POJOKSATU.ID - Ketika seluruh sendi kehidupan terus diwarnai kecerdasan buatan (AI/Artificial Intelligence), apakah dengan serta merta semuanya serba otomatis? Benarkah SDM tak dibutuhkan lagi karena AI mampu hantarkan segalanya secara cemerlang?

EVP Digital Business & Technology Telkom, Komang Budi Aryasa menjawab seluruh kegelisahan tersebut. Ia berpendapat, sekalipun perubahan berbasis teknologi informasi komunikasi (TIK) ini terus terjadi, tak serta merta posisi manusia raib digantikan teknologi.

"AI tak hanya sekedar menempatkan SDM sekadar bertindak pencipta dan pengembang AI saja. Lebih dari itu, jika ingin lebih menyentuh sisi afektif, manusia juga bertindak sebagai pengawas dan pengarah yang memastikan perjalanan AI dikembangkan," kata Komang.

Baca Juga: Kendalikan Inflasi dan Jaga Stabilitas Pasokan Pangan di Kota Bandung, TPID Gelar FGD Susun Rancangan

Lebih jauh, ia mengatakan, dengan emosi dan landasan etik, AI bisa terus dikembangkan secara bermanfaat sekaligus bertanggungjawab.

"Ada tiga peran kunci keberadaan manusia di balik perkembangan AI yang akan selalu dibutuhkan perusahaan, Researcher dan Data Scientist, Engineer dan Developer, dan Designer dan Programmer,"

Researcher dan Data Scientist atau peran peneliti dan ilmuwan data sangat penting, mereka penggerak utama di balik penelitian dasar dan terapan yang memungkinkan kemajuan AI. Mereka berperan menemukan algoritma baru dan meningkatkan teknik AI yang sudah ada.

"Ilmuwan data melakukan analisis data, membangun model prediktif, dan menerapkan teknik pembelajaran mesin untuk memecahkan masalah nyata," jelasnya.

Baca Juga: Konstelasi Politik Berubah di Jakarta, Anies Punya Kans Didukung 4 Partai Non Parlemen, Kuncinya PDIP

Engineer dan Developer, kedua Insinyur AI mengimplementasikan algoritma serta model AI ke sistem perangkat lunak yang aplikatif.

Sedang developer atau pengembang perangkat lunak akan bekerjasama dengan insinyur untuk memastikan bahwa perangkat lunak yang dikembangkan dapat berjalan efektif dan efisien.

Terakhir, Designer dan Programmer atau para ilmuwan komputer, insinyur, dan ahli data memainkan peran penting dalam merancang dan memprogram sistem AI.

"Mereka menulis kode, mengembangkan arsitektur jaringan saraf, dan memastikan sistem AI dapat berjalan oke," ungkapnya.

Baca Juga: MediaMIND 2024: Tantang Jurnalis dan Mahasiswa Ulik Hilirisasi Minerba

Selain ketiganya, lanjut Komang, masih banyak lagi job role yang menentukan kesuksesan produk dan layanan digital seperti System Designer, AI Architect, Spesialis Etika dan Regulasi AI, hingga pemimpin bisnis.

Sejak empat tahun silam, Telkom telah bertransformasi menjadi Digital Telecommunication Company, yang mengembangkan berbagai produk dan layanan digital termasuk AI.

Terlebih dengan pesatnya perkembangan AI, Indonesia memiliki potensi mengembangkan berbagai solusi digital untuk membenahi berbagai tantangan yang hadir. Dan, solusi digital tersebut telah PT Telkom hadirkan dalam tiga kelompok besar layanan yaitu digital connectivity, digital platform, dan digital services.

Komang mengatakan, Telkom sudah memanfaatkan AI selama beberapa tahun terakhir dengan dua penggunaan mayor.

Baca Juga: Sebelum Seleksi CPNS dan PPPK 2024, Intip Yuk Berapa Gaji yang Bakal Diterima Tiap Bulannya

"Pertama bagaimana memanfaatkan AI untuk meningkatkan pengalaman pelanggan pada bisnis eksisting Telkom. Kedua, menawarkan layanan digital berbasis AI seperti BigBox yang menghadirkan big data dan solusi AI yang bisa dipakai di seluruh industri, bahkan institusi pemerintahan," ungkapnya.

Pada akhirnya, asa kedaulatan digital termasuk dalam bidang AI bukan-lah angan semata.

"Upaya Telkom yang telah dan sedang hadirkan talenta digital untuk mengakselerasi pengembangan teknologi AI adalah sepenuhnya demi kemajuan bangsa. Dirgahayu RI ke-79," tutupnya.***