POJOKSATU.id — Menggunakan WiFi publik memang menawarkan kemudahan karena memungkinkan siapa saja mengakses internet tanpa harus menggunakan kuota data seluler.
Fasilitas ini kini tersedia di berbagai tempat umum, seperti kafe, restoran, hotel, bandara, stasiun, pusat perbelanjaan, perpustakaan, hingga rumah sakit.
Meski sangat membantu, banyak orang masih bertanya-tanya apakah menggunakan WiFi publik benar-benar berbahaya.
Baca Juga: 3 HP Murah Terbaik 2026 untuk Pedagang Online, WhatsApp Business Lancar hingga Baterai Awet Seharian
Jawabannya adalah ya, WiFi publik memiliki sejumlah risiko keamanan.
Namun, anggapan bahwa semua jaringan WiFi publik pasti berbahaya juga tidak sepenuhnya tepat.
Tingkat keamanan sebuah jaringan sangat bergantung pada sistem yang diterapkan oleh penyedia layanan serta bagaimana pengguna menjaga keamanan perangkat dan data pribadinya saat terhubung ke internet.
Baca Juga: GMPB Desak Pengusutan Korupsi BGN Menjangkau Daerah, Jangan Hanya Berhenti di Pusat
Dibandingkan dengan jaringan WiFi pribadi yang umumnya memiliki perlindungan lebih baik, WiFi publik digunakan oleh banyak orang dalam waktu yang bersamaan.
Kondisi tersebut membuat jaringan lebih rentan dimanfaatkan oleh pelaku kejahatan siber untuk melancarkan berbagai aksi.
Mulai dari penyadapan data hingga pencurian akun.
Oleh karena itu, penting bagi setiap pengguna untuk memahami berbagai risiko yang mungkin terjadi agar dapat menggunakan WiFi publik dengan lebih aman.
Salah satu ancaman yang paling umum adalah penyadapan data.
Pada jaringan yang tidak dilengkapi sistem enkripsi yang memadai, pelaku kejahatan siber berpotensi mencegat data yang sedang dikirimkan antara perangkat pengguna dan internet.
Informasi seperti alamat email, nama pengguna, kata sandi, hingga data login berbagai layanan dapat menjadi sasaran.
Risiko tersebut akan semakin tinggi apabila pengguna mengakses situs web yang belum menggunakan protokol keamanan HTTPS sehingga data yang dikirimkan lebih mudah diintip oleh pihak lain.
Selain penyadapan data, pengguna juga perlu mewaspadai serangan Man-in-the-Middle atau MitM.
Dalam metode ini, pelaku menyisipkan dirinya di antara perangkat pengguna dan jaringan internet sehingga seluruh lalu lintas data dapat dipantau atau bahkan dimodifikasi tanpa disadari korban.
Baca Juga: KNPI Sikapi Penahanan Febrie Adriansyah, Berlakukan SOP Sama untuk Semua Tersangka Korupsi
Apabila serangan berhasil dilakukan, informasi sensitif seperti data akun, kata sandi, maupun informasi pribadi lainnya dapat bocor dan dimanfaatkan untuk tujuan yang merugikan.
Ancaman lain yang cukup sering ditemukan adalah keberadaan WiFi palsu atau Evil Twin.
Pelaku membuat hotspot dengan nama yang sangat mirip dengan jaringan resmi, misalnya menggunakan nama kafe, hotel, atau bandara tempat pengguna berada.
Karena tampilannya tampak meyakinkan, banyak pengguna tidak menyadari bahwa mereka sebenarnya terhubung ke jaringan palsu.
Setelah perangkat tersambung, aktivitas internet pengguna dapat dipantau dan berbagai informasi penting yang dikirimkan berpotensi dicuri.
Menggunakan WiFi publik untuk membuka email, media sosial, maupun layanan perbankan juga memiliki risiko tersendiri.
Jika informasi login berhasil disadap atau pengguna diarahkan menuju halaman masuk palsu yang menyerupai situs asli, pelaku dapat memperoleh nama pengguna dan kata sandi.
Akibatnya, akun digital berisiko diambil alih dan disalahgunakan tanpa sepengetahuan pemiliknya.
Oleh sebab itu, aktivitas yang melibatkan data sensitif sebaiknya dihindari saat menggunakan jaringan publik.
Risiko berikutnya adalah penyebaran malware.
Baca Juga: 5 Tempat Makan Siang Dekat Stasiun Bogor yang Legendaris, Enak, Murah, dan Selalu Ramai Pembeli
Dalam kondisi tertentu, perangkat yang terhubung ke jaringan publik dapat menjadi sasaran penyebaran perangkat lunak berbahaya, terutama jika sistem operasi atau aplikasi belum diperbarui dan perangkat tidak memiliki perlindungan keamanan yang memadai.
