POJOKSATU.ID- Intel, salah satu perusahaan teknologi terbesar di dunia, sedang melakukan perubahan besar-besaran. Raksasa chip ini rencana mengumumkan restrukturisasi yang mencakup pemangkasan tenaga kerja dan perubahan fokus bisnis.
Langkah ini diambil sebagai upaya untuk membangkitkan kembali kejayaan Intel di tengah persaingan industri teknologi yang semakin ketat.
CEO baru Intel, Lip-Bu Tan, memimpin transformasi ini dengan visi yang jelas. Dia berkomitmen untuk mengembalikan Intel sebagai "perusahaan paling inovatif di dunia" melalui serangkaian perubahan strategi.
Saat ini, Intel memang sedang mengalami masa sulit. Padahal, Intel pernah dikenal sebagai raja teknologi komputer
“Intel Inside” merupakan salah satu istilah teknologi populer pada zamannya, masa di mana hampir setiap komputer, baik PC maupun laptop, didukung oleh chip dari Intel.
Masa kejayaan sebagai raksasa teknologi dunia inilah yang sedang coba dikembalikan oleh perusahaan asal AS ini.
Fokus Utama pada Teknologi AI
Salah satu perubahan terbesar yang dilakukan Intel adalah mengalihkan fokus pada teknologi kecerdasan buatan (AI).
Perusahaan ini mengakui keterlambatannya dalam mengadopsi tren AI yang menyebabkan penurunan penjualan.
Saat ini, Intel bertekad untuk membangun produk yang dirancang khusus untuk beban kerja AI modern.
“Kami mengambil pendekatan holistik untuk mendefinisikan ulang portofolio kami agar produk-produk kami optimal untuk beban kerja AI yang baru dan berkembang,” ujar Tan dalam pernyataannya kepada investor.
Intel kini sedang chip yang dikembangkan untuk model penalaran (penalaran) dan komputasi berbasis agen AI.
Perusahaan berkomitmen untuk menjadikan AI sebagai prioritas dalam strategi pengembangan produk mereka ke depan.
Pemangkasan Biaya dan Efisiensi
Sebagai bagian dari rencana pemulihan, Intel akan melakukan penghematan biaya operasional sebesar 1,5 miliar dolar AS dalam dua tahun ke depan.
Dana yang dihemat akan dialihkan untuk investasi pada tenaga ahli dan pengembangan teknologi baru.
Restrukturisasi juga mencakup pengurangan lapisan manajemen menengah dan “birokrasi yang tidak perlu”.
Pentingnya efisiensi dengan mengurangi jumlah rapat yang tidak perlu dan membatasi peserta rapat.
Kebijakan kerja juga diperketat dengan mewajibkan karyawan bekerja di kantor empat hari dalam seminggu, naik dari sebelumnya tiga hari, mulai September 2025.
Strategi Kerjasama dengan TSMC
Langkah strategi lain yang diambil Intel adalah membentuk usaha patungan dengan Taiwan Semiconductor Manufacturing Company (TSMC), sebuah produsen chip terkemuka dunia.
Dalam kesepakatan ini, Intel akan memiliki 80% saham, sementara TSMC akan memiliki 20% saham.
Yang menarik, TSMC tidak akan memuat sahamnya dengan modal, melainkan akan berbagi praktik pembuatan chip mereka yang canggih dan melatih karyawan Intel.
Kerjasama ini diharapkan dapat meningkatkan kemampuan produksi chip Intel dan membantu perusahaan bersaing lebih efektif di pasar global.
Tantangan dan Peluang
Meskipun perubahan ini membawa perubahan positif, Intel juga mempertahankan tantangan yang signifikan. PHK yang mungkin mempengaruhi sekitar 20% dari 108.900 karyawan Intel menjadi kekhawatiran utama.
Namun, di balik tantangan itu, ada peluang besar bagi Intel untuk kembali menjadi pemimpin industri.
Dengan fokus pada AI, efisiensi operasional, dan strategi kerjasama, Intel memiliki potensi untuk mengembalikan posisinya sebagai perusahaan teknologi terdepan.
Pemerintahan Donald Trump juga dilaporkan telah membuka diskusi dengan Intel untuk mendukung upaya pemulihan perusahaan. Dukungan ini bisa menjadi faktor penting dalam keberhasilan strategi transformasi Intel.
Intel sedang dalam proses transformasi besar untuk kembali berjaya di industri teknologi global. Dengan fokus pada AI, restrukturisasi internal, dan strategi kolaborasi, perusahaan ini berusaha mengembalikan reputasinya sebagai inovator terkemuka di dunia teknologi.
Di bawah kepemimpinan Lip-Bu Tan, Intel berkomitmen untuk melakukan perubahan yang diperlukan.
Hal serupa dikatakan Tan, "Intel pernah dikenal sebagai perusahaan paling inovatif di dunia. Tidak ada alasan kita tidak bisa kembali ke sana, selama kita berani melakukan perubahan yang diperlukan."
Langkah-langkah yang diambil Intel ini menunjukkan tekad perusahaan untuk beradaptasi dengan perkembangan industri dan memenuhi kebutuhan era baru komputasi berbasis AI.***
