POJOKSATU.id - Waktu berbuka puasa merupakan momen yang sangat dinantikan oleh umat Islam setelah seharian menahan lapar dan dahaga. 

Rasa syukur dan kelegaan menyelimuti hati ketika azan Maghrib berkumandang.

Menyegerakan berbuka puasa adalah salah satu sunnah yang dianjurkan. Namun, dalam praktiknya, masih terdapat beberapa kebiasaan dalam berbuka yang tidak sesuai dengan tuntunan syariat. 

Salah satunya adalah mendahulukan doa berbuka sebelum makan, padahal sunnah yang benar adalah doa berbuka dibaca setelah selesai makan atau minum.

Melansir artikel yang dimuat NU Online, terdapat 11 tata cara atau adab dalam berbuka puasa yang sesuai syariat Islam. Berikut penjelasan lengkapnya.

Baca Juga: Keutamaan Istri yang Memasak untuk Berbuka Puasa, Pahalanya Mengalir Tanpa Mengurangi Pahala Suami

1. Segera Berbuka

Setelah yakin waktu Maghrib tiba, segeralah berbuka. Tidak dianjurkan menunda berbuka tanpa alasan syar’i. 

Sunnah ini menunjukkan ketaatan terhadap waktu yang telah ditetapkan dan bentuk kepatuhan terhadap perintah Allah SWT.

2. Berbuka Sebelum Shalat Maghrib

Dahulukan berbuka sebelum melaksanakan shalat Maghrib. 

Artinya, ketika azan telah berkumandang dan waktu telah masuk, berbukalah terlebih dahulu meskipun hanya dengan kurma atau seteguk air. 

Setelah itu barulah melaksanakan shalat Maghrib.

Baca Juga: Megah dan Sarat Sejarah, Inilah Pesona Masjid Cordoba di Jantung Eropa Barat

3. Membaca Basmalah

Awali berbuka puasa dengan membaca “Bismillah” sebelum makan atau minum. 

Jika lupa membacanya di awal, maka ketika ingat dianjurkan mengucapkan “Bismillahi awwalahu wa akhirahu” sebagai bentuk penyempurna.

4. Makan Kurma

Sunnahnya berbuka dengan kurma dalam jumlah ganjil, seperti tiga atau lima butir. Lebih utama menggunakan kurma basah (ruthab). 

Jika tidak tersedia, dapat menggunakan kurma kering (tamr). Kurma menjadi pilihan utama karena sesuai dengan kebiasaan Rasulullah saw saat berbuka.

Baca Juga: Trailer “Toy Story 5” Resmi Dirilis, Angkat Isu Anak dan Ketergantungan Gadget

5. Minum Air

Jika tidak ada kurma, dianjurkan berbuka dengan minum air. Yang lebih utama adalah air Zamzam sebanyak tiga tegukan. 

Minum dengan tiga tegukan juga termasuk bagian dari adab minum dalam Islam.

6. Urutan Keutamaan Air

Jika tidak tersedia air Zamzam, maka dapat menggunakan air sungai Nil. Apabila tidak ada, gunakan air biasa, air mineral, atau air kemasan yang tersedia.

Disebutkan urutan keutamaan air sebagai berikut: air yang memancar dari jari jemari Nabi Muhammad saw, air Zamzam, air telaga Kautsar, air sungai Nil, kemudian sungai-sungai lainnya. 

Penjelasan ini menunjukkan adanya keutamaan pada jenis air tertentu dalam tradisi keislaman.

Baca Juga: Lupa Sahur, Apakah Puasa Tetap Sah? Ini Penjelasan Ulama dan Hikmah Mengakhirkan Sahur

7. Makan atau Minuman Manis

Jika tidak ada kurma dan air, maka berbuka dapat dilakukan dengan makanan atau minuman yang manis. Rasa manis membantu memulihkan energi setelah berpuasa seharian.

8. Membaca Doa Berbuka Puasa Setelah Makan

Doa berbuka puasa dibaca setelah makan atau minum, bukan sebelumnya. Doa yang diajarkan Nabi saw atau yang disusun oleh para ulama di antaranya:

Allahumma laka shumtu, wa ‘ala rizqika aftartu, wa bika amantu, wa ‘alaika tawakkaltu, dzahaba azh-zhama’u, wabtallati al-‘uruqu, wa tsabata al-ajru in sya Allahu ta‘ala, ya wasi‘a al-fadhli ighfir li, alhamdulillahi alladzi a‘anani (hadani) fashumtu, wa razaqani fa aftartu.

