POJOKSATU.id, TANGSEL -- Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Tangerang Selatan Wahyunoto Lukman seolah tak setuju kualitas udara di Tangsel kian memburuk sebulan terakhir.
Wahyu menyebut, kualitas udara di sebuah kota tak bisa diukur oleh hanya satu indikator atau alat ukur, seharusnya ada indikator resmi soal kualitas udara ini.
Wahyu juga mempetanyakan lembaga independen pemantau kualitas udara, Nafas, yang menempatkan udara Tangsel di bulan Juli 2023 terburuk se-Indonesia.
Baca Juga: Yenny Wahid Puji Duet Anies-AHY Paling Top, Demokrat Malah Bilang Yenny Tak Cocok dengan Anies
Ia merasa heran, karena indikator tersebut tak memaparkan bagaimana lembaga tersebut menilai kualitas udara di Tangsel.
"Yang penting untuk diketahui terlebih dahulu, seperti apa alat, metode, dan sampel udara yang diuji oleh pihak terkait yang mempublis keadaan kualitas udara Tangsel, apakah alat dan metode tersebut sudah sesuai kaidah atau SOP yang terakreditasi oleh lembaga yang berkompeten," kata Wahyu kepada wartawan, Jumat (11/8/2023).
Wahyu mengklaim seharusnya ada indikator yang sifatnya resmi untuk mengukur kualitas udara di sebuah kota.
Bahkan secara gamblang ia menyebut sampel udara yang diuji juga harus benar-benar mewakili keadaan seluruh wilayah Tangsel.
Baca Juga: Lewati Guncangan Hebat Moeldoko Lebih 2 Tahun, PKS dan Anies Puji Kehebatan Ketum AHY
Minimal dari tujuh wilayah kecamatan yang ada.
"Jangan hanya diukur satu wilayah atau kecamatan lah. Jadi tidak terburu-buru, apalagi sembarangan menyebarkan informasi yang belum dapat dipertangungjawabkan," kata dia.
Meski begitu, Dinas Lingkungan Hidup Tangsel memiliki alat ukur baik aktif maupun pasif dan menggunakan metode sampling. Bahkan, uji klinis ini sudah terakreditasi melalui lembaga komite akreditasi nasional.
"Alat aktif DLH Tangsel ada di taman kesehatan secara terus menerus realtime mengukur dan menguji kualitas udara, kemudian dibandingkan dengan alat uji kualitas pasif yang mengambil sampel udara di beberapa wilayah lain dalam wilayah Kota Tangerang Selatan yang hasilnya benar-benar dapat dipertanggungjawabkan," ungkapnya.
Wahyu memastikan, sejauh ini kualitas udara di Tangsel tergolong layak dan sehat untuk kebutuhan mahluk hidup.
"Kemudian ada dinamika kualitas udara yang bisa dalam keadaan kurang baik, memang tidak terlepas dari kondisi iklim el nino atau cuaca panas serta kemarau yg sedang melanda," tutup Wahyu.
Sebelumnya, berdasarkan hasil pemantauan Nafas selama bulan Juli 2023, Kecamatan Serpong, Tangerang Selatan, menjadi lokasi paling berpolusi di Indonesia dengan rata-rata PM2.5 yang dihasilkan 80 µg/m³, ditandai kode warna merah atau tidak sehat untuk semua orang.
Sementara di urutan kedua wilayah paling berpolusi ditempati oleh Tarumajaya, Bekasi (79 µg/m³); diikuti Parung Panjang, Bogor (70 µg/m³); Babakan, Tangsel (70 µg/m³); dan Bedahan, Depok (68 µg/m³). ***
