POJOKSATU.id — Tahun 2026 diperkirakan akan menjadi masa yang menantang bagi konsumen perangkat elektronik, khususnya pengguna smartphone.

Isyarat kenaikan harga ponsel yang cukup tajam kini semakin jelas, seiring pernyataan terbuka dari para petinggi industri teknologi global.

Salah satu konfirmasi datang dari Francis Wong, Kepala Pemasaran Produk Global Realme.

Baca Juga: Bolehkah Presiden Negara Menculik Presiden Negara Lain? Ini Penjelasan Hukum Internasional

Ia mengungkapkan bahwa industri smartphone saat ini menghadapi tekanan biaya produksi yang semakin berat.

Kondisi tersebut membuat kenaikan harga sulit dihindari.

Menurutnya, lonjakan harga ini bukan semata-mata dampak inflasi tahunan, melainkan imbas dari perubahan besar dalam arah dan prioritas industri teknologi dunia.

Situasi ini pun memunculkan pertanyaan besar.

Baca Juga: Gaji Rp10 Juta Bisa Bebas Pajak, Tapi Tidak Semua Pekerja Berhak! Ini Syaratnya Kata Menkeu Purbaya

Apa yang sebenarnya terjadi di balik industri smartphone global? Dan segmen mana yang paling merasakan dampaknya?

Selama ini, kenaikan harga HP kerap dikaitkan dengan gangguan produksi atau konflik geopolitik internasional.

Namun, penyebab utama yang kini mencuat justru berasal dari kelangkaan komponen memori, khususnya RAM, yang semakin sulit didapat dan harganya terus meroket.

Baca Juga: TPG THR Guru 100 Persen Belum Cair? Ini Fakta Transfer Pusat ke Daerah dan Solusi untuk Guru

Perusahaan produsen memori terbesar dunia seperti Samsung, SK Hynix, dan Micron dilaporkan telah mengalihkan prioritas bisnis mereka.

Produksi RAM yang sebelumnya menyasar pasar konsumen—seperti smartphone dan laptop—kini lebih banyak dialokasikan untuk kebutuhan pusat data kecerdasan buatan.

Lonjakan penggunaan layanan berbasis AI seperti ChatGPT, Gemini, dan Galaxy AI menuntut kapasitas pemrosesan data yang sangat besar.

Baca Juga: Viral! Keranda Jenazah Mendadak Terbakar Saat Hujan Deras, Warga Langsung Geger dan Kebingungan

Kebutuhan ini membuat RAM kelas server dengan spesifikasi tinggi menjadi komoditas utama.

Meski jumlah produksinya lebih terbatas, nilai jualnya jauh lebih menguntungkan bagi produsen.

Dalam mekanisme pasar, pihak dengan daya beli tertinggi akan menjadi prioritas.

Baca Juga: ASN Wajib Tahu! Prediksi Jadwal Pencairan Gaji Ke-13 ASN 2026, Ungkap Pemerintah Beri Sinyal

Perusahaan teknologi pengembang AI memiliki anggaran besar dan berani membayar RAM dengan harga premium demi menjaga stabilitas dan performa layanan mereka.

Kondisi ini berdampak langsung pada pasar konsumen. Pasokan RAM untuk perangkat seperti smartphone semakin menyusut.

Bahkan, Micron dikabarkan mulai mengurangi fokus pada lini RAM dan SSD konsumer bermerek Crucial untuk memaksimalkan produksi bagi kebutuhan server AI.

Kelangkaan pasokan tersebut langsung tercermin pada harga komponen.

Baca Juga: Palu Maut di RSUD Majalaya! Kepala Cleaning Service Habisi Bawahan Gara-Gara Utang Rp5 Juta

Data industri menunjukkan Samsung telah menaikkan harga modul RAM hingga sekitar 60 persen sejak pertengahan 2025.

Kenaikan ini membuat biaya produksi smartphone ikut melonjak drastis.

Sejumlah produsen ponsel pun tak lagi bisa menutupi tekanan tersebut.

Xiaomi, misalnya, secara terbuka mengakui semakin sulit mempertahankan harga jual produknya. Beban biaya komponen dinilai sudah melampaui batas toleransi produsen.

Baca Juga: Pemerintah Beri Sinyal, Jadwal Gaji Ke-13 2026 ASN Belum Resmi Diumumkan, Simak Penjelasannya

Dari seluruh segmen pasar, smartphone kelas menengah diprediksi menjadi yang paling terdampak.

Ponsel di kelas ini sangat sensitif terhadap kenaikan biaya produksi. Sedikit saja harga komponen naik, margin keuntungan produsen langsung tergerus.

Sementara itu, segmen flagship relatif lebih aman karena sejak awal dibanderol mahal dan menyasar konsumen premium.

Baca Juga: Inilah Data Terbaru Bencana Sumatra 1.177 Meninggal, 242 Ribu Mengungsi

Meski begitu, bukan berarti terbebas sepenuhnya. Konsumen tetap harus bersiap menghadapi harga yang lebih tinggi untuk spesifikasi serupa pada 2026.

Dengan situasi tersebut, masyarakat disarankan lebih bijak dalam memilih smartphone, menyesuaikan dengan kebutuhan jangka panjang, serta mempertimbangkan waktu pembelian agar tidak terbebani lonjakan harga di masa mendatang.***