Cara Atasi Cedera Karena Bersepeda

otot paha
POWER MENURUN: Iliotibial band atau otot paha samping merupakan bagian tubuh dengan risiko cedera akibat aktivitas mengayuh sepeda secara terus menerus. (Lionel Bonaventure/AFP Photo)

POJOKSATU – Aktivitas bersepeda bisa mengakibatkan cedera, baik karena terjatuh (traumatis) atau karena dosis yang berlebih (overuse). Jika para pembalap profesional mengalami cedera lebih banyak karena crash atau terjatuh, para penggemar sepeda yang tergabung dalam komunitas lebih banyak karena aktivitas otot yang berlebih.

Overus injury biasanya berhubungan dengan persiapan berolahraga yang kurang maksimal hingga intensitas latihan yang tinggi. CEO Physiopreneur Sport Physiotherapy Asep Aziz mengungkapkan, banyak bagian tubuh yang memiliki risiko terjadinya cedera. Salah satunya adalah otot paha bagian samping. Kondisi itu secara medis dinamakan iliotibial band syndrome (ITBS).

Otot paha samping (iliotibial band), kata Asep, merupakan suatu jaringan fibrous yang memanjang dari paha hingga ke lutut bagian samping. Gerakan di sepeda yang mengayuh terus-menerus, ditambah dengan tidak proporsionalnya jarak dari sadel ke pedal, sangat memengaruhi tarikan terhadap otot tersebut.

”Pada kondisi lebih lanjut, tarikan terus-menerus itu akan membuat nyeri dan menimbulkan peradangan (inflamasi) yang kronis hingga bisa terjadi penebalan jaringan (fibrosis). Pada kondisi yang parah akan membuat cyclist menjadi kehilangan power,” paparnya.


Beberapa faktor yang berkontribusi terhadap cedera tersebut, kata Asep, adalah kesalahan dalam latihan. Misalnya, meningkatnya jarak dan intensitas yang tidak secara bertahap. Akibatnya, beban yang diterima akan sangat besar pada otot paha samping.

Selain itu, cedera bisa muncul karena perbedaan tekanan saat bersepeda. Penyebabnya, antara lain, adalah perbedaan panjang tungkai. ”Jika kasusnya seperti ini, solusinya adalah fitting sepeda yang benar sehingga tidak akan terjadi sadel sepeda yang terlalu tinggi maupun terlalu jauh ke belakang,” katanya.

Pada cedera karena overuse, seorang cyclist biasanya mengeluh performanya drop. Padahal, dia berlatih rutin, bahkan setiap hari, dengan jarak yang cukup jauh. Menurut Asep, otot-otot juga bisa mengalami stres dan jenuh.

Dalam kondisi seperti itu, selain mendapat penanganan physiotherapist, seorang cyclist bisa memilih off dari bersepeda. Saat masa istirahat tersebut, mereka bisa melakukan olahraga lainnya. ”Baru setelah sebulan, mereka bisa kembali lagi bersepeda,” kata physiotherapist timnas sepak bola Indonesia di di Piala AFF 2014 tersebut. (aga/c10/fat/zul)