Artinya, “Ya Allah, bagi-Mulah aku berpuasa, atas rezeki-Mulah aku berbuka, kepada-Mulah aku beriman, kepada-Mulah aku bertawakal. 

Telah hilang dahaga, telah basah urat-urat, dan telah tetap pahala, insya Allah Taala. Wahai Yang Maha Luas Anugerah-Nya, ampunilah aku. 

Segala puji bagi Allah yang telah menolongku (memberi petunjuk) sehingga aku berpuasa, dan yang telah memberikan rezeki kepadaku sehingga aku bisa berbuka.”

Baca Juga: SKTP Februari 2026 Belum Terbit? Ini Penjelasan Resmi Proses Validasi Info GTK dan Perkiraan Jadwal Cair Tunjangan Sertifikasi Guru Agar Tidak Panik

9. Makan Secukupnya

Hindari makan yang berlebihan atau bermewah-mewahan agar tidak mubazir. Tindakan berlebihan tidak hanya merugikan diri sendiri, tetapi juga bertentangan dengan prinsip-prinsip Islam yang melarang pemborosan.

Larangan tersebut tercantum dalam Surah Al-A’raf ayat 31 dan Surah Al-Isra’ ayat 26–27, yang mengingatkan agar umat Islam tidak berlebih-lebihan dan tidak termasuk golongan orang-orang yang boros.

10. Membaca Doa Setelah Makan

Setelah selesai menyantap hidangan, dianjurkan untuk memanjatkan doa. Dalam kitab Shahih Bukhari dan Riyadhus Shalihin disebutkan doa berikut:

Alhamdulillahi hamdan katsiran thayyiban mubarakan fihi, ghaira makfiyyin, wa la muwadda‘in, wa la mustaghnan ‘anhu rabbana.

Artinya, “Segala puji bagi Allah dengan pujian yang banyak, baik (murni terhindar dari riya’ dan sum’ah) nan berkah (berkembang, terus menerus tidak terputus), yang pujian itu tidak bisa mencukupi, tidak ditolak, pun tidak pula dicukupkan sepadan pada pemberian-Mu, duhai Tuhan kami.”

Baca Juga: Amalan Sunnah Sahur Sesuai Sunnah Rasulullah SAW, Jangan Sekadar Makan dan Minum

Selain itu terdapat doa yang diajarkan oleh Rasulullah saw:

Alhamdulillahi alladzi ath‘amani hadza, wa razaqanihi min ghairi haulin minni wa la quwwah.

Artinya, “Segala puji bagi Allah yang telah memberikan makan ini kepadaku, dan telah memberikannya rezeki kepadaku tanpa ada daya dan kekuatan dariku.”

11. Membaca Doa Saat Berbuka di Rumah Orang Lain

Tata cara berbuka yang telah disebutkan sebelumnya berlaku untuk berbuka puasa dengan hidangan yang disiapkan sendiri di rumah.

Namun, jika berbuka puasa di rumah orang lain, terdapat doa khusus yang disunnahkan oleh Nabi Muhammad saw untuk dibaca sebelum berbuka.

Doa tersebut berbunyi:

Afthara ‘indakumu ash-sha’imun, wa tanazzalat ‘alaikumu al-mala’ikah, wa akala tha‘amakumu al-abrar, wa ghasyiyatkumu ar-rahmah.

Artinya, “Semoga orang-orang yang berpuasa berbuka di tempat kalian, para malaikat turun kepada kalian, orang-orang yang baik menyantap makanan kalian, dan semoga kalian diliputi oleh rahmat Tuhan.”

Baca Juga: Keutamaan Sahur di Bulan Ramadan, Ini Doa dan Landasan Syar’inya

Berbuka puasa bukan sekadar soal melepas lapar dan dahaga. Di dalamnya ada adab, ada sunnah, dan ada nilai ibadah yang menyertainya. 

Dengan mengikuti tuntunan yang benar, momen berbuka bukan hanya menjadi waktu yang ditunggu, tetapi juga menjadi ladang pahala yang sempurna. Ramadan terasa lebih bermakna ketika dijalani sesuai syariat yang telah diajarkan. ***