POJOKSATU.id, SETELAH bertahun-tahun melakukan riset, Volkswagen Group (VW) akhirnya memperkenalkan sel baterai standar yang akan digunakan di seluruh portofolio mobil listriknya.

Inovasi ini diumumkan di ajang IAA Munich, pameran otomotif terbesar di Eropa, dan disebut sebagai “sel terpadu”.

Menurut eksekutif VW, ide di balik sel ini adalah menciptakan skala ekonomi besar pada salah satu komponen paling mahal dalam kendaraan listrik.

Langkah ini menjadi kunci, mengingat produsen mobil masih kesulitan meraih keuntungan dari EV karena biaya baterai yang tinggi.

Baca Juga: GAC AION UT Resmi Meluncur di Indonesia, Harga Mulai Rp325 Juta dengan Garansi Baterai Seumur Hidup

Fokus ke Skala Produksi Besar

Thomas Schmall, anggota dewan manajemen VW yang bertanggung jawab atas teknologi, menyebut hadirnya sel terpadu membawa VW kembali ke posisi strategis di industri.

Sel prismatik ini dikembangkan oleh PowerCo, anak usaha baterai VW, dan siap diproduksi massal di pabrik Salzgitter, Jerman, dalam beberapa minggu ke depan.

Produksi akan diperluas ke Spanyol pada 2026 dan Kanada pada 2027.

CEO PowerCo Frank Blome menegaskan sel ini akan memberi daya hingga 80% model EV VW Group pada 2030, termasuk Volkswagen, Škoda, Audi, hingga Porsche.

Baca Juga: Heboh Lampu Tot Tot Wut Wut Bikin Emosi, Korlantas Polri Buka Suara

Dipakai di Model Murah hingga Premium

Sel baterai baru akan debut pada Keluarga Mobil Perkotaan Listrik VW Group, yang menggunakan platform MEB+.

Modelnya mencakup Volkswagen ID. Polo, ID. Cross, hingga Cupra Raval, dengan harga mulai 25.000 euro (sekitar Rp 425 juta).

VW mengklaim jarak tempuh mencapai 450 kilometer dengan kepadatan energi 660 watt-jam per liter, meningkat 10% dibanding sel generasi sebelumnya.

Sel ini juga fleksibel digunakan pada arsitektur 400 volt maupun 800 volt.

Baca Juga: Om Zein Bakal Bangun Lagi Pusat Oleh-oleh Bungursari dengan Sentuhan Julang Ngapak

Beragam Kimia Baterai, Termasuk Solid-State

VW akan memulai dengan nikel mangan kobalt (NMC), lalu mengembangkan lithium iron phosphate (LFP) yang lebih murah dan tahan lama, serta sodium-ion dan solid-state.

“Secara teknologi, kami masih di tahap awal. Peta jalan kami termasuk LFP, natrium, dan solid state,” jelas Blome.

Pada 2027, pabrik Valencia akan mulai memproduksi sel LFP.

Sementara teknologi solid-state masih dalam pengembangan, namun VW sudah memamerkan motor Ducati bertenaga baterai solid-state buatan QuantumScape di IAA.

Baca Juga: Ada Narasi PPPK Hanya Mengisi Kekosongan Sementara, Dalam Dasar Hukum dan Regulasi Mana Ditemukan Istilah dan Pernyataan Itu?

Efisiensi Melalui Desain Cell-to-Pack

Sel prismatik VW dirancang dengan metode cell to pack, di mana baterai langsung dimasukkan ke paket tanpa modul tambahan.

Desain ini membuat baterai lebih ringan, hemat biaya, dan memberi ruang lebih untuk kapasitas tambahan.

VW bukan satu-satunya. Ford, Rivian, hingga General Motors juga menjajaki teknologi serupa.

Namun VW menegaskan akan berbagi produksi dengan pemasok seperti CATL, Samsung SDI, LG Energy Solution, dan Gotion.

Tak hanya untuk mobil, sel baterai ini juga akan dipakai di sistem penyimpanan energi stasioner lewat Elli, anak perusahaan VW.

Baca Juga: Cara Daftar TikTok Affiliate di HP, Laptop, dan Tanpa Pengikut

Proyek pertama berupa instalasi penyimpanan 40 MWh akan meluncur akhir tahun ini.

Dengan sel terpadu ini, Volkswagen berharap bisa menekan biaya produksi, memperluas adopsi EV, dan bersaing ketat melawan gelombang mobil listrik murah asal Tiongkok.

Semoga informasi ini bermanfaat, ya. 

Bantu tulis tanggapan di kolom komentar dan share info ini ya.

Akses artikel bisa dibaca melalui apps kami:

Demikianlah, targetkan Volkswagen Group terkaitkan baterai awet untuk mobil listrik yang akan diproduksi mulai 2026. ***