POJOKSATU.id -Polusi udara kembali jadi sorotan di wilayah Tangerang Selatan dan Depok.

Dua kawasan padat penduduk di selatan Jakarta ini tercatat memiliki kualitas udara paling buruk dalam beberapa hari terakhir.

Berdasarkan hasil pemantauan indeks kualitas udara pada Selasa (21/10/2025), kedua wilayah itu masuk dalam kategori “tidak sehat”.

Baca Juga: BRIN Disebur Sudah Ajukan Rencana Pengalihan Jalan Puspitek Sejak 2024

Kondisi ini tentu mengkhawatirkan, apalagi bagi masyarakat yang setiap hari beraktivitas di luar ruangan.

Peneliti dari Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, Ardhi Adhary, menjelaskan bahwa tingginya tingkat polusi di Tangsel dan Depok bukanlah tanpa sebab.

Menurutnya, faktor utama yang memengaruhi adalah kedekatan dua kota tersebut dengan kawasan industri besar.

Baca Juga: Bikin Kaget, Park Bom 2NE1 Umumkan Gugat Bos YG Entertainment, Tuding Yang Hyun Suk Menipu dan Menggelapkan Hasil Jerih Payahnya

“Dekat dengan lokasi industri seperti banyaknya pabrik menjadi salah satu penyebab tingginya polusi udara di sana,” ujar Ardhi.

Selain aktivitas industri, faktor lain yang turut memperparah kondisi udara adalah padatnya kendaraan dan minimnya ruang terbuka hijau (RTH).

Aktivitas harian masyarakat, seperti penggunaan kendaraan pribadi dan proyek konstruksi yang terus berjalan, membuat udara semakin dipenuhi partikel halus berbahaya atau PM2.5.

Baca Juga: One by IFG, Semudah Sentuhan, Proteksi Finansial Kini Milik Semua Kalangan, Proses Klaim Lebih Cepat

Partikel ini berukuran sangat kecil, bahkan mampu menembus saluran pernapasan hingga paru-paru.

Menurut Ardhi, kondisi geografis juga menjadi salah satu faktor yang memperburuk situasi.

Tangerang Selatan dan Depok berada di wilayah cekungan yang cenderung menahan polutan di udara, terutama ketika cuaca sedang stabil atau tidak ada hembusan angin kuat.

Akibatnya, polusi yang dihasilkan kendaraan, industri, maupun aktivitas manusia lainnya menjadi terperangkap di atmosfer bawah dan sulit untuk tersebar.

“Udara yang kotor tidak hanya disebabkan satu faktor, tapi merupakan kombinasi dari berbagai aktivitas manusia dan kondisi alam.

Baca Juga: Hasil Kunjungan Dedi Mulyadi di BI, Kas Jabar Rp 3,8 Triliun Bentuk Giro, Tak Ada Uang Mengendap

Di Tangsel dan Depok, aktivitas industri, transportasi, serta cuaca yang kering dan minim angin membuat polusi bertahan lebih lama,” jelasnya.

Dari pantauan yang dilakukan BRIN, indeks kualitas udara di Tangsel dan Depok dalam dua pekan terakhir menunjukkan tren peningkatan konsentrasi partikel PM2.5 yang cukup signifikan.

Angkanya bahkan menembus ambang batas aman yang ditetapkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Baca Juga: Sasaeng Asal Tiongkok yang Coba Masuk ke Rumah Jungkook BTS Mendapatkan Penangguhan TuntutanTuntutannya Ditangguhkan

Kondisi ini membuat warga diimbau untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan dan menggunakan masker ketika bepergian.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Tangerang Selatan, dalam keterangannya, juga menegaskan bahwa pihaknya telah melakukan langkah-langkah mitigasi untuk menekan polusi udara.

Salah satunya dengan mendorong penggunaan transportasi ramah lingkungan serta memperluas ruang hijau di wilayah perkotaan.

Baca Juga: Prediksi Skor Lille vs PAOK, 24 Oktober: Hasil Akhir, Statistik, Susunan Pemain, Bintang Timnas Indonesia Starter?

Namun, diakui bahwa upaya tersebut membutuhkan waktu dan kerja sama semua pihak.

“Kita tidak bisa hanya menyalahkan industri, tapi juga harus mulai mengubah kebiasaan masyarakat. Penggunaan kendaraan pribadi sangat tinggi, itu juga menyumbang polusi besar,” ujarnya.

Warga pun mulai merasakan dampak langsung dari kualitas udara yang memburuk. Beberapa warga mengaku mengalami gangguan pernapasan ringan seperti batuk dan tenggorokan kering.

Sejumlah sekolah bahkan mulai mengingatkan siswa untuk menggunakan masker saat berangkat maupun pulang sekolah.

Situasi ini menandakan bahwa masalah polusi udara di kawasan urban seperti Tangsel dan Depok tidak bisa dianggap sepele.

BRIN menilai, dibutuhkan kebijakan lintas daerah karena sumber polusi udara tidak mengenal batas administratif. “Udara tidak mengenal batas kota.

Baca Juga: Sasaeng Asal Tiongkok yang Coba Masuk ke Rumah Jungkook BTS Mendapatkan Penangguhan TuntutanTuntutannya Ditangguhkan

Kalau satu daerah mengeluarkan polutan, daerah lain pasti ikut terpengaruh,” tegas Ardhi.

Meski demikian, harapan tetap ada. BRIN bersama sejumlah lembaga lingkungan terus melakukan penelitian untuk mencari solusi yang lebih efektif dalam menekan emisi udara.

Upaya seperti penghijauan massal, pembatasan kendaraan berbahan bakar fosil, dan pengawasan industri terus didorong agar udara di wilayah perkotaan bisa kembali bersih dan sehat.

Baca Juga: Prediksi Skor GA Eagles vs Aston Villa, 23 Oktober: Hasil Pertandingan, Analisis Taktik dan Susunan PemainBaca Juga: Prediksi Skor GA Eagles vs Aston Villa, 23 Oktober: Hasil Pertandingan, Analisis Taktik dan Susunan Pemain

Untuk saat ini, masyarakat diimbau tetap waspada terhadap kualitas udara. Bagi mereka yang memiliki penyakit pernapasan seperti asma, disarankan untuk menghindari aktivitas berat di luar rumah dan memperbanyak konsumsi air putih.

Pemerintah daerah juga diharapkan lebih gencar melakukan sosialisasi mengenai dampak polusi udara terhadap kesehatan, terutama bagi anak-anak dan lansia yang lebih rentan.

Tangsel dan Depok kini menjadi peringatan nyata bahwa kemajuan kota tidak boleh mengorbankan kualitas lingkungan.

Baca Juga: Dari Garut untuk Umat, STAI Al Musaddadiyah Tepat jadi Pilihan Pendidikan Tinggi, Lahirkan Ribuan Lulusan Berakhlak dan Berilmu

Ketika langit mulai tampak kelabu dan udara terasa sesak, itulah tanda bahwa alam sedang menagih tanggung jawab kita.***