POJOKSATU.id - Polemik penembokan SDN Lengkong Karya, Serpong Utara, Tangeran Selatan, tak mencapai kesepakatan dengan pemilik lahan.

Pelemik dan sengkarut lahan SDN Lengkong karya itu sudah berlangsung selama 8 tahun.

Terbaru, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Tangerang Selatan (Tangsel) memutuskan merobohkan tembok samping sekolah.

Baca Juga: Berlian Panas

Dinas Pendidikan lebih memilih membeli lahan di samping sekolah milik Supriadi untuk digunakan akses jalan baru untuk masuk ke sekolah.

Kadisdikbud Kota Tangsel Deden Deni mengatakan, akses masuk yang baru ini akan memberikan kenyamanan bagi para siswa dan pengajar karena tidak bersinggungan langsung dengan pemilik tanah.

"Sudah diputuskan Jumat kemarin. Jadi, mulai hari ini kita pindahin aksesnya, yaitu di samping akses yang lama," kata Deden, Senin 24 Juli 2023.

Baca Juga: Bahlil Lahadalia Koar-koar Elektabilitas Prabowo Naik Gara-gara Menempel Jokowi

Alasan Disdik Tangsel memutuskan membeli lahan tersebut untuk mengakhiri polemik dengan pemilik lahan, Hardi Wijaya.

Hardi Wijaya merupakan pemilik lahan yang lokasinya berada di depan gerbang SD Negeri Lengkong Karya sudah terjadi sejak 2015 silam.

Selama ini, guru dan siswa SDN Lengkong Karya menggunakan lahan milik Hardi untuk akses keluar masuk sekolah.

Baca Juga: Bahlil Lahadalia Incar Kursi Ketum Golkar, Agung Laksono : Nantilah Pada Waktunya

Mulanya, Pemkot Tangsel bermaksud membeli sebagian lahan milik Hardi untuk digunakan sebagai akses sekolah.

Namun, Hardi bersikeras sehingga tak terjadi kesepakatan lantaran ia minta seluruh lahan seluas 1.600 meter persegi dibeli.

Sementara Disdikbud Tangsel hanya butuh sedikit lahan untuk kebutuhan jalan masuk ke sekolah.

Baca Juga: Cak Imin Sebut Gibran Wali Kota Terpopuler di Dunia, Lebih Populer Dibanding Bapaknya Saat Wali Kota

Akhirnya, Disdikbud Tangsel memilih membebaskan lahan milik Supriadi yang terletak di samping sekolah.

Luas tanah yang dibeli hanya sekitar 20 meter persegi.

"Di samping akses yang lama, ada tanah warga yang sudah kita sampaikan kami butuh dan yang punya lahan mempersilakan. Tentunya dengan harga sesuai ketentuan," kata Deden.

Baca Juga: Prabowo Mampu Menjaga Stabilitas Pemerintahan dan Situasi Politik Nasional

Kendati demikian, Deden tak mengungkap berapa uang yang dikeluarkan untuk membeli lahan tersebut.

Menurut Deden, sebelum membeli tanah Supriadi, Disdikbud sudah berdiskusi dengan Hardi sejak beberapa bulan lalu.

Negosiasi itu tidak menemukan titik terang lantaran lahan yang harus dibeli terlalu besar.

Baca Juga: Bang Yos Cium Operasi Cipta Kondisi untuk Dorong Munaslub Golkar Demi Gusur Airlangga Hartarto

Atas polemik itu, Disdikbud Tangsel lebih memilih opsi untuk membeli tanah di depan rumah Supriadi.

3 bulan lalu, Disdikbud dan Supriadi telah sepakat untuk membongkar pagar tembok sekolah yang berbatasan dengan lahan Supriadi.

"Alhamdulillah, akhirnya sudah kita bisa bongkar, kurang lebih seminggu kemarin ditutup dan sekarang sudah sepakat."

Baca Juga: Kejutan, Sheila On 7 Gantikan Band 'The 1975' di Puncak Acara We The Fest (WTF) 2023, Kunto Aji : Gokil

"Jadi, kami butuh diskusi dengan pemilik lahan, sekarang untuk akses masuk dipindahkan ke samping, cuma pindahkan gerbang yang lama geser ke samping," kata dia.

Deden memastikan bahwa Supriadi telah sepakat soal harga tanah sesuai ketentuan. Sehingga tak ada lagi polemik di kemudian hari.

"Warga rame rame bantu, warga seneng dapat gerbang baru yang ukurannya sama. Ini solusinya, dari awal solusinya ini, yang dibayar ya di samping. Hari ini juga selesai," ujarnya.

Baca Juga: Pakai Gelar Palsu, Advokat Ini Dipolisikan, Diharap Segera Diproses Hukum

Meski demikian Deden mengatakan sampai saat ini Disdikbud Tangsel belum dapat membayar lahan milik Supriadi yang telah dibongkar.

"Nanti di perubahan kita anggarkan. Baru perjanjian hitam di atas putih, karena kan mekanisme APBD murni dan perubahan," tandasnya.***

Reporter: Fandi Permana