POJOKSATU.id, TANGSEL - Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Tangerang Selatan Wahyunoto Lukman menyebut polusi udara di Tangsel disebabkan kebiasaan buruk membakar sampah.

Menurut Wahyu, polusi udara yang muncul sejak sebulan terakhir terjadi karena sejumlah faktor dan aktivitas masyarakat.

Polusi di Tangsel diakibatkan dari emisi gas buang kendaraan, aktifitas pabrik industri, dan pembakaran sampah ilegal.

Baca Juga: Tak Setuju Kualitas Udara Tangsel Kian Memburuk, Kadis LH : Seharusnya Ada Indikator Resmi

"Maka kami juga menghimbau agar warga semua bersama-sama mengurangi penggunaan kendaraan transportasi pribadi, tidak membakar sampah, mengurangi intensitas penggunaan AC, kulkas, dan pendingin lain yang menggunakan freon," kata Wahyu, Jumat (11/8/2023).

Wahyu juga menyinggung perihal aplikasi pengukur kualitas udara NafasIDN tak bisa dijadikan patokan.

Ia justru menduga indikator tersebut sengaja menarasikan udara di Tangsel buruk hanya untuk mengambil keuntungan semata.

Baca Juga: Yenny Wahid Puji Duet Anies-AHY Paling Top, Demokrat Malah Bilang Yenny Tak Cocok dengan Anies

"Bahwa ada pihak yang memang bisa mendapatkan profit atau keuntungan melalui aplikasi yang mereka adakan dengan konten menarik perhatian publik. Tanpa perlu mempertanggungjawabkanya kembali kepada publik," ungkapnya.

Sebelumnya, berdasarkan hasil pemantauan Nafas selama bulan Juli 2023, Kecamatan Serpong, Tangerang Selatan, menjadi lokasi paling berpolusi di Indonesia dengan rata-rata PM2.5 yang dihasilkan 80 µg/m³, ditandai kode warna merah atau tidak sehat untuk semua orang.

Sementara di urutan kedua wilayah paling berpolusi ditempati oleh Tarumajaya, Bekasi (79 µg/m³); diikuti Parung Panjang, Bogor (70 µg/m³); Babakan, Tangsel (70 µg/m³); dan Bedahan, Depok (68 µg/m³).***