POJOKSATU.id - Tangerang Selatan mungkin dikenal sebagai kota modern dengan gedung pencakar langit, pusat perbelanjaan, dan hunian elite yang tersebar dari Bintaro hingga BSD.

Namun di balik citra urban itu, terdapat sisi lain yang lebih tenang dan berakar kuat pada sejarah: jejak dakwah Islam yang telah berlangsung selama ratusan tahun.

Jejak itu terekam jelas dalam keberadaan masjid-masjid tua yang tersebar di berbagai penjuru Tangsel.

Baca Juga: Kisah Perjalanan Hidup Kepala Kemenag Karawang Sopian: Dari DO Kuliah hingga Meraih Gelar Doktor

Bukan hanya tempat ibadah, masjid-masjid ini adalah saksi hidup perjalanan spiritual dan sosial masyarakat dari masa ke masa.

Arsitekturnya yang khas, kisah perjuangan di balik pembangunannya, dan nilai-nilai yang diwariskan menjadikan masjid-masjid ini bukan sekadar bangunan suci.

Melainkan warisan budaya dan sejarah yang layak dijaga.

Baca Juga: TIM Jibom Polda Metro Tidak Menemukan Bahan Pelak di Gedung Nucleus Farma, Puslapor Bareskrim Telusuri Penyebab


1. Masjid Tua Jombang – Saksi Bisu Penyebaran Islam di Ciputat

Terletak di kawasan Jombang, Ciputat, Masjid Tua Jombang menjadi salah satu masjid tertua di Tangerang Selatan.

Berdiri sejak awal abad ke-19, masjid ini konon dibangun oleh para ulama dan santri yang dahulu menuntut ilmu di Banten dan Betawi, lalu menyebarkan dakwah ke wilayah selatan Jakarta.

Bangunannya sederhana, dengan atap tumpang tiga khas arsitektur Jawa dan Banten.

Baca Juga: Kopi dan Komunitas Mengapa Kafe di Tangsel Jadi Ruang Kreatif Anak Muda

Tiang-tiang penyangga terbuat dari kayu jati tua, sementara dindingnya dahulu masih berupa anyaman bambu sebelum kemudian diperkuat dengan bata.

Yang menarik, di dalam masjid ini masih tersimpan mimbar dan beduk tua yang dipercaya berusia lebih dari seabad.

Suara beduk inilah yang dahulu menjadi tanda waktu salat bagi warga kampung, jauh sebelum ada pengeras suara.

Selain fungsi ibadah, masjid ini juga berperan penting dalam pendidikan Islam.

Pada masa lalu, halaman masjid digunakan sebagai tempat belajar Al-Qur’an, menulis Arab pegon, hingga menjadi lokasi pertemuan masyarakat untuk membahas urusan kampung.

Baca Juga: Sosok Felicia Novenna, Pemilik Toko Roti Bakengrid yang Sebabkan Balita Alergi Ternyata Repack Brand Lain

Kini, meski di sekelilingnya berdiri gedung-gedung modern, Masjid Tua Jombang tetap bertahan.

Sebagai pengingat bahwa akar spiritual Ciputat dimulai dari kesederhanaan dan keikhlasan.


2. Masjid Al-Ittihad Serpong – Lambang Persatuan Umat

Jika Masjid Jombang menggambarkan akar sejarah, maka Masjid Al-Ittihad di Serpong melambangkan semangat persatuan dan kemajuan.

Baca Juga: Kearifan Lokal di Tengah Kota Modern Cerita dari Kampung Anggrek Ciputat

Didirikan sekitar tahun 1950-an oleh tokoh masyarakat setempat, masjid ini menjadi pusat dakwah dan kegiatan sosial di wilayah Serpong dan sekitarnya.

Nama Al-Ittihad sendiri berarti “persatuan” sebuah makna yang selaras dengan fungsinya sebagai tempat berkumpul berbagai lapisan masyarakat, dari petani hingga pedagang, dari generasi tua hingga muda.

Arsitekturnya unik. Menggabungkan gaya tradisional dan modern, masjid ini memiliki kubah besar berwarna hijau zamrud dengan dinding bercorak geometris Islam.

