POJOKSATU.id - Museum Pustaka Peranakan Tionghoa merupakan salah satu destinasi wisata edukatif di Tangerang Selatan.

Yang menyimpan kisah panjang tentang sejarah dan kontribusi masyarakat Tionghoa di Indonesia.

Museum ini bukan sekadar tempat menyimpan benda bersejarah, tetapi juga menjadi simbol upaya pelestarian identitas budaya dan literasi lintas etnis.

Baca Juga: Tagar Boikot Trans7, KPI: Acuan Pengetahuan Tentang Khazanah Kepesantrenan Wajib Dipertanyakan, Sindir Sumber Tak Kredibel

Berdiri di kawasan Ruko Golden Road, Lengkong Gudang, Serpong, museum ini didirikan oleh Azmi Abubakar, seorang pria berdarah Gayo yang memiliki kepedulian tinggi terhadap sejarah dan nilai kemanusiaan.

Perjalanan berdirinya museum ini dimulai pada tahun 2011, ketika Azmi terinspirasi oleh pengalaman pribadinya menyaksikan kerusuhan sosial tahun 1998.

Yang menimpa masyarakat Tionghoa. Rasa empati dan keinginannya untuk memahami lebih dalam akar persoalan tersebut mendorongnya.

Baca Juga: Menginap Nyaman Tanpa Bikin Kantong Bolong 5 Hotel Favorit di Tangerang Selatan

Mengumpulkan berbagai literatur, arsip, dan dokumen tentang etnis Tionghoa di Indonesia. Dari langkah kecil itu, lahirlah sebuah koleksi luar biasa yang kini berjumlah lebih dari 40.000 karya pustaka.

Setiap sudut museum ini menyimpan potongan sejarah yang berharga—mulai dari literatur abad ke-19, dokumen perjuangan tokoh-tokoh Tionghoa seperti Laksamana John Lie.

Hingga papan nama sekolah Tiong Hoa Hwee Kwan yang menjadi saksi perkembangan pendidikan etnis Tionghoa di Nusantara.

Baca Juga: Sebut Rakyat Lebih Makmur di Era SBY Dibandingkan Era Jokowi, Laskar Cinta Jokowi Kebakaran Jenggot, Minta Prabowo Pecat Purbaya

Salah satu koleksi paling unik bahkan berupa buku kuno beraksara Jawa yang ditulis oleh seorang keturunan Tionghoa pada tahun 1891, menunjukkan betapa kuatnya interaksi budaya antar etnis sejak masa lampau.

Meskipun berukuran relatif kecil, yakni sekitar 10 x 5 meter dengan dua lantai, museum ini menyuguhkan suasana yang penuh makna dan refleksi sejarah.

Setiap pengunjung diajak memahami betapa besar kontribusi masyarakat Tionghoa terhadap perjalanan bangsa Indonesia, baik sebelum maupun sesudah kemerdekaan.

Kini, Museum Pustaka Peranakan Tionghoa bukan hanya menjadi tempat wisata sejarah, tetapi juga ruang dialog lintas budaya yang memperkaya wawasan dan menumbuhkan semangat toleransi.

Melalui ribuan koleksinya, museum ini mengingatkan bahwa keberagaman adalah kekuatan yang membentuk wajah Indonesia hari ini.***