Al-Baqarah ayat 187 disebutkan:
    "Uhilla lakum lailatas shiyami ar-rafatsu ila nisaikum."
    Artinya: "Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu."

Artinya, hubungan suami istri hanya diperbolehkan pada malam hari. Jika dilakukan di siang hari, puasa batal dan wajib membayar kafarat.

Baca Juga: Terkuak! Ini Fakta Anggaran Bahan Makanan MBG yang Sebenarnya, Bukan Rp15 Ribu tapi Rp8 Ribu dan Rp10 Ribu

  1. Sengaja Memuntahkan Makanan
    Rasulullah SAW bersabda:
    Man dzara’ahu al-qai’u wa huwa sha’imun fala qadha’a ‘alaihi, wa man istaqa’a falyaqdi.
    Artinya: "Barangsiapa muntah secara tidak sengaja sedangkan dia berpuasa, maka tidak ada qadha baginya; dan barangsiapa menyengaja muntah, maka dia harus meng-qadha-nya." (HR At-Tirmidzi)

Muntah yang disengaja membatalkan puasa dan wajib diganti di luar Ramadhan.

  1. Membatalkan Puasa Tanpa Alasan Syar’i
    Makan atau minum dengan sengaja di siang hari tanpa alasan seperti sakit atau safar membatalkan puasa dan wajib qadha.Namun jika lupa, puasanya tetap sah.

  2. Murtad atau Keluar dari Islam
    Jika seseorang keluar dari Islam saat berpuasa, puasanya batal. Jika kembali masuk Islam, ia tetap wajib mengganti puasanya.

  3. Keluar Mani dengan Sengaja
    Ejakulasi yang disengaja di siang hari Ramadhan membatalkan puasa. Namun jika terjadi karena mimpi, puasanya tetap sah. Karena itu, umat Islam dianjurkan menjaga diri dari aktivitas yang memicu syahwat.

Baca Juga: Doa Memohon Anak Saleh, Harapan Setiap Orang Tua dalam Ajaran Islam

Tata Cara, Niat, dan Doa Sholat Taubat

Sebagai ikhtiar memperbaiki diri, umat Islam dianjurkan melaksanakan sholat taubat dua rakaat. Berikut lafal niatnya:

Ushalli sunnatat taubati rak’ataini lillahi ta’ala.

Artinya: "Aku berniat melakukan sholat sunah taubat dua rakaat karena Allah Ta’ala.”

Setelah niat, dilanjutkan takbiratul ihram, membaca doa iftitah, Al-Fatihah, surat Al-Qur’an, hingga salam pada rakaat kedua.

Setelah itu, dianjurkan membaca doa berikut:

Allahumma Anta Rabbi, la ilaha illa Anta khalaqtani, wa ana ‘abduka, wa ana ‘ala ‘ahdika wa wa’dika mastatha’tu, a’udzu bika min syarri ma shana’tu, abu’u laka bini’matika ‘alayya wa abu’u laka bidzanbi, faghfirli, fa innahu la yaghfirudz dzunuba illa Anta.

Baca Juga: Es Cendol Bandung, dari Elizabeth hingga Katapang yang Selalu Jadi Bintang Berbuka

Artinya: “Ya Allah, Engkau adalah Tuhanku, tidak ada Tuhan yang berhak diibadahi selain Engkau. Engkau telah menciptakanku dan aku adalah hamba-Mu. Aku menepati perjanjian-Mu dan janji-Mu sesuai dengan kemampuanku.

Aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatanku, aku mengakui dosaku kepada-Mu dan aku akui nikmat-Mu kepadaku, maka ampunilah aku. Sebab tidak ada yang dapat mengampuni dosa selain-Mu.”

Namun sebagaimana pesan Buya Yahya, sholat taubat saja tidak cukup. Taubat harus disertai penyesalan dan tekad kuat untuk tidak mengulangi dosa.

Jika pernah terjatuh dalam dosa, pintu taubat selalu terbuka. Selama hati benar-benar kembali kepada Allah, tidak ada dosa yang terlalu besar untuk diampuni. Wallahu a'lam. ***