Baca Juga: Polres Karawang Tangkap Pelaku Pembunuhan dan Pemerkosaan Karyawan Minimarket

Di bagian dalam, ornamen kaligrafi menghiasi langit-langit dan mihrab, menciptakan suasana khusyuk yang menenangkan.

Yang membuat masjid ini istimewa adalah keberlanjutan fungsinya.

Selain untuk salat, masjid ini menjadi pusat kegiatan sosial dan kemanusiaan, seperti santunan anak yatim, pengajian ibu-ibu, hingga kajian remaja.

Masjid Al-Ittihad menunjukkan bahwa di tengah kemajuan zaman, masjid tetap bisa menjadi ruang pertemuan spiritual dan sosial yang inklusif.


3. Masjid Nurul Falah Lengkong – Warisan Ulama Kampung di Tengah Kota BSD

Siapa sangka di balik megahnya kawasan BSD City, terdapat sebuah masjid tua yang penuh sejarah? Itulah Masjid Nurul Falah di Lengkong Wetan,.

yang berdiri jauh sebelum kawasan ini dikenal sebagai pusat bisnis modern.

Baca Juga: Ledakan Keras Merusak Gedung Nucleus Farma di Kota Tangerang, Gedung Pembuatan Obat Itu Seketika Hancur

Masjid ini dibangun oleh para ulama kampung pada awal abad ke-20 sebagai tempat dakwah dan belajar agama.

Bangunannya awalnya hanya berupa panggung kayu sederhana, namun tetap ramai oleh jamaah.

Kini, Masjid Nurul Falah telah direnovasi, tetapi struktur pondasi dan sebagian kayu aslinya masih dipertahankan.

Baca Juga: Pemangkasan TKD: Sumbar Desak Pemerintah Pusat Bayar Gaji ASN dan PPPK Daerah

Di dindingnya, tergantung foto-foto tokoh ulama Lengkong tempo dulu—pengingat akan perjuangan mereka dalam menyebarkan ajaran Islam dengan sabar dan damai.

Setiap Ramadan, masjid ini menjadi pusat kegiatan keagamaan masyarakat sekitar. Mulai dari tadarus, buka bersama, hingga pengajian lintas generasi.

Di sinilah terlihat bagaimana tradisi lama dan modernitas bisa hidup berdampingan secara harmonis.

Baca Juga: TKD Dipangkas, Sejumlah Pemda Terancam Gagal Bayar TPP PNS dan PPPK

4. Masjid Al-Mujahidin – Jejak Perlawanan dan Spirit Kebangkitan

Berbeda dari masjid lain, Masjid Al-Mujahidin di Pamulang memiliki kisah heroik yang jarang diketahui.

Dibangun sekitar tahun 1940-an, masjid ini dulunya menjadi tempat berkumpulnya para pejuang lokal saat masa penjajahan dan awal kemerdekaan.

Nama Al-Mujahidin diambil dari kata “pejuang”—melambangkan semangat warga setempat yang turut berjuang mempertahankan kemerdekaan.

Menurut cerita turun-temurun, masjid ini pernah digunakan sebagai tempat perlindungan dan markas sementara pejuang saat pertempuran melawan penjajah.

Secara arsitektur, masjid ini masih mempertahankan bentuk lamanya. Dinding bata merah tanpa plester, atap limasan, dan jendela kayu besar yang memungkinkan udara masuk bebas.

Di bagian dalam terdapat beduk besar dan tiang kayu utama yang konon sudah ada sejak masjid pertama kali dibangun.

Baca Juga: Punya Rencana Liburan ke Sumatra Utara? Kunjungi 5 Tempat ini

Kini, Masjid Al-Mujahidin menjadi simbol semangat juang warga Pamulang. Setiap peringatan Hari Kemerdekaan.

Acara doa dan tahlilan selalu digelar di sini mengingat jasa para pendiri dan pejuang kampung yang pernah berlindung di bawah atapnya.


5. Masjid Raya Bintaro Jaya – Simbol Peradaban Islam Modern di Tangsel

Jika berbicara tentang masjid bersejarah di Tangsel, kita juga tak bisa melewatkan Masjid Raya Bintaro Jaya.

