POJOKSATU.id — Istilah cyberdeck belakangan semakin sering terdengar di kalangan penggemar teknologi, maker, hingga komunitas komputer DIY (Do It Yourself).
Meski tampilannya sekilas menyerupai laptop, cyberdeck sebenarnya merupakan komputer portabel rakitan yang dirancang secara khusus sesuai kebutuhan penggunanya.
Konsep cyberdeck mengutamakan fleksibilitas, kustomisasi, serta kreativitas dalam merancang perangkat.
Baca Juga: Terdakwa Priyo Divonis Seumur Hidup Kasus Sekeluarga Indramayu, Lebih Berat dari Tuntutan 20 Tahun
Tidak seperti laptop komersial yang memiliki desain seragam, setiap cyberdeck biasanya memiliki bentuk, ukuran, dan fitur yang berbeda-beda sesuai tujuan pembuatnya.
Istilah cyberdeck berasal dari genre fiksi ilmiah cyberpunk, khususnya novel Neuromancer karya William Gibson yang terbit pada 1984.
Dalam novel tersebut, cyberdeck digambarkan sebagai perangkat yang digunakan untuk mengakses dunia maya atau cyberspace.
Baca Juga: Jangan Terkecoh Klaim Kemasan, Prof Rini Sekartini Ungkap 4 Cara Cek Komposisi Produk Nutrisi Anak
Seiring berkembangnya teknologi komputer mini, konsep tersebut kemudian diwujudkan oleh komunitas maker menjadi perangkat nyata yang dapat digunakan untuk berbagai aktivitas komputasi.
Secara umum, cyberdeck terdiri atas sebuah komputer berukuran kecil, layar portabel, keyboard, sistem catu daya mandiri, serta berbagai modul tambahan yang disesuaikan dengan kebutuhan pengguna.
Banyak pembuat cyberdeck memanfaatkan single-board computer seperti Raspberry Pi, mini PC berbasis Intel atau AMD, hingga platform komputasi untuk kecerdasan buatan.
Baca Juga: UI Tegaskan Kajian BEM Psikologi soal LGBT Bukan Sikap Resmi Kampus, Ini Duduk Perkaranya
Desain cyberdeck pun sangat beragam.
Ada yang dibuat menyerupai koper, perangkat genggam, keyboard dengan layar lipat, hingga menggunakan casing aluminium atau hasil cetak printer 3D yang memberikan kesan futuristik.
Selain tampil unik, cyberdeck memiliki banyak fungsi praktis.
Perangkat ini dapat dimanfaatkan untuk belajar pemrograman, menjalankan sistem operasi Linux, mengelola server melalui SSH, mengembangkan proyek Internet of Things (IoT), robotika, hingga eksperimen kecerdasan buatan dalam skala kecil.
Sebagian pengguna juga memanfaatkan cyberdeck untuk komunikasi radio digital, aktivitas lapangan, maupun sebagai komputer kerja berdaya rendah yang mudah dibawa ke berbagai lokasi.
Salah satu daya tarik utama cyberdeck adalah tingkat kustomisasi yang sangat tinggi.
Pengguna bebas menentukan spesifikasi perangkat keras, kapasitas baterai, jumlah port, jenis keyboard, hingga tata letak komponen sesuai kebutuhan.
Namun demikian, cyberdeck juga memiliki sejumlah keterbatasan. Perangkat ini umumnya memerlukan kemampuan teknis untuk merakit dan mengonfigurasinya.
Selain itu, performanya sangat bergantung pada komponen yang digunakan sehingga belum tentu dapat menggantikan fungsi laptop berperforma tinggi.
Bagi sebagian orang, cyberdeck bukan sekadar komputer portabel, melainkan sebuah proyek kreatif yang menggabungkan kemampuan elektronika, pemrograman, desain industri, serta modifikasi perangkat keras.
Itulah sebabnya hampir tidak ada dua cyberdeck yang memiliki desain identik karena setiap perangkat dibuat dengan karakter dan kebutuhan yang berbeda.
Popularitas cyberdeck diperkirakan akan terus meningkat seiring berkembangnya komunitas DIY, maker, dan perangkat komputasi berukuran kecil yang semakin canggih serta hemat daya.***

