POJOKSATU.id - Penggunaan chatbot berbasis kecerdasan buatan seperti ChatGPT kini makin populer, termasuk untuk urusan kesehatan.
Banyak orang merasa lebih mudah “bertanya” ke AI dibanding harus antre atau menunggu jadwal dokter.
Fenomena ini juga dialami Abi, seorang perempuan dari Manchester yang sudah setahun terakhir menggunakan AI untuk membantu memahami kondisi kesehatannya.
Baca Juga: Chef Made Leon Winata Ubah Arah Kuliner The Alana Sentul City dengan Konsep Sustainable Dining
Ia mengaku chatbot terasa lebih personal dibanding pencarian biasa di internet.
"It allows a kind of problem solving together," ujarnya.
Bahkan ia menyebut rasanya seperti berdiskusi ringan dengan dokter.
Dalam beberapa kasus, AI memang membantu. Saat Abi mengalami gejala infeksi saluran kemih, ChatGPT menyarankan untuk pergi ke apotek.
Baca Juga: Warga Cianjur Antusias Ikut Pasar Murah Pertamina, Bantu Tekan Beban Hidup
Setelah diperiksa, ia benar-benar mendapat antibiotik yang sesuai.
Namun, pengalaman berbeda terjadi ketika ia terjatuh saat hiking.
Ia merasakan tekanan hebat di punggung hingga perut, lalu kembali meminta saran dari AI.
"Chat GPT told me that I'd punctured an organ and I needed to go to A&E straight away," katanya.
Baca Juga: Polling MBG Siapapun Bisa Bersuara, Apakah Sudah Tepat Sasaran?
Setelah menunggu berjam-jam di rumah sakit, ternyata kondisinya tidak separah yang diperkirakan.
Pengalaman ini menunjukkan sisi lain penggunaan AI untuk kesehatan tidak selalu akurat dan bisa berlebihan.
Kekhawatiran ini juga disampaikan oleh Chief Medical Officer Inggris, Prof Sir Chris Whitty.
Ia menilai jawaban dari chatbot saat ini "not good enough" dan sering kali "both confident and wrong".
Baca Juga: Longsor TPST Bantargebang Tewaskan 7 Orang, Eks Kadis LH Jakarta Ditetapkan Tersangka
Riset dari University of Oxford juga menemukan hal menarik.
Ketika chatbot diberi data lengkap, tingkat akurasinya bisa mencapai 95 persen.
Tapi saat digunakan oleh manusia dalam percakapan nyata, akurasi itu anjlok menjadi 35 persen.
Masalahnya ada pada interaksi. Pengguna sering tidak menyampaikan informasi secara lengkap atau jelas, sehingga AI memberikan kesimpulan yang keliru.
Baca Juga: Sinopsis Film Semua Akan Baik-Baik Saja: Drama Keluarga Baim Wong yang Bikin Hati Tersentuh
Dalam studi lain, bahkan ditemukan lebih dari setengah jawaban chatbot mengandung masalah, termasuk potensi misinformasi.
Salah satunya saat ditanya soal pengobatan alternatif kanker, AI justru menyebut metode yang belum terbukti secara ilmiah.
Peneliti menilai, gaya jawaban AI yang terdengar percaya diri bisa membuat pengguna langsung percaya, tanpa mengecek ulang kebenarannya.
Meski begitu, pengembang teknologi seperti OpenAI menegaskan bahwa ChatGPT dirancang sebagai sumber informasi, bukan pengganti tenaga medis profesional.
Baca Juga: Sinopsis Film Semua Akan Baik-Baik Saja: Drama Keluarga Baim Wong yang Bikin Hati Tersentuh
Abi sendiri masih menggunakan AI, tapi dengan sikap lebih hati-hati.
Ia menyarankan agar pengguna tidak langsung percaya sepenuhnya.
"I wouldn't trust that anything that it's saying is absolutely right." pungkasnya.
Di tengah kemudahan teknologi, penting untuk tetap punya batas.
AI memang bisa membantu, tapi keputusan soal kesehatan tetap butuh pertimbangan manusia.
Kadang, yang paling kita butuhkan bukan jawaban cepat, tapi kepastian yang benar-benar bisa dipercaya.***