Baca Juga: Mahasiswa dan Dosen UNAIR Bantu Perajin Batik Jetis Kelola Limbah Secara Ramah Lingkungan Lewat Cangkang Kelapa

Meskipun tidak tergolong tua seperti Masjid Jombang atau Lengkong, keberadaannya memiliki nilai sejarah tersendiri dalam perjalanan urbanisasi kota.

Dibangun pada tahun 1999, masjid ini menjadi ikon spiritual kawasan Bintaro, yang dikenal sebagai kota satelit modern.

Arsitekturnya megah dan futuristik, memadukan gaya Timur Tengah dengan sentuhan kontemporer khas Indonesia.

Baca Juga: UBSI Latih Pengurus RT di Tangerang Kuasai Public Speaking untuk Penguatan Peran Sosial

Kubah besar berwarna keemasan menjadi ciri khasnya, sementara area dalamnya luas dan sejuk berkat ventilasi alami.

Tak hanya tempat ibadah, masjid ini juga menjadi pusat kegiatan sosial, pendidikan, dan budaya Islam modern.

Masjid Raya Bintaro menjadi representasi masjid perkotaan yang berhasil menjaga fungsi spiritual tanpa kehilangan nilai estetika.

Ia menjadi titik temu bagi masyarakat urban yang haus akan keseimbangan antara kehidupan duniawi dan ukhrawi.

6. Masjid Nurul Hikmah – Simbol Kesederhanaan di Tengah Hiruk Pikuk Ciputat

Ciputat dikenal sebagai kawasan dengan banyak pesantren dan lembaga pendidikan Islam. Di antara hiruk pikuk itu, Masjid Nurul Hikmah berdiri dengan kesederhanaan yang memikat.

Masjid ini dibangun oleh warga sekitar tahun 1955 dan sejak awal menjadi tempat belajar agama bagi santri dan masyarakat umum.

Baca Juga: Skandal Honorer Siluman di Kabupaten Dompu, Ratusan Nama Fiktif Nyaris Jadi PPPK Paruh Waktu

Uniknya, masjid ini masih mempertahankan arsitektur khas Betawi-Banten, dengan atap limas dan pintu kayu besar tanpa cat.

Di sinilah terlihat harmoni antara arsitektur dan nilai spiritual.

Setiap Ramadan, halaman masjid dipenuhi anak-anak yang belajar mengaji di bawah cahaya lampu kuning, menghadirkan suasana nostalgia masa lalu yang hangat.

Baca Juga: Tampang Iptu Pulung Anggara, Kapolsek Kediri Aniaya Anggota Polres Lombok Barat, Korban Disiram Miras

Masjid Nurul Hikmah menjadi pengingat bahwa kesederhanaan tidak pernah kehilangan maknanya, terutama ketika dijalankan dengan ketulusan hati.


Arsitektur dan Spiritualitas yang Menyatu

Satu hal menarik dari masjid-masjid bersejarah di Tangsel adalah kemampuannya menyatukan

Tangerang Selatan mungkin dikenal sebagai kota modern dengan gedung pencakar langit, pusat perbelanjaan, dan hunian elite yang tersebar dari Bintaro hingga BSD.

Baca Juga: Chalisa Hasibuan, Santri Al-Mukhlisin Sibuhuan Raih Juara 1 MQK Internasional Bidang Tafsir

Namun di balik citra urban itu, terdapat sisi lain yang lebih tenang dan berakar kuat pada sejarah: jejak dakwah Islam yang telah berlangsung selama ratusan tahun.

Jejak itu terekam jelas dalam keberadaan masjid-masjid tua yang tersebar di berbagai penjuru Tangsel.

Bukan hanya tempat ibadah, masjid-masjid ini adalah saksi hidup perjalanan spiritual dan sosial masyarakat dari masa ke masa.

Arsitekturnya yang khas, kisah perjuangan di balik pembangunannya, dan nilai-nilai yang diwariskan menjadikan masjid-masjid ini bukan sekadar bangunan suci

Melainkan warisan budaya dan sejarah yang layak dijaga.***