POJOKSATU.id — Microsoft mengambil langkah tegas dengan memblokir akses militer Israel ke layanan cloud dan teknologi kecerdasan buatan (AI) yang diduga digunakan untuk memantau warga sipil Palestina.

Kebijakan ini disampaikan oleh Vice Chair sekaligus President Microsoft, Brad Smith, melalui memo internal kepada karyawan.

Keputusan tersebut muncul setelah hasil investigasi The Guardian mengungkap adanya rekaman dan data panggilan telepon warga Palestina yang disimpan di platform cloud Azure milik Microsoft.

"Sementara peninjauan kami masih berlangsung, kami menemukan bukti yang mendukung elemen laporan The Guardian," ujar Smith.

Baca Juga: Runner Up Korea Open 2025, Fajar/Fikri Terima Uang Hadiah Setara Gaji Setahun Pegawai Kantoran Korea

"Oleh karena itu, kami memberi tahu Kementerian Pertahanan Israel (IMOD) tentang keputusan Microsoft untuk menguntukkan."

"Menonaktifkan langganan IMOD tertentu dan layanan mereka, termasuk penggunaan penyimpanan cloud serta layanan dan teknologi AI tertentu," jelasnya.

Smith menegaskan bahwa pemblokiran ini hanya menyasar satu unit tertentu dalam tubuh militer Israel.

Microsoft menolak tudingan bahwa pihaknya terlibat dalam penyediaan teknologi untuk pengawasan massal warga sipil.

Meski demikian, kontrak lain Microsoft dengan pemerintah Israel tetap berjalan.

Baca Juga: Juara Korea Open 2025, Jonatan Christie Kantongi Uang Hadiah Lebih Setengah Miliar Rupiah, Dipotong Pajak

Smith menyatakan perusahaan masih berkomitmen mendukung keamanan siber Israel serta negara-negara lain di kawasan Timur Tengah.

Tindakan ini dilakukan setelah Microsoft menunjuk penyelidik independen untuk menelaah pemanfaatan Azure oleh unit intelijen Israel.

Tekanan dari karyawan dan investor yang mendesak perusahaan meninjau kembali hubungan bisnis dengan Israel terkait agresi di Gaza juga turut memengaruhi keputusan ini.

Kelompok aktivis “No Azure for Apartheid” menyambut baik pemblokiran layanan tersebut.

Namun, mereka menilai langkah Microsoft masih terbatas karena sebagian besar kontrak dengan militer Israel tidak terpengaruh.

"Sebagian besar kontrak Microsoft dengan militer Israel tetap utuh," kata Hossam Nasr, salah satu anggota kelompok itu.

"Keputusan hari ini justru semakin memotivasi kami untuk terus berorganisir sampai semua tuntutan kami dipenuhi, dan hingga Palestina merdeka."

Baca Juga: Kumpulan Prompt AI Veo 3 Bahasa Indonesia, Bikin Video Realistis Hanya dengan Instruksi Teks, Dari Berkemah dengan Api Unggun Hingga Ketemu Dinosaurus

Kerja sama Microsoft dan militer Israel diketahui telah berlangsung sejak 2021.

Kala itu, CEO Microsoft Satya Nadella disebut memberi ruang khusus di Azure untuk menyimpan data panggilan telepon warga Palestina usai bertemu dengan komandan Unit 8200, satuan elit pengawasan Israel.

Menurut laporan The Guardian, tidak lama setelah penyelidikan Microsoft dimulai, militer Israel telah memindahkan sekitar 8TB data dari Azure.

Data tersebut kabarnya dialihkan ke platform cloud Amazon Web Services (AWS).***

Kirim komentar Anda dan baca artikel Pojoksatu.id lainnya tanpa iklan melalui aplikasi kami di bawah ini:

Versi Android

Versi iOS

Saluran Whatsapp

FanPage Edugov

Baca artikel menarik lainnya dari penulis: Salsabila Azahra.