POJOKSATU.id - Di tengah perkembangan teknologi, chatbot AI seperti ChatGPT ternyata bukan cuma dipakai untuk mencari informasi.

Banyak orang justru menggunakannya sebagai tempat “curhat” karena dinilai lebih bisa mendengar tanpa menghakimi.

Hal ini dirasakan oleh Anna, seorang perempuan asal Ukraina yang kini tinggal di London.

Ia mengaku rutin menggunakan chatbot AI, bukan sekadar untuk mencari jawaban, tapi untuk memahami dirinya sendiri.

Baca Juga: Dikira Semua Mahal, Ternyata UKT UNP 2026 Mulai Rp500 Ribu! Kedokteran Bikin Melirik Dua Kali

“"I am aware it's a machine but it's super convenient and knows how to listen well whenever I need it,"” ujarnya.

Menurut Anna, yang membuat AI terasa berbeda adalah kemampuannya memberi ruang tanpa interupsi.

Saat ia putus dengan pasangannya, AI justru menjadi tempat yang nyaman untuk mengurai perasaan tanpa dihakimi.

Berbeda dengan teman atau keluarga yang langsung bereaksi, AI justru hadir tanpa penilaian.

Baca Juga: Soal Dugaan Pelecehan Seksual di UI dan IPB, Pakar Desak Pelaku Dijerat UU TPKS dan ITE

Di situlah muncul ruang refleksi yang lebih jujur dan tenang.

Fenomena ini ternyata bukan hal baru. Riset Harvard Business Review menunjukkan bahwa pada 2025, penggunaan AI untuk terapi dan companionship menjadi yang paling umum.

Menariknya lagi, dalam beberapa studi, respons AI bahkan dinilai lebih empatik dibanding manusia, termasuk dibandingkan petugas hotline krisis.

Bukan karena AI benar-benar punya empati, tapi karena manusia sering kali gagal mendengarkan tanpa menghakimi.

Baca Juga: Tak Terima Dikaitkan dalam Kasus Dugaan Pelecehan sang Kakak, Jisoo BLACKPINK Siap Tempuh Jalur Hukum

AI memang tidak benar-benar merasakan emosi.

Namun, teknologi ini mampu mengenali pola bahasa dan memantulkan kembali perasaan pengguna, sehingga membuat seseorang merasa didengar.

Dari sini, ada banyak pelajaran yang bisa diambil manusia soal cara mendengarkan yang lebih baik.

Salah satu yang paling mendasar adalah memberi perhatian penuh tanpa menyela.

Baca Juga: Apakah PPPK Paruh Waktu Bisa Daftar SPPI Koperasi Merah Putih 2026?

Tanpa sadar, manusia sering memotong pembicaraan karena ingin cepat membantu atau memberi solusi.

Padahal, interupsi justru bisa mengurangi rasa empati yang dirasakan lawan bicara.

Sementara AI, karena tidak punya dorongan emosional, cenderung lebih sabar.

Selain itu, AI juga cukup baik dalam mengenali emosi.

Baca Juga: RUU PRRT Resmi Disetujui ke Paripurna DPR RI, Pekerja Rumah Tangga harus Dapat Upah Layak sampai Hari Libur dan Cuti

Teknologi ini bisa mengidentifikasi perasaan seperti sedih, takut, atau cemas, lalu merespons dengan kalimat yang membuat pengguna merasa dipahami.

Pelajaran lainnya adalah soal menerima emosi. Manusia sering terburu-buru menenangkan, padahal yang dibutuhkan justru ruang untuk merasakan emosi tersebut.

AI tidak buru-buru “memperbaiki”, tapi justru membiarkan pengguna mengekspresikan perasaannya.

Baca Juga: Bupati Bogor Minta Warganya Dukung Pentaan Wilayah Terkait Tata Pedagang di Sentul

Namun, bukan berarti AI bisa menggantikan manusia sepenuhnya.

Ada banyak risiko jika terlalu bergantung pada chatbot, mulai dari potensi manipulasi hingga berkurangnya kemampuan bersosialisasi.

Selain itu, hubungan dengan manusia tetap punya nilai yang tidak tergantikan, kehadiran nyata, waktu yang diberikan, dan kepedulian yang tulus.

AI memang bisa menjadi alat bantu untuk belajar mendengarkan dengan lebih baik.

Baca Juga: Jangan Sampai Salah! Ini Lokasi UTBK-SNBT 2026 di UNJ dan Sekolah Mitra

Tapi pada akhirnya, hubungan antarmanusia tetap menjadi fondasi utama dalam membangun empati dan koneksi yang mendalam.

Kadang, yang kita butuhkan bukan solusi cepat, tapi seseorang yang benar-benar mau mendengar.

Di situlah kita diingatkan, bahwa jadi manusia yang hadir sepenuhnya untuk orang lain mungkin terdengar sederhana, tapi justru itu yang paling berarti.***