POJOKSATU.id - Ramadan selalu menjadi bulan yang dinanti umat Muslim di seluruh dunia, termasuk di Indonesia.

Lebih dari sekadar menjalankan ibadah puasa, bulan suci ini menghadirkan suasana kebersamaan, kekhusyukan, sekaligus keceriaan yang terasa kuat di tengah masyarakat.

Di berbagai penjuru Nusantara, Ramadan disambut dengan cara-cara khas yang tak sekadar ritual keagamaan, tetapi juga warisan budaya yang terus hidup dari generasi ke generasi.

Tradisi-tradisi ini mengandung makna penyucian diri, rasa syukur, kepedulian sosial, hingga penguatan silaturahmi.

Baca Juga: Dari Rp51 T Kini Rp74 T, Anggaran Pemulihan Sumatera Melejit! Pemerintah Ungkap Alasannya

Ramadan 2026 sendiri diperkirakan akan dimulai pada pertengahan Februari. Menjelang bulan suci itu, sejumlah daerah di Indonesia kembali menghidupkan tradisi khas mereka.

Berikut dua belas tradisi unik menyambut Ramadan di berbagai daerah Indonesia.

Meugang (Aceh)
Masyarakat Aceh menyambut Ramadan dengan tradisi Meugang, yakni memasak dan menikmati daging sapi, kambing, atau kerbau bersama keluarga serta warga sekitar.

Baca Juga: Cara Melakukan SADARI untuk Deteksi Dini Kanker Payudara, Bisa Dilakukan Sendiri di Rumah

Tradisi ini telah ada sejak masa Kerajaan Aceh Darussalam dan menjadi simbol kebersamaan serta rasa syukur atas datangnya bulan suci.

Meugang juga kerap dimaknai sebagai wujud kepedulian sosial karena daging dibagikan kepada mereka yang membutuhkan.

Mattunu Solong (Sulawesi Barat)
Di Polewali Mandar, Sulawesi Barat, masyarakat menyalakan pelita dari buah kemiri yang diletakkan di bambu atau sudut-sudut rumah.

Baca Juga: Gaji PPPK Paruh Waktu Bogor Akhirnya Running! Ini Jadwal Cair dan Besarannya

Tradisi Mattunu Solong melambangkan doa dan harapan agar Ramadan membawa keberkahan, kesehatan, serta kelancaran ibadah puasa.

Padusan (Yogyakarta)
Di Yogyakarta dan sejumlah wilayah Jawa, Padusan menjadi tradisi yang masih dijaga.

Padusan berarti mandi besar yang dilakukan di sungai atau sumber mata air alami. Ritual ini dimaknai sebagai simbol penyucian diri, baik secara fisik maupun spiritual, sebelum memasuki bulan Ramadan.

Baca Juga: Gaji PPPK Paruh Waktu Bogor Akhirnya Running! Ini Jadwal Cair dan Besarannya

Malamang (Sumatra Barat)
Masyarakat Minangkabau menyambut Ramadan dengan tradisi Malamang, yaitu membuat lemang dari beras ketan yang dimasak dalam bambu.

Proses memasak dilakukan bersama-sama dan menjadi ajang berkumpul keluarga serta tetangga, mempererat silaturahmi menjelang bulan puasa.

Megibung (Bali)
Di Karangasem, Bali, umat Muslim memiliki tradisi Megibung. Makan bersama dilakukan dalam satu lingkaran dengan satu wadah besar yang disebut gibungan.

Baca Juga: Batas Hadiah Pejabat Naik Jadi Rp 1,5 Juta, Publik Heboh 'Amplopan Naik Kelas!'

Tradisi ini mengajarkan nilai kebersamaan, kesederhanaan, dan kesetaraan dalam menyambut Ramadan.

Marpangir (Sumatra Utara)
Marpangir merupakan tradisi mandi menggunakan air rempah yang dicampur dedaunan wangi seperti serai, pandan, kenanga, dan jeruk purut.

Tradisi masyarakat Sumatra Utara ini dilakukan sebagai bentuk pembersihan diri sebelum memasuki bulan suci Ramadan.

Baca Juga: WADAW! Bos Danantara Ungkap Kerugian BUMN Tembus Rp 20 Triliun

Cucurak (Jawa Barat)
Masyarakat Sunda menyambut Ramadan dengan tradisi Cucurak, yakni makan bersama keluarga besar di atas daun pisang.

Menu sederhana seperti nasi liwet, lauk pauk khas Sunda, dan lalapan menjadi sajian utama. Lebih dari sekadar makan, Cucurak menjadi momen bersyukur dan mempererat tali keluarga.

Baca Juga: Minta Keadilan untuk Guru Honorer dan Nakes, PGRI Kapuas Hulu Tolak Pegawai SPPG Jadi PPPK

Nyorog (Jakarta)
Menjelang Ramadan, masyarakat Betawi menjalankan tradisi Nyorog dengan mengirimkan makanan kepada orang tua, kerabat, atau tokoh masyarakat.

Makanan khas seperti sayur gabus pucung, ikan bandeng, dan olahan daging kerap dibagikan sebagai bentuk penghormatan dan menjaga persaudaraan.

Papajar (Jawa Barat dan Banten)
Papajar dilakukan dengan berkumpul, makan bersama, berdoa, dan saling memaafkan.

Baca Juga: DPRD Kotim Akhirnya Buka Suara Terkait Pro Kontra Pengangkatan SPPG Jadi PPPK yang Memanas

Tradisi ini berasal dari istilah mapag pajar atau menjemput fajar pertama Ramadan, menjadi simbol kesiapan lahir dan batin menyambut bulan suci.

Dugderan (Semarang)
Di Semarang, masyarakat merayakan Dugderan sekitar dua pekan sebelum Ramadan.

Tradisi ini ditandai dengan bunyi beduk dan dentuman meriam sebagai penanda datangnya bulan puasa. Dugderan berkembang menjadi pesta rakyat yang sarat nuansa budaya dan religius.

Baca Juga: Mengenal TRE, Latihan Pelepasan Ketegangan untuk Bantu Atasi Stres dan Trauma

Pawai Obor (Pontianak dan Berbagai Daerah)
Pawai obor menjadi tradisi yang tersebar di banyak daerah, termasuk Pontianak.

Warga berjalan berkeliling kota sambil membawa obor yang dinyalakan dari halaman Masjid Raya Mujahiddin.

Tradisi ini mencerminkan kegembiraan dan kesiapan masyarakat menyambut Ramadan.

Baca Juga: Penjual Es Gabus Difitnah Oknum TNI dan Polisi Kini Seolah Diberi Kelapangan, Dapat Motor dan Uang

Pacu Jalur (Riau)
Di Riau, khususnya Kabupaten Kuantan Singingi, masyarakat menyambut Ramadan dengan Pacu Jalur, perlombaan dayung perahu panjang yang bisa diisi hingga puluhan pendayung.

Tradisi ini menjadi simbol semangat kebersamaan dan kekuatan kolektif masyarakat, meski kini juga digelar dalam peringatan Hari Kemerdekaan RI.

Baca Juga: Kasus Hogi Minaya Disorot Komisi III DPR Safaruddin, Kapolres Sleman Dikecam Soal Pemahaman KUHP Baru

Ragam tradisi menyambut Ramadan di Indonesia menunjukkan betapa kuatnya perpaduan nilai agama dan budaya dalam kehidupan masyarakat.

Setiap daerah memiliki cara tersendiri untuk menyiapkan diri, membersihkan hati, dan menguatkan ikatan sosial. ***