Malware dapat digunakan untuk mencuri data, memantau aktivitas pengguna, hingga merusak sistem perangkat sehingga menimbulkan kerugian yang lebih besar.
Tidak hanya itu, pengguna juga perlu memperhatikan pengaturan perangkat saat menggunakan WiFi publik.
Jika fitur berbagi file, printer sharing, atau network discovery masih aktif, perangkat dapat lebih mudah ditemukan oleh pengguna lain yang berada dalam jaringan yang sama.
Kondisi tersebut dapat membuka peluang terjadinya akses tanpa izin terhadap perangkat apabila tidak disertai pengamanan yang memadai.
Meskipun demikian, bukan berarti WiFi publik harus dihindari sepenuhnya.
Ada beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan untuk mengurangi risiko keamanan saat menggunakan jaringan tersebut.
Langkah pertama adalah memastikan bahwa jaringan WiFi yang digunakan benar-benar resmi dengan mengonfirmasi nama jaringan kepada petugas atau pengelola lokasi.
Hindari langsung terhubung ke jaringan yang memiliki nama serupa tanpa memastikan keasliannya.
Selanjutnya, sebaiknya jangan melakukan transaksi keuangan, membuka aplikasi mobile banking, internet banking, maupun memasukkan informasi kartu kredit saat menggunakan WiFi publik.
Aktivitas yang berkaitan dengan data keuangan akan jauh lebih aman jika dilakukan menggunakan data seluler atau hotspot pribadi yang lebih terpercaya.
Pengguna juga disarankan untuk selalu memperhatikan apakah situs web yang dikunjungi telah menggunakan protokol HTTPS.
Kehadiran ikon gembok pada bilah alamat browser menunjukkan bahwa koneksi ke situs tersebut telah dienkripsi sehingga data yang dikirimkan memiliki perlindungan tambahan.
Untuk meningkatkan keamanan, penggunaan VPN atau Virtual Private Network juga sangat disarankan.
VPN akan mengenkripsi lalu lintas internet sehingga data yang dikirimkan menjadi lebih sulit dibaca oleh pihak lain meskipun berada dalam jaringan yang sama.
Selain itu, mengaktifkan autentikasi dua faktor atau 2FA pada akun-akun penting seperti email, media sosial, layanan penyimpanan cloud, hingga aplikasi keuangan dapat memberikan lapisan perlindungan tambahan.
Dengan fitur ini, akun tetap memerlukan proses verifikasi tambahan meskipun kata sandi berhasil diketahui oleh pihak lain.
Langkah penting lainnya adalah menonaktifkan fitur file sharing, AirDrop bagi pengguna perangkat Apple, Bluetooth jika sedang tidak digunakan, serta network discovery selama terhubung ke jaringan publik.
Cara sederhana ini dapat membantu mengurangi kemungkinan perangkat diakses oleh pengguna lain dalam jaringan yang sama.
Pengguna juga sebaiknya rutin memperbarui sistem operasi, browser, dan aplikasi yang digunakan.
Pembaruan perangkat lunak umumnya berisi perbaikan terhadap berbagai celah keamanan yang sebelumnya ditemukan sehingga perangkat menjadi lebih terlindungi dari ancaman terbaru.
Pada dasarnya, WiFi publik masih aman digunakan untuk aktivitas yang memiliki tingkat risiko rendah, seperti membaca berita, mencari informasi di internet, menonton video, mengikuti kelas daring, atau menjelajahi media sosial tanpa melakukan transaksi penting.
Sebaliknya, jika ingin mengakses layanan perbankan, melakukan pembayaran digital, mengirim dokumen yang berisi informasi pribadi, atau masuk ke akun yang menyimpan data sensitif, sebaiknya gunakan koneksi data seluler atau hotspot pribadi agar keamanan data lebih terjamin.
Kesimpulannya, WiFi publik bukanlah sesuatu yang harus dihindari sepenuhnya.
Jaringan ini tetap dapat dimanfaatkan secara aman selama pengguna memahami berbagai risiko yang ada dan menerapkan langkah-langkah perlindungan yang tepat.
Dengan kebiasaan digital yang baik, seperti memilih jaringan resmi, menggunakan VPN, mengaktifkan autentikasi dua faktor, serta menghindari transaksi penting melalui jaringan publik, risiko kebocoran data maupun pencurian akun dapat diminimalkan secara signifikan.***

