Bule pun Ikut Jualan Batu Akik

Berita Unik, Batu Akik
Ilustrasi

Berita Unik, Batu Akik

POJOKSATU.id, JAKARTA – Penjual batu akik di Rawa Bening, Jakarta, saat ini tidak hanya diramaikan kalangan lokal. Warga negara asing juga ikutan mengadu untung di bisnis batu alam ini.

Themelis Imanuel (41) salah satunya. Pria asal Yunani mengaku berkecimpung di bisnis batu akik lantaran hobi. Themelis membuka usaha jual batu yang dinamainya Jawa Stone di seberang Jakarta Gems Center (JGC), Rawa Bening, Jatinegara, Jakarta Timur.

“Saya mulai mencoba-coba menjadi penjual batu lima bulan belakangan,” katanya.


Usaha yang dirintisnya terbilang unik. Themelis menuturkan, bukan batu yang laris di pasaran yang dijualnya, seperti batu-batu asal Aceh atau Kalimantan. Yang dia jual adalah batu asal Kebumen, Jawa Tengah.

Themelis bahkan menyebut diri mungkin sebagai satu-satunya penjual batu asal Kebumen di Jakarta. Harga pasaran batu ini memang terjangkau alias murah. “Saya cuma bantu teman. Dulu sering ke Kebumen punya teman orang sana. Di Kebumen orang ramai batu. Akhirnya saya coba bantu dengan membawa ke sini,” ujar Themelis.

Themelis mengungkapkan, tidak menjual batu yang sudah menjadi cincin, melainkan batu yang masih berbentuk bongkahan. Batu ini diambil dari gunung oleh temannya di Kebumen dan dikirim ke Jakarta.

Setiap bulan, Themelis dikirimi batu sebanyak satu ton. Modalnya Rp 7 juta. Sampai di Jakarta, batu yang dibawa dipotong seukuran bungkus rokok atau seberat 200 gram.

Tiap bongkahan batu seukuran bungkus rokok itu dijualnya Rp 20 ribu. Bahan ini yang banyak diburu oleh para penjual batu akik kecil. Pelanggan Themelis memang mereka-mereka itu. “Ada juga yang hobi,” ujar Themelis.

Lapak usahanya bukan toko, melainkan berbentuk tenda payung dan meja saja. Di atas meja, ada beberapa kotak plastik berukuran sekitar 30×30 cm. Kotak ini berisi puluhan bongkahan bahan batu tadi.

Jenis batu yang dijualnya beragam. Ada yang disebutnya berjenis bulu monyet, besi merah, besi hijau, panca warna, dan batu lainnya asal Kebumen. Meski lapaknya terlihat sederhana, usaha Themelis sudah membawa untung.

Ia mengaku mampu mengantongi pendapatan hingga Rp 15 juta per bulan. “Nggak ada standar (tidak menentu), rata-rata segitu per bulan. Buat makan doang, sama kasih duit buat orang kerja. Sama beli batu di sana sama orang,” ujar Themelis, tertawa.

Dilanjutkan Themelis, usaha ini tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Datang ke Indonesia, dia awalnya merupakan seorang wisatawan. Tujuannya adalah liburan ke Bali.

Namun, setelah berpacaran dengan perempuan asal Ambon, Maluku, ia memilih menetap di Indonesia. Bersama pacar, Themelis sempat membuka kafe menjual roti dan spaghetti di Pamulang, Tangerang Selatan.

Sayang, usahanya itu bangkrut. Saat ini, hanya batu yang menjadi penghasilan baginya. “Sekarang fokus di batu,” ujar pria yang telah menetap selama delapan tahun di Indonesia ini. (bhr/ns/ps)