POJOKSATU.id - Ketegangan terkait akses Jalan Puspitek kembali mencuat setelah warga Muncul, Serpong, Kota Tangerang Selatan, menyampaikan ultimatum keras kepada pemerintah daerah.
Mereka menegaskan siap menggelar aksi yang lebih besar jika persoalan pemasangan artefak “Selamat Datang Kota Tangerang Selatan” dan batas wilayah Banten–Jawa Barat tak kunjung diselesaikan.
Aspirasi itu mengemuka dalam pertemuan antara warga dan Pemerintah Kota Tangsel pada Senin (1/12/2025).
Baca Juga: Warga Mengamuk! Tambang Emas Bukit Sanggul Disebut Bom Waktu Bencana Siap Tenggelamkan Seluma
Perwakilan warga, Neng Nurohmah (65), menyoroti lambannya realisasi janji pemkot yang sebelumnya menyatakan artefak tersebut akan terpasang paling lambat akhir Januari 2026. Namun hingga kini, progresnya dinilai mandek.
Menurut penuturan Neng, Pemkot Tangsel beralasan proses pemasangan terhambat karena kebutuhan koordinasi lintas lembaga.
Termasuk dengan Pemerintah Provinsi Banten dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) yang menguasai area Jalan Puspitek sejak akses itu ditutup pada 2022.
Baca Juga: Sekda Bandung: Pengadaan Barang dan Jasa Jadi Unsur Strategis Pembangunan Daerah
Namun warga mulai kehilangan kesabaran. Neng menyebut kemungkinan aksi dalam jumlah massa lebih besar akan digelar sebagai bentuk penegasan keresahan yang tidak lagi bisa ditahan.
“Kalau Januari tidak ada realisasi, kami turun lagi. Bukan aksi kecil, tapi yang lebih besar. Kalau perlu kita kumpulkan ban bekas biar Presiden Prabowo tahu kondisi kami,” tegas Neng, dikutip pojoksatu.id dari TribunTangsel.com
Ia bahkan menggambarkan kondisi yang mereka alami sebagai “genosida ekonomi”, mengingat.
Baca Juga: Jerit Nenek 76 Tahun: Rumahku Habis! Namun Bahlil Hanya Tawarkan Penampungan Sementara
Penutupan akses sejak dua tahun lalu disebut telah melumpuhkan aktivitas warga kecil yang bergantung pada jalur tersebut untuk bekerja dan berdagang.
Kekecewaan warga juga dipicu minimnya kejelasan informasi dari Pemkot Tangsel maupun Pemprov Banten.
Janji-janji yang sebelumnya dilontarkan, termasuk kabar dari Gubernur soal penyelesaian pada pertengahan bulan lalu, tak kunjung terbukti.
Meski begitu, Pemkot Tangsel dalam pertemuan tersebut menyatakan komitmennya untuk memasang kembali artefak penyambut kota dan penanda batas provinsi.
Warga pun siap memberikan dukungan, bahkan secara swadaya, selama prosedurnya jelas dan mendapat izin resmi.
Baca Juga: Dokumen Kependudukan Hilang Saat Banjir? Disdukcapil Medan Siapkan Layanan Cepat
Neng menilai pembukaan pagar akses BRIN baru-baru ini membuktikan bahwa suara masyarakat tetap efektif jika disampaikan secara tegas dan terus-menerus.
“Negara ternyata bergerak kalau warga bersuara langsung. Kalau tidak, mungkin sampai sekarang pagarnya belum dibuka,” katanya, dikutip pojoksatu.id dari TribunTangsel.com
Ketegangan terkait akses Jalan Puspitek kembali mencuat setelah warga Muncul, Serpong, Kota Tangerang Selatan, menyampaikan ultimatum keras kepada pemerintah daerah.
Baca Juga: 12 Kategori PPPK Paruh Waktu Yang Tak Bisa Diangkat Jadi Penuh Waktu, Bahkan Berisiko Diblacklist
Mereka menegaskan siap menggelar aksi yang lebih besar jika persoalan pemasangan artefak “Selamat Datang Kota Tangerang Selatan” dan batas wilayah Banten–Jawa Barat tak kunjung diselesaikan.
Aspirasi itu mengemuka dalam pertemuan antara warga dan Pemerintah Kota Tangsel pada Senin (1/12/2025).
Perwakilan warga, Neng Nurohmah (65), menyoroti lambannya realisasi janji pemkot yang sebelumnya menyatakan artefak tersebut akan terpasang paling lambat akhir Januari 2026. Namun hingga kini, progresnya dinilai mandek.
Baca Juga: Heboh! Pria Ngaku Dimintai Uang Saat Pinjam Mobil Kodim, TNI Bantah Keras Tidak Benar!
Menurut penuturan Neng, Pemkot Tangsel beralasan proses pemasangan terhambat karena kebutuhan koordinasi lintas lembaga.
Termasuk dengan Pemerintah Provinsi Banten dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) yang menguasai area Jalan Puspitek sejak akses itu ditutup pada 2022.
Namun warga mulai kehilangan kesabaran. Neng menyebut kemungkinan aksi dalam jumlah massa lebih besar akan digelar sebagai bentuk penegasan keresahan yang tidak lagi bisa ditahan.
“Kalau Januari tidak ada realisasi, kami turun lagi. Bukan aksi kecil, tapi yang lebih besar. Kalau perlu kita kumpulkan ban bekas biar Presiden Prabowo tahu kondisi kami,” tegas Neng.
Ia bahkan menggambarkan kondisi yang mereka alami sebagai “genosida ekonomi”, mengingat.
Penutupan akses sejak dua tahun lalu disebut telah melumpuhkan aktivitas warga kecil yang bergantung pada jalur tersebut untuk bekerja dan berdagang.
Baca Juga: Lemas Setelah Evakuasi Berjam Jam, Pria Ini Selamat Berkat Kulkas Hanyut yang Berisi Makanan
Kekecewaan warga juga dipicu minimnya kejelasan informasi dari Pemkot Tangsel maupun Pemprov Banten.
Janji-janji yang sebelumnya dilontarkan, termasuk kabar dari Gubernur soal penyelesaian pada pertengahan bulan lalu, tak kunjung terbukti.
Meski begitu, Pemkot Tangsel dalam pertemuan tersebut menyatakan komitmennya untuk memasang kembali artefak penyambut kota dan penanda batas provinsi.
Baca Juga: Lemas Setelah Evakuasi Berjam Jam, Pria Ini Selamat Berkat Kulkas Hanyut yang Berisi Makanan
Warga pun siap memberikan dukungan, bahkan secara swadaya, selama prosedurnya jelas dan mendapat izin resmi.
Neng menilai pembukaan pagar akses BRIN baru-baru ini membuktikan bahwa suara masyarakat tetap efektif jika disampaikan secara tegas dan terus-menerus.
“Negara ternyata bergerak kalau warga bersuara langsung. Kalau tidak, mungkin sampai sekarang pagarnya belum dibuka,” katanya, dikutip pojoksatu.id dari TribunTangsel.com
Baca Juga: Dompet Dhuafa Tangani 9.663 Korban Banjir Sumatra, Turunkan Tim Respon Darurat Pasca Bencana
Warga berharap pemerintah benar-benar menepati janji sehingga mereka tidak perlu kembali turun ke jalan.
Warga berharap pemerintah benar-benar menepati janji sehingga mereka tidak perlu kembali turun ke jalan.***
